Minggu, 07 Jun 2026 09:09 WIB

SFP 2025: Migi Rihasalay Usung Darah dan Pemberontakan

  • Penulis : Ali Masduki
  • | Minggu, 16 Nov 2025 01:12 WIB
Model memperagakan koleksi "Blood" karya desainer Migi Rihasalay dalam pagelaran busana Surabaya Fashion Parade (SFP) 2025. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)
Model memperagakan koleksi "Blood" karya desainer Migi Rihasalay dalam pagelaran busana Surabaya Fashion Parade (SFP) 2025. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

jatimnow.com - Koleksi "Blood" karya desainer Migi Rihasalay memukau pengunjung Surabaya Fashion Parade (SFP) 2025. Pagelaran busana yang berlangsung di Convention Hall Tunjungan Plaza 3 Surabaya pada 14–16 November 2025 ini mengusung tema "Rebellion", memberikan ruang bagi para desainer untuk berekspresi secara bebas.

Migi Rihasalay, salah satu desainer yang dikenal berani menantang pakem mode, menampilkan 12 look dengan dominasi warna merah-putih yang dibuat melalui teknik gradasi. Koleksi ini menjadi sorotan karena visualnya yang kuat dan penuh narasi.

Baca Juga: Fashion Rebel Mewah Ku-Semai Jadi Magnet Baru di Surabaya Fashion Parade 2025

"Blood adalah darah. Kita hidup melalui apa yang ada di tubuh kita, yaitu darah," ungkap Migi usai peragaan busananya, Sabtu (15/11/2025) malam.

"Darah bersambungan dengan kehidupan, kematian, kehilangan, bencana, sakit, semuanya. Bahkan pengorbanan para perempuan yang melahirkan dan para pahlawan yang bertumpah darah untuk memperjuangkan apa yang mereka perjuangkan," lanjutnya.

Ciri khas Migi dalam bermain gradasi kembali terlihat jelas pada koleksi ini. Ia menggunakan kain kanvas sebagai material utama, yang kemudian dilukis menggunakan cat khusus kain berbahan natural fiber.

Baca Juga: Karya Batik Candida Ardelle, Talenta Muda Probolinggo Bersinar di SFP 2025

"Tantangannya adalah bagaimana membuat gradasi. Agar tidak seperti bercak, tapi tetap halus sesuai ciri khas saya," jelas Migi. "Warnanya kami biarkan jatuh senatural mungkin, seperti tetesan darah," sambungnya.

Koleksi "Blood" juga diperkaya dengan detail payet handmade serta aksesori kepala berbentuk bunga spider lily, yang sering dikaitkan dengan makna kematian dan perpisahan.

"Bagian yang paling sulit itu payet dan gradasinya. Payetnya handmade," ujar Migi. Proses pembuatan satu busana memakan waktu sekitar dua hari, termasuk proses melukis, membuat gradasi, dan memasang ornamen.

Baca Juga: FIK Ubaya Pamerkan Karya Desain Fashion Bertema "Revive" di Surabaya

Migi menuturkan bahwa koleksi ini cocok untuk kebutuhan panggung hingga event bertema tertentu, seperti stage performance atau Halloween. Koleksi "Blood" ini menjadi salah satu interpretasi menarik dari semangat "Rebellion" yang diusung SFP 2025.

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Menkop Dukung Kemitraan Petani-Koperasi di Kediri, Kejar Swasembada Gula 2028

Kolaborasi ini merupakan bentuk sinergi nyata antara koperasi, petani, dan pelaku industri.

Akhir Pekan Cuaca di Surabaya Cerah, tapi Waspada Panas yang Menyengat

Tidak terlihat adanya potensi hujan yang signifikan sepanjang hari. Cuaca mendukung berbagai aktivitas masyarakat, khususnya aktivitas di luar ruangan.

Tuai Polemik, Komisi III DPRD Kota Probolinggo Sidak Proyek Swalayan Jalan Cokro

Komisi III telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi untuk memastikan kelengkapan izin proyek di atas lahan seluas 1,3 hektare tersebut.

Update Kepulangan Haji 2026: 7.581 Jemaah Tiba via Debarkasi Surabaya

Update kepulangan haji 2026 Debarkasi Surabaya: 7.581 jemaah dari 20 kloter tiba di Tanah Air. 2 jemaah asal Malang wafat, 3 lainnya dirawat di RS Arab Saudi.

Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional di Jember, Lansia Tangguh Indonesia Tumbuh

Pengalaman dan kebijaksanaan yang dimiliki para lansia merupakan fondasi penting dalam pembangunan bangsa.

Plt Bupati Tulungagung Ajak Masyarakat Lakukan Pemilahan Sampah Dari Sumber

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026, Pemkab Tulungagung gelar deklarasi gerakan pemilahan dan pengolahan sampah dari sumber.