Sabtu, 06 Jun 2026 06:50 WIB

Antara Disrupsi, Ketimpangan, dan Harapan Transformasi

Refleksi Pendidikan Nasional di Hari Pendidikan Nasional 2026

Hardiknas 2026 adalah momen tepat untuk memperkuat komitmen kita bersama: mengubah tantangan menjadi peluang, dan memastikan transformasi pendidikan menyentuh setiap sudut Indonesia. (Foto ilustrasi: Gemini/jatimnow.com)
Hardiknas 2026 adalah momen tepat untuk memperkuat komitmen kita bersama: mengubah tantangan menjadi peluang, dan memastikan transformasi pendidikan menyentuh setiap sudut Indonesia. (Foto ilustrasi: Gemini/jatimnow.com)

jatimnow.com - Hari Pendidikan Nasional adalah momentum refleksi. Sebuah “gerak mundur untuk melompat lebih jauh ke depan.” Dalam tradisi akademik, refleksi bukan nostalgia, tetapi evaluasi kritis untuk merumuskan masa depan yang lebih bermakna.

Sejak kemerdekaan, pendidikan Indonesia dibangun dari fondasi yang rapuh: ditandai dengan kekurangan guru, minim infrastruktur, dan sistem yang belum mapan. Namun, tujuh dekade kemudian, problem klasik itu belum sepenuhnya selesai.

Baca Juga: Inspirasi Schools Bangun Pembelajaran Global Berbasis Karakter

Hanya berubah wajah dalam lanskap yang lebih kompleks. Kita kini menghadapi paradoks: akses pendidikan meningkat, tetapi kualitas dan relevansinya masih tertinggal. Data menunjukkan ketimpangan mutu dan capaian belajar masih signifikan, bahkan dalam standar global seperti PISA.

Disrupsi teknologi mempercepat krisis sekaligus membuka peluang. Studi mutakhir menunjukkan bahwa negara-negara Global South, termasuk Indonesia, mengalami ekspansi pendidikan tinggi yang pesat, namun tidak diimbangi kualitas akibat rasio dosen-mahasiswa yang timpang dan keterbatasan sumber daya.

Bahkan, dalam konteks kecerdasan buatan, riset menunjukkan sistem AI global belum sepenuhnya memahami konteks lokal Indonesia, menandakan lemahnya ekosistem pengetahuan berbasis budaya kita sendiri.

Problem pendidikan kita bukan sekadar teknis, tetapi struktural. Kurikulum sering berubah tanpa konsistensi arah, kebijakan kerap reaktif, dan pendidikan terlalu lama diposisikan sebagai instrumen administratif, bukan proyek peradaban. Kita terjebak pada logika kuantitas, yaitu berapa banyak sekolah, berapa banyak lulusan. Kita seolah lupa pada kualitas manusia yang dihasilkan.

Lebih jauh lagi, pendidikan kita masih mengalami “ketertinggalan epistemik”: ketergantungan pada pengetahuan global tanpa kemampuan memproduksi pengetahuan sendiri yang kontekstual. Padahal Indonesia memiliki keragaman budaya dan bahasa yang luar biasa, yang justru menjadi tantangan sekaligus potensi besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Baca Juga: Unusa Gandeng KCGI Jepang Garap Sistem Kuliah Berbasis AI

Namun kabar baiknya adalah, bahwa di tengah kompleksitas ini, harapan tetap terbuka. Dan menurut saya, transformasi pendidikan harus dimulai dari tiga agenda strategis berikut.

Pertama, reorientasi tujuan pendidikan: dari sekadar menghasilkan tenaga kerja menjadi membentuk manusia Merdeka, yaitu berpikir kritis, berkarakter, dan adaptif.

Kedua, penguatan kualitas guru dan dosen: bukan hanya melalui sertifikasi administratif, tetapi melalui ekosistem pembelajaran berkelanjutan berbasis komunitas profesional dan teknologi.

Ketiga, kedaulatan pengetahuan: dengan cara mendorong riset berbasis konteks lokal yang mampu menjawab persoalan bangsa, sekaligus berkontribusi pada peradaban global.

Baca Juga: Mahasiswa ITS Ciptakan Kakarobot, Robot Edukasi Tanpa Gawai untuk Anak 3T

Hardiknas 2026 seharusnya menjadi titik balik. Kita tidak kekurangan kebijakan, tetapi sering kekurangan keberanian untuk konsisten dan berpihak pada kualitas. Pendidikan tidak boleh lagi dikelola sebagai rutinitas birokrasi, tetapi harus dikelola sebagai investasi peradaban jangka panjang.

Jika refleksi ini kita jalankan dengan gagah dan berani, maka insyaalloh pendidikan Indonesia tidak hanya akan bertahan di tengah disrupsi, tetapi mampu memimpin perubahan. Sebab masa depan bangsa ini tidak ditentukan oleh seberapa banyak gedung sekolah yang kita bangun, tetapi ditentukan oleh seberapa dalam kita membangun manusia di dalamnya.

Oleh: Ulul Albab
Ketua ICMI Jawa Timur

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Kakak Beradik Terseret Ombak di Pantai Payangan Jember, Satu Ditemukan Tewas

Kedua korban dilaporkan hilang terseret ombak saat berwisata bersama keluarga.

Puncak Arus Balik Idul Adha 2026, Daop 8 Surabaya Layani 284 Ribu Penumpang

Puncak arus balik libur panjang Idul Adha 2026 bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila. KAI Daop 8 Surabaya catat lonjakan tembus 284 ribu penumpang. Simak data lengkapnya di sini.

Jambret iPhone Turis Jerman di Kota Lama Surabaya Ditembak Polisi

Polisi menangkap pelaku jambret iPhone milik wisatawan asal Jerman di Kota Lama Surabaya. Pelaku dilumpuhkan karena melawan saat ditangkap.

Kapolres dan Dandim 0820 Probolinggo Terima Gelar Warga Kehormatan Suku Tengger

Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat pada Malam Resepsi Yadnya Kasada di Pendopo Agung Desa Ngadisari.

Tabrak Pohon, Truk Pengangkut Ikan Asal Lamongan Terguling di JLS Tulungagung

Truk dalam perjalanan menuju Prigi Trenggalek, pengemudi dan penumpang alami luka serius.

Peringatan Hari Raya Waisak di Tulungagung, Ajak Umat Bersumbangsih Untuk Negeri

Puluhan umat Buddha mengikuti prosesi detik-detik peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak di Vihara Buddha Loka Tulungagung.