FTA Indonesia–EAEU: Peluang atau Jebakan di Tengah Geopolitik Global
- Penulis : Ali Masduki
- | Jumat, 24 Apr 2026 08:22 WIB
jatimnow.com - FTA Indonesia–EAEU terdengar seperti kabar baik. Namun, dalam dunia yang penuh sanksi, pagar tarif, dan perang koridor dagang, diskon bisa berubah menjadi jebakan. Pertanyaannya bukan apakah pintu Eurasia terbuka. Pertanyaannya: siapa yang sebenarnya akan lewat lebih dulu?
Ada kabar yang di telinga birokrasi terdengar seperti bunyi lonceng kemenangan: Rusia menerima tarif nol dengan Indonesia dalam kerangka perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU). Pemerintah Rusia pada 21 April 2026 menyetujui ratifikasi perjanjian tersebut.
Baca Juga: Eskalasi Konflik AS-Israel vs Iran, Dampak Geopolitik dan Ekonomi bagi Indonesia
Menurut keterangan resmi yang beredar, rezim perdagangan preferensial ini akan mencakup sebagian besar kelompok barang dan menyentuh lebih dari 98 persen nilai perdagangan bilateral Indonesia–Rusia.
Di ruang rapat kementerian, angka-angka seperti ini biasanya diperlakukan layaknya kembang api: terang, riuh, dan cukup untuk membuat semua orang lupa bertanya apa yang sebenarnya sedang terbakar.
Masalah Indonesia sering kali dimulai dari cara negara ini jatuh cinta pada headline. Begitu mendengar kata “zero tariffs”, imajinasi resmi langsung berlari ke satu tempat: pasar baru, ekspor naik, hubungan bilateral menghangat, peluang terbuka.
Padahal, dalam ekonomi internasional, terutama dalam dunia pascasanksi, pascaperang, dan pascapolos, kabar baik hampir selalu datang sambil menyembunyikan pisau di balik punggungnya.
Tarif bisa nol, tetapi risiko bisa seratus. Akses pasar bisa dibuka, tetapi siapa yang paling siap melintasinya belum tentu Indonesia.
Barang bisa dibuat murah, tetapi ongkos politik, logistik, kepatuhan, dan ketergantungan justru bisa menjadi jauh lebih mahal.
Euforia ini perlu ditertibkan sejak awal. Perjanjian ini tidak turun dari langit. Komisi Ekonomi Eurasia telah menyelesaikan perundingan dengan Indonesia pada 10 Juli 2025.
Reuters melaporkan bahwa Indonesia menandatangani perjanjian perdagangan bebas dengan blok EAEU pada Desember 2025, dengan akses preferensial ke 90,5 persen pos tarif EAEU.
Nilai perdagangan Indonesia–EAEU pada 2025 disebut sekitar US$4,4 miliar, dengan ekspor Indonesia sekitar US$1,76 miliar dan impor sekitar US$2,64 miliar. Dengan demikian, ratifikasi Rusia pada April 2026 bukanlah awal cerita, melainkan bab lanjutan menuju implementasi.
Justru karena ini sudah memasuki fase nyata, pertanyaannya harus lebih tajam: apakah Indonesia datang ke perjanjian ini sebagai perancang strategi, atau sekadar pembeli yang girang diberi kupon diskon?
Sebab dunia sekarang bukan dunia yang ramah bagi mereka yang datang tanpa peta. WTO dalam laporan Maret 2026 menegaskan bahwa kenaikan tarif dan ketidakpastian kebijakan dagang telah memperlemah prospek perdagangan global.
IMF juga menilai fragmentasi geoekonomi mendorong negara-negara untuk mendiversifikasi pasar ekspor dan sumber pasok agar tidak tercekik oleh guncangan geopolitik.
Dunia hari ini bukan pasar bebas; ia lebih mirip pasar malam yang separuh tendanya terbakar, separuh lagi dipagari, dan setiap pintu masuk dijaga petugas dengan aturan berbeda.
Dalam situasi seperti itu, mendapat pintu baru ke Eurasia memang penting. Namun hanya negara yang naif yang mengira memiliki pintu baru sama dengan otomatis memiliki masa depan baru.
FTA dengan EAEU seharusnya dibaca sebagai peluang strategis di tengah dunia yang retak, bukan sebagai suvenir diplomatik untuk dipajang di etalase prestasi pemerintah.
EAEU sendiri mencakup Rusia, Belarus, Kazakhstan, Armenia, dan Kyrgyzstan. Ini bukan sekadar soal Rusia, melainkan tentang sebuah ruang Eurasia yang dapat berfungsi sebagai koridor pasar alternatif ketika jalur-jalur dagang lama semakin sesak oleh tarif, sanksi, dan persaingan blok.
Dalam bahasa sederhana: ketika jalan utama macet karena geopolitik, gang-gang samping tiba-tiba menjadi berharga. Namun hanya mereka yang membawa kendaraan layak dan tahu arah yang dapat memanfaatkannya. Sisanya hanya akan tersesat sambil merasa sedang berpetualang.
Dan Indonesia memiliki bakat buruk untuk merasa berpetualang padahal sebenarnya sedang tersesat. Kita terlalu sering menganggap pembukaan pasar sebagai kemenangan, padahal itu hanyalah tes kecerdasan ekonomi.
Soalnya sederhana: apa yang akan kita kirim, apa yang akan kita terima, siapa yang akan untung, dan siapa yang akan terkunci dalam posisi lama? Reuters menyebut sektor yang mungkin diuntungkan mencakup minyak sawit, alas kaki, tekstil, perikanan, karet, furnitur, dan elektronik.
