Sabtu, 06 Jun 2026 22:45 WIB

Antara Solidaritas dan Akuntabilitas, Jangan Matikan Semangat Donasi Kita

  • Penulis :
  • | Kamis, 11 Des 2025 15:31 WIB
Foto: Ilustrasi/Gemini
Foto: Ilustrasi/Gemini

jatimnow.com - Belakangan ini, jagat media sosial gaduh soal ”Donasi harus izin dulu ke Kemensos!” Judul dan isu-isu itu meluncur seperti peluru. Timeline penuh sentimen. Warganet berebut menyimpulkan, seolah negara sedang berhadap-hadapan dengan niat baik masyarakat.

Padahal, masalahnya tidak sesederhana itu. Tapi juga tidak serumit yang dibayangkan. Kita ini sebenarnya sedang kehilangan ruang tenang untuk berpikir logis.

Baca Juga: Dinas Sosial Tulungagung Salurkan Bansos Kemensos RI ke Ratusan Masyarakat

Bangsa ini punya tradisi gotong royong yang jauh lebih tua dari negara itu sendiri. Bahkan sebelum republik ini berdiri, rakyat sudah saling bantu secara diam-diam. Tak ada izin, tak ada kamera, tak ada trending. Hanya hati yang tergerak. Ikhlas.

Karena itu, wajar bila masyarakat marah ketika merasa niat baiknya seperti hendak dibatasi. Energi itu murni. Tapi yang berbahaya adalah ketika energi murni itu ditarik ke arah destruktif.

Di titik inilah, menurut saya, ICMI perlu hadir sebagai penjernih. Sebagai cermin. Sebagai penuntun akal sehat publik.

Mari kita tarik masalah ini ke meja yang lebih beradab. Bukan timeline. Bukan komentar. Tapi meja analisis.

Pertama: kita harus terbuka dan berterus terang bahwa memang banyak bantuan tidak sampai ke korban. Itu fakta lapangan, bukan asumsi.

Banyak temuan di lapangan kejadian yang lalu-lalu, yaitu: Bantuan menumpuk di posko utama, sementara dusun terisolasi kosong. Relawan lokal bingung mengatur arus logistic. Dan yang lebih menyedihkan: ada penggalang dana yang tidak pernah melaporkan ke mana uang itu disalurkan.

Penggalangan dana versi digital memberi kecepatan. Tetapi juga memberi ruang luas bagi penipuan, manipulasi, dan marketing berkedok kemanusiaan. Di era klik dan swipe, siapa pun bisa membuat “donasi” dalam satu menit, lalu menutupnya dalam satu malam.

Apakah negara harus diam? Tidak. Apakah negara boleh mempersulit? Juga tidak. Kita sedang berada di garis tipis antara solidaritas dan akuntabilitas.

Kedua: aturan bukan dimaksudkan untuk mematikan semangat baik. Aturan, dalam kadar tertentu, adalah pagar agar ladang kebaikan tidak dipakai untuk memelihara kejahatan. Masalahnya, framing publik yang terlanjur buyar membuat pagar terlihat seperti tembok penjara.

Di sinilah komunikasi kebijakan sering tersandung: cara penyampaian tidak seindah niatnya. Masyarakat membaca “izin donasi” sebagai “pemerintah melarang atau mempersulit”.

Yang diatur adalah penggalangan dana publik, karena uang publik adalah amanah publik. Dan setiap amanah harus bisa diaudit.

Baca Juga: PMI Surabaya Galang Donasi Kemanusiaan lewat Bulan Dana 2026

Untuk yang kecil, laporan sederhana cukup. Untuk yang besar, harus ada auditor eksternal. Tidak sulit. Tapi harus jelas.

Ketiga: kita tidak bisa hanya menyandarkan semuanya pada pemerintah. Budaya filantropi di era digital butuh tiga pilar:

(1) Pemerintah yang adaptif. Izin harus cepat, daring, dan tanpa kerumitan. Bencana tidak menunggu tanda tangan.

