Rabu, 22 Jul 2026 15:08 WIB

Empati dan Keberanian Redam Amuk Massa di Gedung Grahadi

Pangdam V/Brawijaya, Mayjend TNI Rudy Saladin, meredam amarah massa dengan pendekatan humanis. (Foto/JatimNow.com)
Pangdam V/Brawijaya, Mayjend TNI Rudy Saladin, meredam amarah massa dengan pendekatan humanis. (Foto/JatimNow.com)

jatimnow.com - Malam mencekam di akhir Agustus 2025 nyaris meruntuhkan ikon Kota Surabaya, Gedung Negara Grahadi. Kobaran api melalap sisi barat gedung bersejarah itu, sementara ribuan massa yang marah menghujani bangunan dengan batu, molotov, dan petasan. Suara pecahan kaca berpadu dengan teriakan, menciptakan suasana yang mencekam.

Namun, di tengah kekacauan itu, tampil sosok yang mampu meredam amarah massa dengan pendekatan humanis: Pangdam V/Brawijaya, Mayjend TNI Rudy Saladin.

Baca Juga: Gubernur Khofifah Lepas Karnaval Budaya di Alun-Alun Bangkalan, Ini Harapannya

Beberapa jam sebelum kerusuhan pecah, Rudy Saladin memberanikan diri menemui langsung massa aksi. "Ijo! Ijo! Ijo!", sorak massa menyambut kedatangannya. Dengan senyum yang menenangkan, ia berusaha mencairkan ketegangan.

"Saya melihat mereka dewasa. Ketika ada yang melempar botol, mahasiswa sendiri yang melarang. Mereka tak suka kerusuhan," ungkap Rudy, menjelaskan alasannya memilih pendekatan dialog.

Keputusan ini bukan tanpa risiko. Rudy mengakui sempat bergulat dengan keraguan sebelum terjun ke tengah kerumunan. Namun, naluri kepemimpinannya mendorongnya untuk berempati dan mendengarkan tuntutan mahasiswa.

"Mereka minta teman-temannya yang ditahan di Polrestabes Surabaya dibebaskan. Saya sampaikan, kita cari jalan bersama," jelasnya.

Setelah berdialog, Rudy bersama Gubernur Khofifah Indar Parawansa dan Kapolda Jatim bergerak cepat menuju Polrestabes Surabaya untuk melobi pembebasan mahasiswa. Namun, situasi kembali memanas saat rombongan meninggalkan Grahadi, dan api mulai berkobar.

Di tengah kobaran api, Kepala Staf Korem 084/Bhaskara Jaya, Kolonel Inf Nico Reza H. Dipura, menerima perintah langsung dari Pangdam V/Brawijaya untuk mengamankan lokasi dan memastikan pemadam kebakaran dapat bekerja dengan aman.

"Segera padamkan," tegas Nico, mengutip perintah Mayjend TNI Rudy Saladin saat mendengar insiden tersebut. Ia pun segera berkoordinasi dengan seluruh personel di lokasi untuk memadamkan api.

Baca Juga: Khofifah Sebut ALLPACK Surabaya Perkuat Hilirisasi dan Daya Saing IKM

Wakil Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Surabaya, Bambang Vistadi, juga bergerak cepat mengatur strategi pemadaman. "Kalau terlambat lima menit saja, habis sudah Grahadi," kenangnya, menggambarkan betapa gentingnya situasi saat itu.

Dengan sigap, Bambang mengerahkan empat truk pemadam kebakaran untuk menjangkau titik api dari sisi belakang Grahadi, yang telah diamankan oleh TNI dan warga.

"Kami menggunakan metode spray dan jet secara bergantian untuk memadamkan api," jelasnya.

Rudy Saladin mengungkapkan empat hal penting yang menjadi senjatanya dalam menghadapi situasi genting seperti ini: berpikir cepat, intuisi, berani mengambil risiko, dan empati.

Baca Juga: Ada Demo Mahasiswa, Polisi Siapkan Skema Rekayasa Lalu Lintas di Sekitar Grahadi

"Berpikir cepat, intuisi, berani mengambil risiko, dan empati sangat penting dalam kondisi demikian," tegasnya.

Baginya, menjaga stabilitas tidak bisa dilakukan TNI sendirian. Ia menekankan pentingnya sinergi lima unsur: pemerintah, akademisi, masyarakat, media, dan dunia usaha.

"Kita hidup di era post-truth. Kalau lima unsur ini tidak saling percaya, yang hancur pertama kali adalah ekonomi. Dunia usaha harus yakin pemerintah mampu menjaga keamanan," pungkasnya.

Berkat sinergi dan kepemimpinan yang humanis, api berhasil dipadamkan sebelum merembet ke gedung utama.

Mahasiswa pun turut membantu menjaga ketertiban, membuktikan bahwa pendekatan yang tepat dapat meredam amarah dan mencegah kekacauan yang lebih besar.

Editor : Tim Jatimnow
Berita Terbaru

Target 100 GW dan Bottleneck Energi Surya Indonesia

Hingga hari ini, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia baru sedikit melampaui 1 gigawatt (GW).

5 Fakta Anak Angkat dan Pacarnya Bunuh Ayah di Nganjuk, Ada Cinta Tak Direstui

Penyidikan juga mengungkap pembunuhan pria oleh anak angkatnya itu diduga telah dirancang beberapa hari sebelumnya.

Oknum Polisi di Blitar Ditangkap Saat Pesta Narkoba

Polisi masih melakukan pendalaman terkait kasus ini, oknum anggota Polres Blitar Kota sudah dilakukan penahanan.

Wabup Lamongan Harapkan MPLS Jadi Pijakan Menuju Pendidikan Inklusif

MPLS Ramah merupakan pondasi awal bagi peserta didik dalam membangun karakter, semangat belajar, dan kesiapan menghadapi proses pendidikan.

Prabowo Hadiri Panen Raya Tebu di Malang, Ratusan Petugas Jaga Ketat Rute VVIP

Panen raya dipusatkan di lahan tebu kawasan Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh, Dusun Krajan, Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis.

Beraksi di 20 TKP, Pasangan Jambret Asal Malang Ditangkap Polisi Tulungagung

Sasar pedagang yang hendak pergi ke pasar, salah satu korban meninggal dunia usai dijambret tersangka.