Sekilas daftar ini membangkitkan optimisme. Namun mari jujur: daftar itu juga seperti album lama ekonomi Indonesia, barang berbasis sumber daya, padat karya berupah rendah, dan bernilai tambah tipis.
Jika tidak diubah menjadi strategi naik kelas, maka FTA ini bukan tangga, melainkan eskalator rusak yang membuat kita sibuk bergerak tanpa pernah benar-benar naik.
Inilah penyakit kronis negeri ini: setiap ada pasar baru, yang dibayangkan adalah menambah volume, bukan memperbaiki struktur. Kita lebih cepat menghitung kontainer daripada nilai tambah. Lebih suka ekspor yang ramai daripada industri yang dalam. Senang memotret kapal, tetapi enggan membangun pabrik.
Akibatnya, setiap kesepakatan dagang baru lebih sering menjadi jalan tol bagi komoditas lama, bukan bengkel untuk membongkar mesin ekonomi nasional.
Padahal justru di sinilah medan tempurnya. Sawit harus naik kelas menjadi oleokimia, surfaktan, kosmetik, dan produk pangan olahan. Karet harus berkembang menjadi ban dan komponen industri.
Perikanan harus bergerak ke produk siap olah. Furnitur harus membawa desain. Tekstil dan alas kaki harus beralih dari upah murah ke mutu dan merek. Tanpa itu semua, “tarif nol” hanyalah nama lain dari “ambisi nol”.
Lebih berbahaya lagi, EAEU secara terbuka menyebut barang yang akan mereka dorong ke pasar Indonesia: polimer, pupuk, energi, logam, mesin, gandum, susu bubuk, dan daging halal. Ini menyentuh urat nadi industri dan pangan nasional.
Di sinilah jebakan halus muncul: perdagangan mudah berubah menjadi ketergantungan ketika ia memasok kebutuhan paling mendasar.
Ambil contoh pupuk dan gandum. Akses murah memang menguntungkan, tetapi tanpa strategi substitusi dan peningkatan produktivitas, ia menjadi candu. Ia menenangkan hari ini, tetapi melemahkan esok hari. Indonesia terlalu sering salah membedakan keamanan pasokan dengan ketahanan nasional.
Di sektor energi, risikonya lebih kompleks. Energi bukan sekadar komoditas; ia adalah alat geopolitik. Dalam konteks sanksi Barat terhadap Rusia, persoalan menjadi semakin rumit.
Tarif boleh nol, tetapi pembayaran bisa tersendat. Kontrak sah, tetapi bank ragu. Barang tersedia, tetapi asuransi sulit. Inilah realitas yang tidak muncul dalam seremoni diplomatik.
Tanpa arsitektur transaksi yang aman, FTA ini berisiko menjadi panggung mahal yang hanya bisa dimanfaatkan pemain besar. UMKM akan kesulitan menghadapi kompleksitas kepatuhan dan pembiayaan. Negara membuka gerbang, tetapi yang masuk lebih dulu adalah mereka yang sudah siap.
Di sinilah peran negara diuji. Negara yang serius akan membangun sistem pemanfaatan FTA: pemetaan produk unggulan, mitigasi risiko sanksi, panduan kepatuhan, akses pembiayaan, hingga perlindungan industri domestik. Negara yang tidak serius akan berhenti pada seminar dan jargon.
Ada pula ilusi lain: bahwa peningkatan perdagangan otomatis berarti penguatan ekonomi. Ini keliru. Yang penting bukan volume, tetapi struktur.
Apakah Indonesia naik kelas? Apakah rantai pasok makin dalam? Apakah teknologi meningkat? Jika tidak, maka yang bertambah hanya lalu lintas, bukan martabat ekonomi.
Diversifikasi pasar memang penting, tetapi harus cerdas. Bukan sekadar menyebar ketergantungan. FTA EAEU harus menjadi instrumen lindung nilai (hedging), bukan romantisme geopolitik.
Karena pada akhirnya, FTA hanyalah alat. Ia seperti obeng: di tangan ahli bisa memperbaiki mesin, di tangan amatir bisa merusak segalanya. Pertanyaannya: siapa yang memegangnya?
Jika pemerintah serius, langkahnya harus tegas: fokus pada ekspor bernilai tambah, kaitkan impor dengan penguatan industri domestik, siapkan sistem transaksi aman, lindungi pasar dalam negeri, dan dorong investasi industri.
Ukuran keberhasilan pun harus tepat: bukan sekadar angka perdagangan, tetapi perubahan struktur ekonomi.
Pada akhirnya, FTA Indonesia–EAEU adalah cermin. Ia menunjukkan peluang sekaligus kelemahan. Tarif nol memang manis, tetapi bisa menipu.
Bahaya terbesarnya bukan Rusia, bukan EAEU, bukan sanksi Barat, melainkan kebiasaan lama Indonesia sendiri: merasa maju karena menandatangani, merasa kuat karena angka naik, padahal fondasi tetap rapuh.
Kita terlalu sering mengira menguasai toko, padahal hanya pembeli yang mendapat diskon.
Tarif nol bisa menjadi peluang. Namun jika gagal dimanfaatkan, ia hanya akan menjadi bukti bahwa yang nol bukan sekadar tarif, melainkan keberanian kita untuk benar-benar menjadi negara industri.
Penulis: Albert Agung Wijaya, S.H., M.Han.
Pengamat Pertahanan, Alumnus Pascasarjana UNHAN RI, Alumni GMNI Surabaya
URL : https://jatimnow.id/baca-84002-fta-indonesiaeaeu-peluang-atau-jebakan-di-tengah-geopolitik-global