(2) Penggalang dana yang beretika. Influencer, selebgram, publik figure. Mereka itu menikmati kepercayaan publik. Maka tanggung jawab mereka juga harus besar.

(3) Masyarakat yang melek literasi donasi. Jangan mudah terkecoh akun palsu. Jangan percaya hanya karena videonya sedih. Kepekaan harus disertai kewaspadaan.

Jika tiga pilar ini kokoh, maka tidak akan ada lagi energi publik yang terbuang hanya untuk membahas “izin donasi”. Karena semuanya sudah berjalan alamiah dan transparan.

Sebagai Ketua ICMI Jawa Timur, saya selalu percaya bahwa akal sehat adalah modal utama umat. Kita tidak boleh terjebak pada polarisasi murahan: seolah memilih antara “niat baik masyarakat” dan “aturan pemerintah”. Apalagi menjadikan itu sebagai isu yang membuat kegaduhan baru.

Baca Juga: ICMI Jatim: Menutup Prodi Tak Relevan Adalah Sesat Pikir Birokrasi

Keduanya bukan musuh. Keduanya saling melengkapi. Solidaritas tanpa akuntabilitas bisa berakhir sebagai bencana kedua. Akuntabilitas tanpa empati bisa membunuh aksi kemanusiaan.

Sikap kita harus jernih: Bantuan harus cepat. Tetapi pertanggungjawaban harus lengkap. Inilah semangat yang ingin ICMI jaga. Menjaga moralitas publik, menyeimbangkan nalar bangsa, dan menuntun agar kebaikan berjalan dengan akal, bukan dengan emosi.

Bencana mungkin datang tiba-tiba. Tapi kebaikan tidak boleh tiba-tiba hilang hanya karena salah paham. Bangsa ini lahir dari gotong royong. Ia tumbuh dari solidaritas. Dan ia akan maju bila solidaritas itu dibingkai dengan tata kelola yang benar.

Mari terus berdonasi. Mari terus bergerak. Tapi mari juga memastikan bahwa setiap rupiah yang kita kumpulkan benar-benar jatuh ke tangan mereka yang paling membutuhkan.

Itulah kebaikan yang tidak hanya cepat, tapi juga selamat. Itulah kebaikan yang tidak hanya viral, tapi juga benar. Dan itulah kebaikan yang akan terus kita jaga bersama.

Oleh: Ulul Albab
Ketua ICMI Jawa Timur

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Tuai Polemik, Komisi III DPRD Kota Probolinggo Sidak Proyek Swalayan Jalan Cokro

Komisi III telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi untuk memastikan kelengkapan izin proyek di atas lahan seluas 1,3 hektare tersebut.

Update Kepulangan Haji 2026: 7.581 Jemaah Tiba via Debarkasi Surabaya

Update kepulangan haji 2026 Debarkasi Surabaya: 7.581 jemaah dari 20 kloter tiba di Tanah Air. 2 jemaah asal Malang wafat, 3 lainnya dirawat di RS Arab Saudi.

Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional di Jember, Lansia Tangguh Indonesia Tumbuh

Pengalaman dan kebijaksanaan yang dimiliki para lansia merupakan fondasi penting dalam pembangunan bangsa.

Plt Bupati Tulungagung Ajak Masyarakat Lakukan Pemilahan Sampah Dari Sumber

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026, Pemkab Tulungagung gelar deklarasi gerakan pemilahan dan pengolahan sampah dari sumber.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Pakar Ingatkan Ancaman Krisis Energi

Pakar lingkungan soroti krisis energi, penumpukan sampah, hingga bahaya mikropolutan di momen Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.

Peringati Hari Pers Nasional, PWI Tulungagung Siapkan Literasi Media

Pemerintah Kabupaten Tulungagung menyampaikan apresiasi atas dedikasi insan pers yang selama ini menjadi mitra strategis dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.