Rabu, 22 Jul 2026 03:22 WIB

Siswa SD di NTT Akhiri Hidup demi Buku, William Yani Wea: Ini Tragedi Pilu

Ketua Umum Serikat Pekerja IMPPI sekaligus tokoh pemuda NTT di Jakarta, William Yani Wea. (Foto: Dok Pribadi/jatimnow.com)
Ketua Umum Serikat Pekerja IMPPI sekaligus tokoh pemuda NTT di Jakarta, William Yani Wea. (Foto: Dok Pribadi/jatimnow.com)

jatimnow.com - Selembar surat berisi pesan perpisahan menjadi saksi bisu kepergian Yohannes Bastian Soga (YBS). Bocah berusia 10 tahun asal Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu memilih mengakhiri hidupnya di pohon cengkeh pada Kamis, 29 Januari 2026.

Alasan di balik tindakan nekat siswa kelas IV SD ini mengiris hati, ia tak ingin menjadi beban bagi ibunya yang berjuang di tengah himpitan ekonomi.

Baca Juga: Siswa TK-SD di Bangsalsari Jember Keracunan, Santapan MBG Diduga Jadi Pemicu

Tragedi ini memicu reaksi keras dari tokoh pemuda NTT di Jakarta, William Yani Wea. Ia menyebut kematian Yohannes bukan sekadar kasus bunuh diri biasa, melainkan sebuah tamparan keras bagi wajah kemanusiaan Indonesia.

"Ini jelas sebuah tragedi kemanusiaan yang sangat memilukan. Anak sekecil itu hanya ingin punya buku dan pena untuk sekolah. Namun, kemiskinan merampas impiannya hingga ia merasa mati adalah jalan keluar agar tidak menyusahkan ibunya," ujar pria yang akrab disapa Willy ini dengan nada getir, Sabtu (7/2/2026).

Putra dari mendiang tokoh nasional Jacob Nua Wea ini mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk melakukan evaluasi total.

Willy menyoroti adanya kontradiksi besar antara ambisi pemerintah meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan realitas biaya pendidikan di lapangan.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, Yohannes merasa tertekan setelah pihak sekolah menagih biaya sebesar Rp1,2 juta. Padahal, ia bersekolah di sekolah negeri yang seharusnya bebas dari pungutan biaya.

"Pemerintah punya kewajiban menyelenggarakan pendidikan gratis dan berkualitas. Jangan sampai program mulia seperti Makan Bergizi Gratis tercoreng oleh praktik pungutan liar di sekolah yang justru mematikan harapan anak-anak kita," tegas Ketua Umum Serikat Pekerja Informal Migran dan Pekerja Profesional Indonesia (Serikat Pekerja IMPPI) tersebut.

Baca Juga: Indonesia Pimpin Sidang Pleno BRICS Trade Union Forum 2026 di India

Keseharian Yohannes memang jauh dari kata cukup. Ayahnya meninggal dunia sejak ia masih dalam kandungan.

Ia tinggal bersama neneknya yang sudah berusia 80 tahun di sebuah pondokan sederhana. Sementara ibunya harus banting tulang menafkahi lima orang anak di desa tetangga.

Beberapa saat sebelum kejadian, para tetangga sempat melihat Yohannes duduk termenung sendirian di bale-bale. Kemurungan itu rupanya menjadi tanda perpisahan terakhir.

Ia meninggalkan surat pendek untuk sang ibu yang berbunyi, "Mama, aku pergi dulu. Mama relakan aku pergi. Jangan menangis ya Mama. Mama tidak perlu menangis dan mencari atau merindukanku. Selamat tinggal Mama."

Baca Juga: GMNI Jember Desak Pengusutan Tuntas Dugaan Korupsi Ompreng Program MBG

Bagi Willy, kasus Yohannes harus menjadi titik balik bagi pengelola pendidikan di NTT dan Indonesia secara umum.

Ia berharap tidak ada lagi nyawa yang hilang hanya karena urusan buku, pena, atau iuran sekolah yang tak terbeli.

"Kematian Yohannes adalah tanggung jawab kita bersama. Jangan biarkan kemiskinan terus-menerus menelan masa depan anak-anak kita," pungkas tokoh asal Nagekeo tersebut.

Editor : Ni'am Kurniawan
Berita Terbaru

Target 100 GW dan Bottleneck Energi Surya Indonesia

Hingga hari ini, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia baru sedikit melampaui 1 gigawatt (GW).

5 Fakta Anak Angkat dan Pacarnya Bunuh Ayah di Nganjuk, Ada Cinta Tak Direstui

Penyidikan juga mengungkap pembunuhan pria oleh anak angkatnya itu diduga telah dirancang beberapa hari sebelumnya.

Oknum Polisi di Blitar Ditangkap Saat Pesta Narkoba

Polisi masih melakukan pendalaman terkait kasus ini, oknum anggota Polres Blitar Kota sudah dilakukan penahanan.

Wabup Lamongan Harapkan MPLS Jadi Pijakan Menuju Pendidikan Inklusif

MPLS Ramah merupakan pondasi awal bagi peserta didik dalam membangun karakter, semangat belajar, dan kesiapan menghadapi proses pendidikan.

Prabowo Hadiri Panen Raya Tebu di Malang, Ratusan Petugas Jaga Ketat Rute VVIP

Panen raya dipusatkan di lahan tebu kawasan Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh, Dusun Krajan, Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis.

Beraksi di 20 TKP, Pasangan Jambret Asal Malang Ditangkap Polisi Tulungagung

Sasar pedagang yang hendak pergi ke pasar, salah satu korban meninggal dunia usai dijambret tersangka.