Sabtu, 06 Jun 2026 10:00 WIB

Foto: Wisata di Tanah Sang Penjaga Tua

Seekor komodo tampak bergerak perlahan di atas tanah kering. Lidah panjangnya terjulur, mencium udara mencari bau yang tak kasat mata. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)
Seekor komodo tampak bergerak perlahan di atas tanah kering. Lidah panjangnya terjulur, mencium udara mencari bau yang tak kasat mata. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)

jatimnow.com - Wisata di Tanah Sang Penjaga Tua. Itulah sekelumit kalimat sebagai ungkapan bangga dan takjub ketika menjejakkan kaki di Tanah NTT, tepatnya di Pulau Komodo yang terletak di sekitar kawasan Labuan Bajo Manggarai Barat.

Di jantung gugusan Kepulauan Nusa Tenggara Timur itu, Pulau Komodo berdiri sebagai ruang di mana waktu seolah berjalan lebih lambat. Alam, manusia, dan makhluk purba hidup berdampingan dalam ritme yang saling menghormati.

Baca Juga: SIG Jaga Lukisan Purbakala Tertua Dunia di Tengah Lahan Tambang

Begitu kapal berlabuh, pengunjung disambut oleh udara asin laut, langkah di jalan berdebu, dan tawa anak-anak desa yang bermain di tepi pantai. Di kejauhan, sosok komodo berbaring malas di bawah naungan pohon, tenang, namun memancarkan wibawa dari ribuan tahun evolusi.

Hewan langka ini adalah satu-satunya spesies kadal raksasa yang masih hidup di dunia, dengan populasi sekitar 3.000 ekor di habitat liar, menurut data Balai Taman Nasional Komodo dan UNESCO World Heritage Centre. Keberadaannya bukan hanya simbol kebanggaan nasional, tetapi juga cermin keseimbangan rapuh antara manusia dan alam.

Melangkah ke pedalaman, kita menemukan kehidupan sederhana masyarakat Desa Komodo. Rumah-rumah panggung berdiri berjejer di antara pepohonan, sementara anak-anak berjalan pulang sekolah dengan buku di tangan.

Tidak ada pagar tinggi yang memisahkan manusia dari alam liar. Hanya rasa saling percaya dan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. Bagi warga setempat, komodo bukan ancaman, melainkan “tetangga” yang dihormati. Filosofi ini tercermin dari papan kayu yang bertuliskan “Jaga sikap karena Komodo adalah sahabat.”

Pesan itu sederhana, tetapi mengandung nilai ekologis yang dalam: bahwa keberlanjutan dimulai dari sikap saling menghargai, bukan dominasi.

Harmoni di Pulau Komodo adalah potret kecil dari harapan besar dunia, bagaimana manusia bisa hidup berdampingan dengan alam tanpa saling menaklukkan.

Pemerintah dan lembaga konservasi terus berupaya menjaga keseimbangan antara pariwisata dan pelestarian, termasuk dengan membatasi jumlah pengunjung dan memperkuat peran masyarakat lokal dalam ekowisata berkelanjutan.

Di pulau ini, setiap langkah wisatawan bukan hanya jejak kaki di pasir, tetapi juga janji untuk menjaga keindahan dan kedamaian yang telah bertahan sejak masa purba. Wisata Pulau Komodo mengingatkan kita bahwa harmoni bukan utopia, melainkan pilihan yang bisa dijalani, satu langkah kecil setiap hari.

Inilah Foto-foto Harmoni Pulau Komodo:

Wisatawan berjalan tidak jauh dari dua ekor komodo berbaring di bawah teduhnya pohon. Saat udara panas, Komodo mencari tempat teduh. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)Wisatawan berjalan tidak jauh dari dua ekor komodo berbaring di bawah teduhnya pohon. Saat udara panas, Komodo mencari tempat teduh. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)

 

Dua ekor komodo berbaring di bawah teduhnya pohon. Saat udara panas, Komodo mencari tempat teduh. Meski terlihat tenang, predator ini tetap waspada, sehingga wisatawan harus menjaga jarak. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)Dua ekor komodo berbaring di bawah teduhnya pohon. Saat udara panas, Komodo mencari tempat teduh. Meski terlihat tenang, predator ini tetap waspada, sehingga wisatawan harus menjaga jarak. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)

Baca Juga: Cegah Bencana Pesisir, Nestle dan Warga Pasuruan Bangun Perisai Alami

 

Rombongan wisatawan berdiri berjejer, sebagian menunduk mengabadikan momen lewat kamera ponsel. Ada rasa kagum sekaligus hati-hati di wajah mereka. Hanya beberapa meter di depan, dua ekor komodo berbaring di bawah teduhnya pohon, tampak jinak namun menyimpan aura kewaspadaan. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)Rombongan wisatawan berdiri berjejer, sebagian menunduk mengabadikan momen lewat kamera ponsel. Ada rasa kagum sekaligus hati-hati di wajah mereka. Hanya beberapa meter di depan, dua ekor komodo berbaring di bawah teduhnya pohon, tampak jinak namun menyimpan aura kewaspadaan. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)

