Rabu, 22 Jul 2026 17:52 WIB

Dolar Tembus Rp17.000, Gapasdap: Tarif Penyeberangan Harus Naik

Beban operasional kapal membengkak drastis akibat kurs rupiah yang makin terpuruk di level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). (Foto: Ali Masduki/jaitmnow.com)
Beban operasional kapal membengkak drastis akibat kurs rupiah yang makin terpuruk di level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). (Foto: Ali Masduki/jaitmnow.com)

jatimnow.com - Keberlangsungan industri transportasi laut nasional kini berada di titik kritis. Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) melaporkan beban operasional kapal membengkak drastis akibat kurs rupiah yang makin terpuruk di level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Kondisi tersebut kian terjepit lantaran harga minyak dunia masih bertengger di atas US$107 per barel. Padahal, tarif penyeberangan yang menjadi napas pendapatan perusahaan belum mengalami perubahan dalam kurun waktu lama.

Baca Juga: Tarif Tertahan Sejak 2019, Operator Kapal Penyeberangan Kian Terjepit

Ketua Umum Gapasdap, Khoiri Soetomo, menyebut pelemahan nilai tukar ini memukul telak sektor perawatan armada. Mayoritas komponen suku cadang kapal, alat keselamatan, hingga perlengkapan teknis masih bergantung pada barang impor yang harganya terkerek kurs dolar.

"Pelemahan rupiah sangat terasa dampaknya. Hampir seluruh suku cadang kapal dipengaruhi dolar, termasuk biaya pengedokan," ujar Khoiri, Senin (4/5/2026).

Menurut Khoiri, struktur tarif angkutan penyeberangan sudah tidak masuk akal. Merujuk data Harga Pokok Produksi (HPP) tahun 2019 saja, tarif yang berlaku kala itu sebenarnya sudah defisit 31,8 persen dari kebutuhan biaya nyata. Angka kerugian tersebut dipastikan meluas seiring merosotnya nilai tukar saat ini.

Baca Juga: Dolar Meroket, Gapasdap Desak Tarif Penyeberangan Naik

Ketimpangan ini menciptakan dilema besar. Pemerintah tetap mewajibkan operator kapal memenuhi standar keselamatan dan kenyamanan penumpang tanpa kompromi. Namun, di saat yang sama, pundi-pundi perusahaan tidak sanggup lagi menutup biaya operasional yang terus mendaki.

"Keselamatan pelayaran itu butuh modal. Tidak mungkin standar itu dipenuhi jika tarif tertinggal jauh dari realitas biaya di lapangan," tegas Khoiri.

Sebagai langkah darurat, DPP Gapasdap telah melayangkan surat resmi kepada Menteri Perhubungan pada 20 April lalu. Mereka mendesak pemerintah segera merestui penyesuaian tarif guna menjaga denyut nadi pelayanan transportasi antar-pulau.

Baca Juga: Dolar AS Tembus Rp18.038, Rupiah Kian Tertekan

Jika kenaikan tarif sulit direalisasikan dalam waktu dekat, Gapasdap menyodorkan solusi alternatif berupa insentif. Mereka berharap pemerintah memberikan relaksasi berupa pengurangan biaya kepelabuhanan, keringanan pajak, hingga penyesuaian Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Khoiri juga menyoroti perlunya dukungan bunga perbankan, serupa dengan perlakuan istimewa yang sering diterima sektor angkutan udara. Tanpa langkah konkret dari pemerintah, ia khawatir perusahaan angkutan penyeberangan bakal gugur satu per satu, yang ujungnya merugikan masyarakat luas sebagai pengguna jasa.

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Target 100 GW dan Bottleneck Energi Surya Indonesia

Hingga hari ini, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia baru sedikit melampaui 1 gigawatt (GW).

5 Fakta Anak Angkat dan Pacarnya Bunuh Ayah di Nganjuk, Ada Cinta Tak Direstui

Penyidikan juga mengungkap pembunuhan pria oleh anak angkatnya itu diduga telah dirancang beberapa hari sebelumnya.

Oknum Polisi di Blitar Ditangkap Saat Pesta Narkoba

Polisi masih melakukan pendalaman terkait kasus ini, oknum anggota Polres Blitar Kota sudah dilakukan penahanan.

Wabup Lamongan Harapkan MPLS Jadi Pijakan Menuju Pendidikan Inklusif

MPLS Ramah merupakan pondasi awal bagi peserta didik dalam membangun karakter, semangat belajar, dan kesiapan menghadapi proses pendidikan.

Prabowo Hadiri Panen Raya Tebu di Malang, Ratusan Petugas Jaga Ketat Rute VVIP

Panen raya dipusatkan di lahan tebu kawasan Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh, Dusun Krajan, Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis.

Beraksi di 20 TKP, Pasangan Jambret Asal Malang Ditangkap Polisi Tulungagung

Sasar pedagang yang hendak pergi ke pasar, salah satu korban meninggal dunia usai dijambret tersangka.