Minggu, 07 Jun 2026 09:50 WIB

Bertani Tebu Tak Semanis Gula Tebu

  • Penulis :
  • | Rabu, 15 Okt 2025 21:12 WIB
Ketua Bidang Pertanian dan Perkebunan PW GP Ansor Jatim, H. Deni Prasetya, berada di lahan tebu. (Foto/Dok Pribadi)
Ketua Bidang Pertanian dan Perkebunan PW GP Ansor Jatim, H. Deni Prasetya, berada di lahan tebu. (Foto/Dok Pribadi)

jatimnow.com - Industri gula nasional saat ini berada dalam situasi paradoks yang memprihatinkan. Meskipun Indonesia dikenal sebagai negara agraris dengan potensi lahan subur yang melimpah, para petani tebu justru menghadapi berbagai masalah yang membuat usaha mereka tidak semanis hasil gulanya. Keadaan ini mencerminkan belum optimalnya pengelolaan sektor pergulaan nasional secara menyeluruh, dari awal hingga akhir.

Program Bongkar Ratoon yang diinisiasi oleh pemerintah sebenarnya merupakan langkah yang positif untuk meningkatkan produktivitas tanaman tebu melalui peremajaan. Namun, keberhasilan program ini sangat bergantung pada perencanaan teknis yang terperinci, jelas, dan terukur.

Baca Juga: Menkop Dukung Kemitraan Petani-Koperasi di Kediri, Kejar Swasembada Gula 2028

Pelatihan dan pendampingan bagi petani menjadi sangat penting agar mereka mampu menjadi penakar bibit bersertifikasi dan secara mandiri menilai kualitas bibit. Dengan demikian, bibit yang digunakan akan lebih berkualitas, produktif, dan berkontribusi pada terwujudnya swasembada gula nasional.

Selain itu, perlu dilakukan pemetaan wilayah penanaman tebu, terutama di sekitar pabrik gula. Setiap wilayah memiliki karakteristik tanah, iklim, dan pola tanam yang berbeda, sehingga jenis bibit, waktu tanam, hingga masa panen perlu disesuaikan dengan kondisi setempat.

Pendekatan berbasis wilayah ini akan memberikan dampak langsung pada peningkatan rendemen, yaitu kadar gula yang dihasilkan dari tebu, yang selama ini menjadi masalah utama penyebab rendahnya keuntungan petani.

Di era modern ini, pertanian juga harus didukung oleh teknologi yang canggih. Penggunaan alat berat seperti traktor untuk pengolahan tanah, drone untuk penyiraman, hingga mesin panen otomatis bukan lagi barang mewah, melainkan kebutuhan mendesak.

Dengan dukungan alat-alat modern, efisiensi kerja dapat ditingkatkan, biaya produksi dapat ditekan, dan kualitas hasil panen lebih terjamin. Sayangnya, sebagian besar petani tebu masih menggunakan cara-cara tradisional karena keterbatasan modal dan akses terhadap teknologi.

Masalah lain yang tak kalah penting adalah kondisi lahan tebu yang terus menurun kesuburannya akibat penanaman yang dilakukan terus-menerus tanpa jeda. Lahan yang tidak diistirahatkan akan kehilangan unsur hara penting dan berdampak pada penurunan hasil produksi.

Oleh karena itu, penggunaan pupuk organik menjadi suatu keharusan sebagai bagian dari penerapan pertanian berkelanjutan. Pemerintah dan pabrik gula sebaiknya mendorong langkah ini melalui pelatihan dan subsidi pupuk organik agar kesuburan tanah tetap terjaga dalam jangka panjang.

Kendala utama yang dihadapi petani tebu saat ini adalah akses terhadap permodalan. Mulai dari pengadaan bibit, biaya pengolahan lahan, perawatan, hingga proses tebang dan transportasi memerlukan biaya yang besar.

Tanpa dukungan finansial yang memadai, petani akan kesulitan untuk bertahan. Oleh karena itu, pemerintah perlu menyiapkan skema pembiayaan khusus bagi sektor pertebuan, baik dalam bentuk subsidi, pinjaman lunak, maupun kemitraan yang berpihak kepada petani.

