Rabu, 22 Jul 2026 07:57 WIB

Kuli Bangunan Gresik Raup Jutaan dari Kompos, Ini Kisahnya!

Achmad Taufik, kuli bangunan Gresik sukses jadi pengusaha kompos organik. (Foto: Ecoton for JatimNow.com)
Achmad Taufik, kuli bangunan Gresik sukses jadi pengusaha kompos organik. (Foto: Ecoton for JatimNow.com)

jatimnow.com - Di tengah tumpukan sampah yang seringkali dianggap menjijikkan, Achmad Taufik justru melihat peluang emas. Pria asal Desa Wringinanom, Gresik, Jawa Timur ini berhasil mengubah limbah organik menjadi pundi-pundi rupiah melalui bisnis kompos yang berkelanjutan.

Bagi sebagian orang, harga sembako mungkin menjadi momok yang menakutkan. Namun, bagi Taufik, tumpukan kulit pisang, daun kering, dan sisa sayur di depan rumahnya adalah "ladang duit" yang menjanjikan. Dari halaman rumahnya yang sederhana, ia mampu mengubah bau busuk menjadi penghasilan tambahan yang lumayan.

Baca Juga: Demam Piala Dunia 2026 Warnai MPLS di SMP Muhammadiyah 12 Gresik Kota Baru

"Menggali emas dari kotoran organik," itulah prinsip yang dipegang teguh oleh Taufik. Setiap dua hingga tiga minggu sekali, ia memanen kompos hasil fermentasi limbah organik.

Hasilnya, ia bisa meraup penghasilan tambahan hingga satu juta rupiah lebih per bulan. Sebuah angka yang cukup berarti bagi seorang pekerja kuli bangunan seperti dirinya.

Taufik bukanlah sosok yang tiba-tiba terinspirasi dari video zero waste di media sosial. Ia adalah "lulusan lapangan" sejati.

Pengalaman selama lima tahun bekerja di TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle) telah membekalinya dengan ilmu dan keterampilan untuk menaklukkan aroma tak sedap dan menghasilkan pupuk organik berkualitas. Kini, ilmu tersebut ia terapkan di halaman rumahnya sendiri.

Dalam setiap proses pengomposan, Taufik mampu mengolah hingga dua ton sampah organik. Bahan bakunya pun sederhana, yaitu sisa dapur tetangga, daun kering dari kebun, dan berbagai limbah organik lainnya.

Dalam waktu singkat, semua limbah tersebut berubah menjadi pupuk kompos berwarna gelap, lembut, dan beraroma tanah basah yang khas.

Jika sebelumnya Taufik menjual kompos dalam kemasan 4 kg, kini ia hanya menyediakan kemasan karung 20 kg. Strategi ini ternyata ampuh untuk meningkatkan penjualan.

Baca Juga: Gandeng Akademisi, PLN Edukasi Petani Gresik Gunakan Teknologi Sensor Pertanian

"Sekarang cuma jual kemasan 20 kg aja. Orang-orang lebih milih yang gede, sekalian banyak," ujarnya.

Pelanggan Taufik pun beragam, mulai dari anggota PKK, sekolah adiwiyata, hingga para penghobi tanaman dari berbagai kecamatan di Wringinanom, Benjeng, Balongpanggang, hingga Gresik kota. Mereka percaya bahwa kompos buatan Taufik mampu membuat tanaman lebih subur dan hasil panen melimpah.

Dari hasil penjualan kompos organik, Taufik mampu menambah penghasilan antara Rp800 ribu hingga Rp1,3 juta setiap bulannya. Baginya, ini adalah hasil dari kerja keras, ketekunan, dan kontribusi nyata terhadap lingkungan. Ia menjual sebagian komposnya secara langsung, dan sebagian lagi melalui mitra yang membantu distribusi.

Taufik telah membuktikan bahwa bisnis ramah lingkungan tidak harus mewah dan glamor. Terkadang, bisnis tersebut justru bisa dimulai dari halaman rumah, dengan memanfaatkan karung bekas dan limbah organik yang diolah dengan sabar hingga menjadi pupuk yang bernilai.

Baca Juga: Tercebur Sumur 15 Meter, Kakek 98 Tahun di Kedamean Gresik Ditemukan Tewas

Di akhir perbincangan, Taufik menyampaikan harapan sederhananya, yaitu agar semakin banyak orang sadar untuk memilah sampah dari rumah. Menurutnya, jika semua warga bisa memisahkan sampah organik dan anorganik, maka masalah sampah di Indonesia akan berkurang secara signifikan.

"Sampah organik bisa jadi kompos, bisa untuk nutrisi tanaman pangan dan nonpangan," ucapnya.

Kisah Achmad Taufik adalah bukti nyata bahwa perubahan besar bisa dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana. Dari Gresik, ia menginspirasi banyak orang untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan melihat peluang di balik tumpukan sampah.

 

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Target 100 GW dan Bottleneck Energi Surya Indonesia

Hingga hari ini, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia baru sedikit melampaui 1 gigawatt (GW).

5 Fakta Anak Angkat dan Pacarnya Bunuh Ayah di Nganjuk, Ada Cinta Tak Direstui

Penyidikan juga mengungkap pembunuhan pria oleh anak angkatnya itu diduga telah dirancang beberapa hari sebelumnya.

Oknum Polisi di Blitar Ditangkap Saat Pesta Narkoba

Polisi masih melakukan pendalaman terkait kasus ini, oknum anggota Polres Blitar Kota sudah dilakukan penahanan.

Wabup Lamongan Harapkan MPLS Jadi Pijakan Menuju Pendidikan Inklusif

MPLS Ramah merupakan pondasi awal bagi peserta didik dalam membangun karakter, semangat belajar, dan kesiapan menghadapi proses pendidikan.

Prabowo Hadiri Panen Raya Tebu di Malang, Ratusan Petugas Jaga Ketat Rute VVIP

Panen raya dipusatkan di lahan tebu kawasan Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh, Dusun Krajan, Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis.

Beraksi di 20 TKP, Pasangan Jambret Asal Malang Ditangkap Polisi Tulungagung

Sasar pedagang yang hendak pergi ke pasar, salah satu korban meninggal dunia usai dijambret tersangka.