Siswa Malu Curhat ke Guru BK? Aplikasi Rasaya Jadi Jembatan Curhat Digital
- Penulis : Ali Masduki
- | Sabtu, 21 Mar 2026 14:11 WIB
jatimnow.com - Bagi banyak remaja, ruang Bimbingan Konseling (BK) seringkali menjadi tempat yang mengintimidasi.
Ada tembok tebal bernama rasa malu yang menghalangi siswa untuk jujur mengenai beban pikiran mereka kepada guru.
Baca Juga: Reforma Agraria Dinilai Penting untuk Ketahanan Pangan Nasional
Celah komunikasi inilah yang coba dijembatani oleh Chavel Aiko Ratu, mahasiswa Teknik Informatika Universitas Surabaya (Ubaya).
Lewat tugas akhirnya, Chavel melahirkan Rasaya. Ini bukan sekadar aplikasi ponsel biasa, melainkan sistem informasi terintegrasi yang mampu memotret tren kesehatan mental siswa secara digital.
Menggunakan metode Lexicon-Based Sentiment Analysis, program ini sanggup membedah perasaan siswa, apakah mereka sedang terjebak stres akademik atau mengalami konflik sosial—hanya melalui data yang diinput.
Ide ini bermula saat Chavel melakukan riset di sebuah SMA di Kota Kupang. Ia menemukan fakta bahwa guru seringkali terlambat menyadari gangguan mental siswanya karena minimnya pencatatan yang sistematis.
"Para siswa ternyata malu mengekspresikan perasaan secara langsung. Dampaknya, guru tidak punya gambaran utuh soal kondisi batin anak didiknya," ungkap Chavel.
Di balik tampilan antarmukanya yang sederhana, Rasaya menyimpan mesin pengolah data yang kompleks.
Baca Juga: Stikes Maharani Malang Edukasi Pelajar Lawan Cyberbullying
Chavel merancang algoritma khusus yang divalidasi langsung oleh psikolog anak dan remaja. Validasi ini memastikan hasil analisis sistem tetap akurat dan objektif.
Fitur di dalamnya pun beragam, mulai dari daily mood tracker untuk mencatat emosi harian, hingga fitur 'lapor teman' yang unik.
Fitur terakhir ini memungkinkan sistem mendapatkan data dari berbagai sudut pandang (multi-informan), sehingga potret kondisi emosi siswa tidak bersifat subjektif.
Perjalanan membangun Rasaya diakui Chavel tidaklah instan. Ia menghabiskan waktu tiga bulan hanya untuk memastikan machine learning miliknya bekerja presisi.
Baca Juga: Cara Unik DKV Ubaya Dongkrak Literasi, Visualkan Tokoh Fiksi di Atas Buku
"Jumlah revisinya tidak terhitung. Sangat menantang, tapi saya ingin sistem ini benar-benar bisa diandalkan," tambah mahasiswa peminatan Sistem Informasi Bisnis tersebut.
Bagi pihak sekolah, data dari Rasaya menjadi kompas dalam mengambil kebijakan pendampingan. Guru BK tidak lagi menebak-nebak, melainkan bergerak berdasarkan tren emosi yang terekam secara berkelanjutan di sistem.
Saat ini, Chavel tengah mematangkan Rasaya agar siap digunakan secara massal. Ambisinya sederhana namun berdampak besar, yakni memastikan tidak ada lagi jeritan minta tolong siswa yang terabaikan hanya karena mereka terlalu malu untuk bicara.
Dengan sentuhan teknologi, penanganan kesehatan mental di sekolah kini bisa dilakukan lebih manusiawi dan terukur.
Editor : Ali Masduki