Sabtu, 06 Jun 2026 10:03 WIB

Perayaan Suro

Warga Jarak Dolly Surabaya Pertahankan Budaya Leluhur, Tolak Stigma Negatif

  • Penulis : Ali Masduki
  • | Minggu, 27 Jul 2025 09:35 WIB
Perayaan Suro tahun ini dilakukan di Pesarehan Eyang Mbah Kapiludin, Jarak Dolly. Foto: Ali Masduki/JatimNow.com
Perayaan Suro tahun ini dilakukan di Pesarehan Eyang Mbah Kapiludin, Jarak Dolly. Foto: Ali Masduki/JatimNow.com

jatimnow.com -  Komunitas Suroboyo Wani Berbudaya, gabungan berbagai organisasi dan komunitas di Surabaya, menegaskan komitmennya dalam melestarikan budaya Jawa dan menolak stigma negatif yang selama ini melekat pada wilayah Jarak Dolly. 

Peringatan tahun baru Jawa 1959 Saka, atau Suro, menjadi momentum bagi komunitas ini untuk memperkuat identitas budaya. 

Baca Juga: Awali Buka Giling, PG Modjopanggung Tulungagung Gelar Manten Tebu

Menurut Ki Ageng Kinco, Jubir Suroboyo Wani Berbudaya,  peringatan Suro dirayakan dengan berbagai ritual,  seperti semedi, meditasi, dan merawat pusaka leluhur. 

"Ini adalah wujud menyucikan diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa," jelas Ki Ageng, Sabtu (26/7) malam.

Perayaan Suro tahun ini dilakukan di Pesarehan Eyang Mbah Kapiludin, Jarak Dolly.  Ki Ageng menekankan bahwa lokasi tersebut dipilih untuk menunjukkan konsistensi warga Jarak Dolly dalam menjaga warisan budaya leluhur, terlepas dari stigma negatif yang sering dikaitkan dengan wilayah tersebut.

Baca Juga: Tradisi Lebaran Ketupat di Trenggalek yang Sudah Berlangsung Sejak Ratusan Tahun

"Stigma preman, judi, dan mabuk tidak boleh melemahkan niat suci kami untuk melestarikan budaya," tegasnya.

Suroboyo Wani Berbudaya sendiri merupakan aliansi yang beranggotakan Perserikatan Seni Nasional (PSN), KOJAR, Komunitas Jarak Dolly, SPS Satrio Pendowo Sejati, Perguruan Pencak Silat Kera Sakti, Bonek Sawahan, Pandepokan Sukmo Limo, dan Arek-arek Nusantara. 

Mereka berkomitmen untuk mempertahankan kebudayaan leluhur di Surabaya dan menolak pengaruh budaya asing yang dianggap dapat merusak nilai-nilai lokal.

"Bangsa yang kuat tidak akan meninggalkan ajaran warisan leluhurnya," kata Ki Ageng.

Baca Juga: Kisah Inspiratif Christopher, Dalang Tionghoa ITS yang Dobrak Sekat Inklusi

Ia berharap, upaya pelestarian budaya ini akan membawa kedamaian, ketenangan, dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat. 

"Semoga siapapun yang berbuat baik terhadap ajaran budaya warisan leluhurnya akan mendapatkan sinar-sinar pepadang," tambahnya.

Editor : Ni'am Kurniawan
Berita Terbaru

Kakak Beradik Terseret Ombak di Pantai Payangan Jember, Satu Ditemukan Tewas

Kedua korban dilaporkan hilang terseret ombak saat berwisata bersama keluarga.

Puncak Arus Balik Idul Adha 2026, Daop 8 Surabaya Layani 284 Ribu Penumpang

Puncak arus balik libur panjang Idul Adha 2026 bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila. KAI Daop 8 Surabaya catat lonjakan tembus 284 ribu penumpang. Simak data lengkapnya di sini.

Jambret iPhone Turis Jerman di Kota Lama Surabaya Ditembak Polisi

Polisi menangkap pelaku jambret iPhone milik wisatawan asal Jerman di Kota Lama Surabaya. Pelaku dilumpuhkan karena melawan saat ditangkap.

Kapolres dan Dandim 0820 Probolinggo Terima Gelar Warga Kehormatan Suku Tengger

Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat pada Malam Resepsi Yadnya Kasada di Pendopo Agung Desa Ngadisari.

Tabrak Pohon, Truk Pengangkut Ikan Asal Lamongan Terguling di JLS Tulungagung

Truk dalam perjalanan menuju Prigi Trenggalek, pengemudi dan penumpang alami luka serius.

Peringatan Hari Raya Waisak di Tulungagung, Ajak Umat Bersumbangsih Untuk Negeri

Puluhan umat Buddha mengikuti prosesi detik-detik peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak di Vihara Buddha Loka Tulungagung.