 

Rombongan wisatawan berdiri berjejer melihat kagum saat komodo berjalan di tanah bebatuan. Pemandu wisata mengingatkan agar tidak memancing dengan gerakan dan harus menjaga jarak. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)Rombongan wisatawan berdiri berjejer melihat kagum saat komodo berjalan di tanah bebatuan. Pemandu wisata mengingatkan agar tidak memancing dengan gerakan dan harus menjaga jarak. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)

 

Dua ekor komodo berbaring di bawah teduhnya pohon. Di Pulau Komodo ini, makhluk purba hidup berdampingan dalam ritme yang saling menghormati. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)Dua ekor komodo berbaring di bawah teduhnya pohon. Di Pulau Komodo ini, makhluk purba hidup berdampingan dalam ritme yang saling menghormati. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)

 

Baca Juga: Foto: Catwalk Fashion Show Perkenalkan Identitas Baru UMSURA

Tiga anak berjalan di jalanan desa usai mengaji. Di Pulau Komodo yang dihuni 2000 jiwa yang terbagi dalam 500 KK ini, mayoritas masyarakatnya adalah Islam. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)Tiga anak berjalan di jalanan desa usai mengaji. Di Pulau Komodo yang dihuni 2000 jiwa yang terbagi dalam 500 KK ini, mayoritas masyarakatnya adalah Islam. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)

 

Jalur wisata Pulau Komodo melintas rumah-rumah panggung kayu yang sederhana dan gang sempit yang berkelok. Meskipun hidup dengan predator, semuanya berjalan dengan tenang, tanpa pagar pembatas yang mencolok antara manusia dan makhluk besar yang turut berada di sekitarnya. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)Jalur wisata Pulau Komodo melintas rumah-rumah panggung kayu yang sederhana dan gang sempit yang berkelok. Meskipun hidup dengan predator, semuanya berjalan dengan tenang, tanpa pagar pembatas yang mencolok antara manusia dan makhluk besar yang turut berada di sekitarnya. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)

 

Akses masuk wisatawan di Pulau Komodo. Kawasan ini termasuk bagian dari Taman Nasional Komodo yang telah ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 1991. Sistem ini bukan hanya soal melindungi komodo, tetapi juga mengharmonikan antara konservasi, budaya lokal, dan wisata. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)Akses masuk wisatawan di Pulau Komodo. Kawasan ini termasuk bagian dari Taman Nasional Komodo yang telah ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 1991. Sistem ini bukan hanya soal melindungi komodo, tetapi juga mengharmonikan antara konservasi, budaya lokal, dan wisata. (Foto: Ali Masduki/JatimNow.com)

 

Wartawan jatimnow.com memotret seekor Komodo yang berbaring di bawah pohon, pada Sabtu (08/11/2025). JatimNow.com menjadi salah satu dari puluhan wartawan di Surabaya yang diajak oleh UM Surabaya untuk berwisata di Pulau Komodo, Labuan Bajo. (Foto: Tim Pemandu Wisata)Wartawan jatimnow.com memotret seekor Komodo yang berbaring di bawah pohon, pada Sabtu (08/11/2025). JatimNow.com menjadi salah satu dari puluhan wartawan di Surabaya yang diajak oleh UM Surabaya untuk berwisata di Pulau Komodo, Labuan Bajo. (Foto: Tim Pemandu Wisata)

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Kakak Beradik Terseret Ombak di Pantai Payangan Jember, Satu Ditemukan Tewas

Kedua korban dilaporkan hilang terseret ombak saat berwisata bersama keluarga.

Puncak Arus Balik Idul Adha 2026, Daop 8 Surabaya Layani 284 Ribu Penumpang

Puncak arus balik libur panjang Idul Adha 2026 bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila. KAI Daop 8 Surabaya catat lonjakan tembus 284 ribu penumpang. Simak data lengkapnya di sini.

Jambret iPhone Turis Jerman di Kota Lama Surabaya Ditembak Polisi

Polisi menangkap pelaku jambret iPhone milik wisatawan asal Jerman di Kota Lama Surabaya. Pelaku dilumpuhkan karena melawan saat ditangkap.

Kapolres dan Dandim 0820 Probolinggo Terima Gelar Warga Kehormatan Suku Tengger

Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat pada Malam Resepsi Yadnya Kasada di Pendopo Agung Desa Ngadisari.

Tabrak Pohon, Truk Pengangkut Ikan Asal Lamongan Terguling di JLS Tulungagung

Truk dalam perjalanan menuju Prigi Trenggalek, pengemudi dan penumpang alami luka serius.

Peringatan Hari Raya Waisak di Tulungagung, Ajak Umat Bersumbangsih Untuk Negeri

Puluhan umat Buddha mengikuti prosesi detik-detik peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak di Vihara Buddha Loka Tulungagung.