Umsura Kukuhkan Guru Besar Keperawatan, Usung Konsep Holistik
- Penulis : Ni'am Kurniawan
- | Kamis, 30 Apr 2026 16:15 WIB
jatimnow.com - Dunia medis Indonesia saat ini sedang terjebak dalam paradigma yang mereduksi pasien hanya sebagai objek biologis. Padahal, kesehatan mental remaja dan dukungan psikososial menjadi kunci utama penyembuhan yang sering terabaikan di balik meja administrasi rumah sakit.
Fenomena tersebut menjadi inti orasi ilmiah Prof. Dr. Mundakir, S.Kep, Ns, M.Kep saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Kamis (30/4/2026).
Baca Juga: Stikes Maharani Malang Edukasi Pelajar Lawan Cyberbullying
Di hadapan sivitas akademika di At-Tauhid Tower, Mundakir membongkar kegagalan sistem kesehatan yang lebih mendewakan efisiensi digital ketimbang keselamatan batin pasien.
Mundakir membeberkan fakta pahit. Kemajuan teknologi medis tak berbanding lurus dengan kesejahteraan mental. Mengutip data WHO 2025, satu dari enam anak muda dunia menderita kesepian kronis.
Di tanah air, angkanya mengerikan. Sekitar 61 persen remaja yang depresi terlintas pikiran mengakhiri hidup, namun hanya segelintir yang berani mencari bantuan profesional.
"Pasien menderita bukan cuma karena penyakitnya, tapi karena rasa tidak pasti dan minimnya dukungan selama perawatan," ujar Mundakir. Menurutnya, sistem saat ini gagal menjangkau mereka yang paling rentan.
Dilema ini semakin parah karena kondisi tenaga kesehatan yang kelelahan. Angka burnout perawat di Indonesia menyentuh 37,5 persen, tiga kali lipat dari rata-rata global.
Baca Juga: Cegah Depresi Pelajar, Psikolog Desak Sekolah Rombak Total Sistem Well-being
Mundakir menyoroti sistem informasi rumah sakit yang memaksa perawat lebih lama menatap layar komputer untuk input data daripada berinteraksi langsung dengan pasien.
Kesenjangan tersebut coba ia jembatani melalui kerangka kerja orisinal bernama KT-PSIKO (Knowledge Translation Psikososial). Inovasi ini memangkas waktu tunggu riset medis yang biasanya butuh belasan tahun agar bisa diterapkan langsung di bangsal perawatan.
Solusi yang ditawarkan Mundakir bertumpu pada tiga hal: budaya lokal, kekuatan keluarga, dan spiritualitas. Di Indonesia, kesembuhan bukan urusan personal semata.
Baca Juga: Mendiktisaintek Batasi Kuota PTN hingga Juli, Beri Ruang untuk Kampus Swasta
"Keluarga adalah sistem pendukung utama. Sakit juga sering dimaknai sebagai perjalanan spiritual. Ketenangan batin lewat doa atau zikir itulah yang memberikan harapan bagi pasien," urainya.
Sebagai langkah konkret, Guru Besar Umsura itu mendesak adanya perombakan kurikulum keperawatan dan penetapan standar prosedur operasional (SOP) psikososial di seluruh rumah sakit.
Ia ingin aspek humanistik tidak lagi menjadi tempelan, melainkan indikator utama mutu pelayanan kesehatan di masa depan.
Editor : Ali MasdukiURL : https://jatimnow.id/baca-84162-umsura-kukuhkan-guru-besar-keperawatan-usung-konsep-holistik