Sabtu, 06 Jun 2026 15:12 WIB

Siswa SD di NTT Akhiri Hidup demi Buku, William Yani Wea: Ini Tragedi Pilu

Ketua Umum Serikat Pekerja IMPPI sekaligus tokoh pemuda NTT di Jakarta, William Yani Wea. (Foto: Dok Pribadi/jatimnow.com)
Ketua Umum Serikat Pekerja IMPPI sekaligus tokoh pemuda NTT di Jakarta, William Yani Wea. (Foto: Dok Pribadi/jatimnow.com)

jatimnow.com - Selembar surat berisi pesan perpisahan menjadi saksi bisu kepergian Yohannes Bastian Soga (YBS). Bocah berusia 10 tahun asal Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu memilih mengakhiri hidupnya di pohon cengkeh pada Kamis, 29 Januari 2026.

Alasan di balik tindakan nekat siswa kelas IV SD ini mengiris hati, ia tak ingin menjadi beban bagi ibunya yang berjuang di tengah himpitan ekonomi.

Baca Juga: Belasan Anak TK Jember Diduga Keracunan MBG, Satgas Minta Penutupan SPPG

Tragedi ini memicu reaksi keras dari tokoh pemuda NTT di Jakarta, William Yani Wea. Ia menyebut kematian Yohannes bukan sekadar kasus bunuh diri biasa, melainkan sebuah tamparan keras bagi wajah kemanusiaan Indonesia.

"Ini jelas sebuah tragedi kemanusiaan yang sangat memilukan. Anak sekecil itu hanya ingin punya buku dan pena untuk sekolah. Namun, kemiskinan merampas impiannya hingga ia merasa mati adalah jalan keluar agar tidak menyusahkan ibunya," ujar pria yang akrab disapa Willy ini dengan nada getir, Sabtu (7/2/2026).

Putra dari mendiang tokoh nasional Jacob Nua Wea ini mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk melakukan evaluasi total.

Willy menyoroti adanya kontradiksi besar antara ambisi pemerintah meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan realitas biaya pendidikan di lapangan.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, Yohannes merasa tertekan setelah pihak sekolah menagih biaya sebesar Rp1,2 juta. Padahal, ia bersekolah di sekolah negeri yang seharusnya bebas dari pungutan biaya.

"Pemerintah punya kewajiban menyelenggarakan pendidikan gratis dan berkualitas. Jangan sampai program mulia seperti Makan Bergizi Gratis tercoreng oleh praktik pungutan liar di sekolah yang justru mematikan harapan anak-anak kita," tegas Ketua Umum Serikat Pekerja Informal Migran dan Pekerja Profesional Indonesia (Serikat Pekerja IMPPI) tersebut.

Baca Juga: Keracunan Massal MBG di Surabaya, BGN dan Dinkes Temukan Pelanggaran SOP

Keseharian Yohannes memang jauh dari kata cukup. Ayahnya meninggal dunia sejak ia masih dalam kandungan.

Ia tinggal bersama neneknya yang sudah berusia 80 tahun di sebuah pondokan sederhana. Sementara ibunya harus banting tulang menafkahi lima orang anak di desa tetangga.

Beberapa saat sebelum kejadian, para tetangga sempat melihat Yohannes duduk termenung sendirian di bale-bale. Kemurungan itu rupanya menjadi tanda perpisahan terakhir.

Ia meninggalkan surat pendek untuk sang ibu yang berbunyi, "Mama, aku pergi dulu. Mama relakan aku pergi. Jangan menangis ya Mama. Mama tidak perlu menangis dan mencari atau merindukanku. Selamat tinggal Mama."

Baca Juga: Satu Menu Janggal Penyebab 200 Siswa di Surabaya Keracunan MBG

Bagi Willy, kasus Yohannes harus menjadi titik balik bagi pengelola pendidikan di NTT dan Indonesia secara umum.

Ia berharap tidak ada lagi nyawa yang hilang hanya karena urusan buku, pena, atau iuran sekolah yang tak terbeli.

"Kematian Yohannes adalah tanggung jawab kita bersama. Jangan biarkan kemiskinan terus-menerus menelan masa depan anak-anak kita," pungkas tokoh asal Nagekeo tersebut.

Editor : Ni'am Kurniawan
Berita Terbaru

Kakak Beradik Terseret Ombak di Pantai Payangan Jember, Satu Ditemukan Tewas

Kedua korban dilaporkan hilang terseret ombak saat berwisata bersama keluarga.

Puncak Arus Balik Idul Adha 2026, Daop 8 Surabaya Layani 284 Ribu Penumpang

Puncak arus balik libur panjang Idul Adha 2026 bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila. KAI Daop 8 Surabaya catat lonjakan tembus 284 ribu penumpang. Simak data lengkapnya di sini.

Jambret iPhone Turis Jerman di Kota Lama Surabaya Ditembak Polisi

Polisi menangkap pelaku jambret iPhone milik wisatawan asal Jerman di Kota Lama Surabaya. Pelaku dilumpuhkan karena melawan saat ditangkap.

Kapolres dan Dandim 0820 Probolinggo Terima Gelar Warga Kehormatan Suku Tengger

Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat pada Malam Resepsi Yadnya Kasada di Pendopo Agung Desa Ngadisari.

Tabrak Pohon, Truk Pengangkut Ikan Asal Lamongan Terguling di JLS Tulungagung

Truk dalam perjalanan menuju Prigi Trenggalek, pengemudi dan penumpang alami luka serius.

Peringatan Hari Raya Waisak di Tulungagung, Ajak Umat Bersumbangsih Untuk Negeri

Puluhan umat Buddha mengikuti prosesi detik-detik peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak di Vihara Buddha Loka Tulungagung.