Sabtu, 06 Jun 2026 20:26 WIB

Gubes Unair Bongkar Biang Kerok Pelemahan Rupiah dan Strategi Penyelamatannya

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah. (Foto: Gemini AI)
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah. (Foto: Gemini AI)

jatimnow.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih mengalami tekanan hebat. Dimana mata uang Garuda dilaporkan anjlok dan menembus level psikologis Rp17.600 per dolar AS. Pelemahan ini mencatatkan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan kinerja paling tertekan di kawasan Asia Tenggara.

Merespons fenomena tersebut, Guru Besar ekonomi moneter Universitas Airlangga (Unair), Prof. Rahma Gafmi membedah akar permasalahan yang memicu tren negatif ini. Ia menyebut pelemahan rupiah merupakan imbas dari kombinasi ketidakpastian pasar akibat badai global dan kerentanan domestik.

Baca Juga: Rupiah Tertekan Dolar AS, Pakar Beberkan Tips Aman Kelola Uang

"Dalam dinamika nilai tukar saat ini, faktor global memiliki bobot pengaruh dominan sekitar 70 hingga 80 persen terhadap tekanan rupiah. Faktor domestik lebih berperan sebagai amplifier (penguat dampak) di tengah badai eksternal tersebut," jelas Prof. Rahma.

Menurut Rahma, eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang memanas telah mengganggu kelancaran logistik di Selat Hormuz.

Kondisi ini secara langsung memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Sebagai negara net-importir minyak, beban Indonesia menjadi berlipat ganda karena harus membakar lebih banyak cadangan dolar AS demi memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri.

Di sisi lain, kebijakan bank sentral AS (The Fed) juga menjadi pukulan telak. Tingginya angka inflasi di Amerika Serikat membuat ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga The Fed memudar.

Hal ini memicu kepanikan investor asing yang beramai-ramai menarik modalnya (capital outflow) dari negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk dipindahkan ke instrumen aset aman (safe haven) di AS.

Dari sisi domestik, sentimen negatif turut membayangi. Pelaku pasar tengah menyoroti potensi pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang tersedot untuk subsidi energi.

Baca Juga: Rakyat Desa Memang Tidak Memegang Dollar, Tetapi Tetap Menanggung Dampaknya

Tekanan ini diperparah oleh siklus musiman pada triwulan II-2026, di mana kebutuhan korporasi terhadap dolar AS melonjak drastis untuk keperluan pembayaran dividen dan utang luar negeri.

"Pasar sangat membenci ketidakpastian. Ketika disiplin fiskal diragukan akibat subsidi yang membengkak, tekanan terhadap rupiah otomatis akan berlipat ganda," tegas pakar ekonomi moneter tersebut.

Di tengah situasi genting ini, Rahma mengapresiasi langkah intervensi Bank Indonesia (BI) di pasar valuta asing. Ia menilai kehadiran bank sentral sangat krusial untuk menjaga stabilitas dan mencegah skenario terburuk jatuhnya nilai tukar secara liar (free fall) seperti pada krisis moneter 1998.

Instrumen seperti swap, forward, hingga Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dinilai menjadi tulang punggung yang efektif karena mampu meredam kepanikan pasar (orderly market) tanpa harus menguras cadangan devisa secara tunai besar-besaran.

Baca Juga: Aturan Baru BI, Beli Dolar di Atas Dua Puluh Lima Ribu Dolar Wajib Pakai Dokumen

"Jika indikator keberhasilannya adalah menahan rupiah agar tidak melemah sama sekali, tentu intervensi BI saat ini belum terlihat efektif. Namun, untuk menjaga pasar tetap teratur dan mencegah kepanikan massal, intervensi tersebut sangat krusial," urainya.

Rahma mengingatkan pemerintah bahwa obat penawar untuk menguatkan rupiah tidak bisa sekadar mengandalkan intervensi moneter dari BI. Pembenahan struktural mutlak diperlukan.

"Stabilitas nilai tukar yang kokoh lahir dari sektor riil yang produktif. Pemerintah harus memperkuat sektor riil dan menggenjot aliran investasi asing langsung (FDI). Rupiah tidak akan kehilangan harga dirinya jika transaksi berjalan (current account) kita ditopang oleh produktivitas nyata yang kuat," pungkasnya.

Editor : Dadang Kurnia
Berita Terbaru

Kakak Beradik Terseret Ombak di Pantai Payangan Jember, Satu Ditemukan Tewas

Kedua korban dilaporkan hilang terseret ombak saat berwisata bersama keluarga.

Puncak Arus Balik Idul Adha 2026, Daop 8 Surabaya Layani 284 Ribu Penumpang

Puncak arus balik libur panjang Idul Adha 2026 bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila. KAI Daop 8 Surabaya catat lonjakan tembus 284 ribu penumpang. Simak data lengkapnya di sini.

Jambret iPhone Turis Jerman di Kota Lama Surabaya Ditembak Polisi

Polisi menangkap pelaku jambret iPhone milik wisatawan asal Jerman di Kota Lama Surabaya. Pelaku dilumpuhkan karena melawan saat ditangkap.

Kapolres dan Dandim 0820 Probolinggo Terima Gelar Warga Kehormatan Suku Tengger

Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat pada Malam Resepsi Yadnya Kasada di Pendopo Agung Desa Ngadisari.

Tabrak Pohon, Truk Pengangkut Ikan Asal Lamongan Terguling di JLS Tulungagung

Truk dalam perjalanan menuju Prigi Trenggalek, pengemudi dan penumpang alami luka serius.

Peringatan Hari Raya Waisak di Tulungagung, Ajak Umat Bersumbangsih Untuk Negeri

Puluhan umat Buddha mengikuti prosesi detik-detik peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak di Vihara Buddha Loka Tulungagung.