Minggu, 07 Jun 2026 06:34 WIB

Kuli Bangunan Gresik Raup Jutaan dari Kompos, Ini Kisahnya!

Achmad Taufik, kuli bangunan Gresik sukses jadi pengusaha kompos organik. (Foto: Ecoton for JatimNow.com)
Achmad Taufik, kuli bangunan Gresik sukses jadi pengusaha kompos organik. (Foto: Ecoton for JatimNow.com)

jatimnow.com - Di tengah tumpukan sampah yang seringkali dianggap menjijikkan, Achmad Taufik justru melihat peluang emas. Pria asal Desa Wringinanom, Gresik, Jawa Timur ini berhasil mengubah limbah organik menjadi pundi-pundi rupiah melalui bisnis kompos yang berkelanjutan.

Bagi sebagian orang, harga sembako mungkin menjadi momok yang menakutkan. Namun, bagi Taufik, tumpukan kulit pisang, daun kering, dan sisa sayur di depan rumahnya adalah "ladang duit" yang menjanjikan. Dari halaman rumahnya yang sederhana, ia mampu mengubah bau busuk menjadi penghasilan tambahan yang lumayan.

Baca Juga: Mahasiswa Thailand Belajar SDGs dan Ekonomi Sirkular di Desa Suci Jember

"Menggali emas dari kotoran organik," itulah prinsip yang dipegang teguh oleh Taufik. Setiap dua hingga tiga minggu sekali, ia memanen kompos hasil fermentasi limbah organik.

Hasilnya, ia bisa meraup penghasilan tambahan hingga satu juta rupiah lebih per bulan. Sebuah angka yang cukup berarti bagi seorang pekerja kuli bangunan seperti dirinya.

Taufik bukanlah sosok yang tiba-tiba terinspirasi dari video zero waste di media sosial. Ia adalah "lulusan lapangan" sejati.

Pengalaman selama lima tahun bekerja di TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle) telah membekalinya dengan ilmu dan keterampilan untuk menaklukkan aroma tak sedap dan menghasilkan pupuk organik berkualitas. Kini, ilmu tersebut ia terapkan di halaman rumahnya sendiri.

Dalam setiap proses pengomposan, Taufik mampu mengolah hingga dua ton sampah organik. Bahan bakunya pun sederhana, yaitu sisa dapur tetangga, daun kering dari kebun, dan berbagai limbah organik lainnya.

Dalam waktu singkat, semua limbah tersebut berubah menjadi pupuk kompos berwarna gelap, lembut, dan beraroma tanah basah yang khas.

Jika sebelumnya Taufik menjual kompos dalam kemasan 4 kg, kini ia hanya menyediakan kemasan karung 20 kg. Strategi ini ternyata ampuh untuk meningkatkan penjualan.

Baca Juga: Kampung SIBA KLASIK Gresik Terapkan Kurban Minim Sampah

"Sekarang cuma jual kemasan 20 kg aja. Orang-orang lebih milih yang gede, sekalian banyak," ujarnya.

Pelanggan Taufik pun beragam, mulai dari anggota PKK, sekolah adiwiyata, hingga para penghobi tanaman dari berbagai kecamatan di Wringinanom, Benjeng, Balongpanggang, hingga Gresik kota. Mereka percaya bahwa kompos buatan Taufik mampu membuat tanaman lebih subur dan hasil panen melimpah.

Dari hasil penjualan kompos organik, Taufik mampu menambah penghasilan antara Rp800 ribu hingga Rp1,3 juta setiap bulannya. Baginya, ini adalah hasil dari kerja keras, ketekunan, dan kontribusi nyata terhadap lingkungan. Ia menjual sebagian komposnya secara langsung, dan sebagian lagi melalui mitra yang membantu distribusi.

Taufik telah membuktikan bahwa bisnis ramah lingkungan tidak harus mewah dan glamor. Terkadang, bisnis tersebut justru bisa dimulai dari halaman rumah, dengan memanfaatkan karung bekas dan limbah organik yang diolah dengan sabar hingga menjadi pupuk yang bernilai.

Baca Juga: JIIPE Peduli Bagikan Puluhan Hewan Kurban ke Masyarakat Gresik

Di akhir perbincangan, Taufik menyampaikan harapan sederhananya, yaitu agar semakin banyak orang sadar untuk memilah sampah dari rumah. Menurutnya, jika semua warga bisa memisahkan sampah organik dan anorganik, maka masalah sampah di Indonesia akan berkurang secara signifikan.

"Sampah organik bisa jadi kompos, bisa untuk nutrisi tanaman pangan dan nonpangan," ucapnya.

Kisah Achmad Taufik adalah bukti nyata bahwa perubahan besar bisa dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana. Dari Gresik, ia menginspirasi banyak orang untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan melihat peluang di balik tumpukan sampah.

 

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Akhir Pekan Cuaca di Surabaya Cerah, tapi Waspada Panas yang Menyengat

Tidak terlihat adanya potensi hujan yang signifikan sepanjang hari. Cuaca mendukung berbagai aktivitas masyarakat, khususnya aktivitas di luar ruangan.

Tuai Polemik, Komisi III DPRD Kota Probolinggo Sidak Proyek Swalayan Jalan Cokro

Komisi III telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi untuk memastikan kelengkapan izin proyek di atas lahan seluas 1,3 hektare tersebut.

Update Kepulangan Haji 2026: 7.581 Jemaah Tiba via Debarkasi Surabaya

Update kepulangan haji 2026 Debarkasi Surabaya: 7.581 jemaah dari 20 kloter tiba di Tanah Air. 2 jemaah asal Malang wafat, 3 lainnya dirawat di RS Arab Saudi.

Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional di Jember, Lansia Tangguh Indonesia Tumbuh

Pengalaman dan kebijaksanaan yang dimiliki para lansia merupakan fondasi penting dalam pembangunan bangsa.

Plt Bupati Tulungagung Ajak Masyarakat Lakukan Pemilahan Sampah Dari Sumber

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026, Pemkab Tulungagung gelar deklarasi gerakan pemilahan dan pengolahan sampah dari sumber.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Pakar Ingatkan Ancaman Krisis Energi

Pakar lingkungan soroti krisis energi, penumpukan sampah, hingga bahaya mikropolutan di momen Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.