Baca Juga: Mahasiswa Thailand Belajar SDGs dan Ekonomi Sirkular di Desa Suci Jember

Dalam konteks ini, koperasi dapat menjadi solusi yang tepat. Diperlukan kebijakan pemerintah yang memungkinkan permodalan dikelola oleh koperasi petani tebu. Koperasi berperan tidak hanya sebagai penyalur pinjaman, tetapi juga mengatur operasional petani hingga ikut serta dalam proses lelang gula hasil panen.

Dengan model koperasi yang transparan dan profesional, petani akan memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam rantai nilai industri gula.

Musim giling tahun 2025 menjadi catatan yang kurang baik bagi banyak petani. Banyak di antara mereka yang merasa khawatir karena gula hasil panennya tidak terserap pasar, bahkan sebelum sampai ke pabrik. Kondisi ini menyebabkan sebagian petani beralih ke komoditas lain yang dianggap lebih menjanjikan.

Pemerintah harus hadir dan mencari solusi terhadap fenomena ini, apakah masalahnya terletak pada kebijakan impor, lemahnya tata niaga, atau distribusi yang tidak efisien.

Di tengah kompleksitas masalah tersebut, ada satu isu mendasar yang juga perlu diperhatikan, yaitu minimnya regenerasi petani. Generasi muda saat ini cenderung menjauhi dunia pertanian karena dianggap kurang menjanjikan.

Pemerintah harus mendorong munculnya kelompok petani tebu muda melalui program yang menarik, berbasis teknologi digital, serta akses pembiayaan yang lebih terbuka. Regenerasi petani adalah upaya penting untuk membangun masa depan kedaulatan pangan bangsa.

Baca Juga: Gubernur Khofifah Optimistis Produktivitas Gula Jatim Terus Meningkat

Namun, semua upaya tersebut akan sia-sia jika impor gula pasir terus dibiarkan. Impor yang berlebihan tidak hanya menekan harga gula di dalam negeri, tetapi juga mematikan semangat para petani lokal.

Sudah saatnya pemerintah mengambil tindakan tegas untuk menghentikan impor gula secara bertahap dan fokus memperkuat produksi dalam negeri dengan kebijakan yang berpihak kepada petani.

Usaha bertani tebu memang tidak selalu semanis gula yang dihasilkan, terutama bagi para petani kecil yang menjadi tulang punggung industri ini.

Namun, dengan perencanaan yang matang, modernisasi peralatan, dukungan permodalan, serta keberpihakan nyata dari pemerintah, tebu Indonesia masih memiliki harapan untuk kembali memberikan keuntungan, bukan hanya di pabrik, tetapi juga dalam kehidupan para petaninya.

Oleh: H. Deni Prasetya
Ketua Bidang Pertanian dan Perkebunan PW GP Ansor Jatim

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Akhir Pekan Cuaca di Surabaya Cerah, tapi Waspada Panas yang Menyengat

Tidak terlihat adanya potensi hujan yang signifikan sepanjang hari. Cuaca mendukung berbagai aktivitas masyarakat, khususnya aktivitas di luar ruangan.

Tuai Polemik, Komisi III DPRD Kota Probolinggo Sidak Proyek Swalayan Jalan Cokro

Komisi III telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi untuk memastikan kelengkapan izin proyek di atas lahan seluas 1,3 hektare tersebut.

Update Kepulangan Haji 2026: 7.581 Jemaah Tiba via Debarkasi Surabaya

Update kepulangan haji 2026 Debarkasi Surabaya: 7.581 jemaah dari 20 kloter tiba di Tanah Air. 2 jemaah asal Malang wafat, 3 lainnya dirawat di RS Arab Saudi.

Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional di Jember, Lansia Tangguh Indonesia Tumbuh

Pengalaman dan kebijaksanaan yang dimiliki para lansia merupakan fondasi penting dalam pembangunan bangsa.

Plt Bupati Tulungagung Ajak Masyarakat Lakukan Pemilahan Sampah Dari Sumber

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026, Pemkab Tulungagung gelar deklarasi gerakan pemilahan dan pengolahan sampah dari sumber.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Pakar Ingatkan Ancaman Krisis Energi

Pakar lingkungan soroti krisis energi, penumpukan sampah, hingga bahaya mikropolutan di momen Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.