National Hospital Kenalkan Operasi Bypass Koroner di Kediri, Perpanjang Harapan Hidup Pasien
- Penulis : Yanuar D
- | Rabu, 06 Mei 2026 17:20 WIB
jatimnow.com - National Hospital Surabaya melalui layanan Chevalmed; Center for Heart, Vascular and Lung Surgery menggelar kegiatan edukasi kesehatan bertajuk: Jalan Baru untuk Jantung yang Lebih Sehat di Kediri, Rabu (6/5/2026). Acara ini menghadirkan Dokter Spesialis Bedah Kardiotoraks dan Pembedahan Vaskular, dr. Edwin Yosef Widjaja, M.Ked.Klin.Sp.BTKV, Subsp. JD (K), FIATCVS, FICS, yang membahas perkembangan terbaru operasi bypass koroner.
Dalam pemaparannya, dr. Edwin menjelaskan bahwa operasi bypass koroner merupakan tindakan penyambungan pembuluh darah jantung yang tersumbat menggunakan pembuluh darah baru. Prosedur ini umumnya dilakukan pada pasien dengan penyakit jantung koroner yang memiliki banyak sumbatan atau kondisi yang tidak memungkinkan ditangani dengan pemasangan ring (stent).
Manfaatnya, memungkinkan pasien untuk kembali melakukan aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman, serta memperpanjang harapan hidup dan mengurangi risiko serangan jantung di masa depan.
“Bypass ini termasuk gold standard untuk kasus tertentu. Efektivitasnya dilihat dari ketahanan pembuluh darah baru, yang bisa bertahan 10 hingga 15 tahun, bahkan sampai 20 tahun pada kondisi tertentu,” jelasnya.
Namun, ia menekankan bahwa keberhasilan jangka panjang sangat bergantung pada pola hidup pasien setelah operasi. Pola makan rendah lemak, kontrol gula darah bagi penderita diabetes, serta aktivitas fisik teratur menjadi kunci utama menjaga fungsi pembuluh darah baru.
Untuk aktivitas fisik, dr. Edwin merekomendasikan olahraga ringan seperti jalan cepat (brisk walking) selama 30 menit per hari, minimal lima kali seminggu. Aktivitas ini dinilai efektif dan aman untuk menjaga kesehatan jantung dibandingkan olahraga berat yang belum tentu sesuai untuk semua usia.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa penyakit jantung koroner sebenarnya sudah mulai berkembang sejak usia muda, bahkan sejak usia 20-30 tahun, akibat penumpukan plak di pembuluh darah. Karena itu, pencegahan harus dilakukan sedini mungkin.
Terlebih di Indonesia data menunjukkan bahwa penderita jantung koroner lebih muda (40-60 tahuh) dibandingkan pasien di Singapura (70-90 tahun), bahkan Amerika (50-70 tahun).
“Yang penting dijaga adalah pola makan dan faktor risiko seperti diabetes serta hipertensi. Kalau sudah terdiagnosis, harus rutin kontrol dan minum obat,” ujarnya.
Ia juga meluruskan anggapan masyarakat terkait istilah “angin duduk” yang sering dikaitkan dengan masuk angin. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan mitos, karena gejala nyeri atau ketidaknyamanan di dada sering kali berkaitan dengan gangguan jantung. Dia meminta masyarakat segera periksa ke dokter, khususnya di National Hospital yang memiliki tim bedah jantung terbaik serta didukung oleh fasilitas yang lengkap.
“Kalau ada rasa tidak nyaman di dada, sebaiknya segera periksa ke dokter. Lebih baik kita memastikan lebih awal apakah itu penyakit jantung atau bukan,” tegasnya.
Melalui kegiatan ini, pihaknya berharap kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini penyakit jantung semakin meningkat, sehingga risiko komplikasi dapat dicegah sejak awal.
Editor : Yanuar D