Sabtu, 06 Jun 2026 16:53 WIB

Ramadan Now 2025

Sumur Giling Sunan Sendang Duwur Lamongan 5 Abad Tak Pernah Surut

Penampakan Sumur Giling peninggalan Sunan Sendang Duwur Lamongan. (Foto : Adyad Ammy Iffansah/jatimnow.com)
Penampakan Sumur Giling peninggalan Sunan Sendang Duwur Lamongan. (Foto : Adyad Ammy Iffansah/jatimnow.com)

jatimnow.com - Menelusuri jejak warisan penyebaran Islam di pesisir Lamongan tak lepas dari peran Sunan Sendang Duwur atau Raden Noer Rahmad. Salah satu peninggalannya yakni Sumur Giling.

Hidup di abad ke-15 sekitar 1520-1585 M, Raden Noer Rahmat banyak meninggalkan artefak maupun benda dan tempat bersejaran di Desa Sendang Duwur, Kecamatan Paciran, Lamongan.

Baca Juga: Pastikan Kesehatan Hewan Kurban, Disnakeswan Lamongan Sidak Lapak di Pinggir Jalan

Keberadaan Sumur Giling hingga kini masih diselimuti misteri. Selain rasa tawar lokasinya yang berada di puncak bukit juga karena suwur tersebut tak pernah surut.

Jika sumur itu ada sejak masa Raden Noer Rahmat maka 5 abad atau 500 tahun sudah sumur tersebut menjadi saksi bisu perkembangan zaman. Ajaibnya sejak dibuat, Sumur Giling tidak pernah surut dan bentuknya tetap dipertahankan hingga saat ini.

Letaknya berada di sisi timur Masjid Tiban, yang juga menjadi salah satu peninggalan ikonik Raden Noer Rohmad.

Asal muasal sumur tersebut penuh kisah menarik. Dikisahkan jika Raden Noer Rohmad memindahkan masjid dari Mantingan, Jepara ke atas Bukit Dusun Amin Tunon yang sekarang menjadi Desa Sendang Duwur dalam waktu semalam.

"Setelah masjid dipindah ke sini, pastinya butuh sumber air untuk berwudhu dan bersuci. Karena di sekitar sini sulit ditemukan sumber air, kemudian Mbah Sunan Sendang bermunajat kepada Allah," ungkap keturunan ke-13 Sunan Sendang Duwur, Irvan Masyuri, Selasa (18/3/2025).

Baca Juga: Omzet Harian Tembus Rp 4 Juta, KDMP di Lamongan Disambut Positif Masyarakat

Seusai bermunajat itu, lanjut Irvan, Sunan Sendang kemudian diberi petunjuk langsung melalui kilauan sinar terang yang jatuh tepat di sebelah timur Masjid Tiban.

"Sinar jatuh dari langit tepat di sisi timur masjid. Selanjutnya Mbah Sunan Sendang melihat sinar yang jatuh. Kebetulan sinar yang jatuh itu menembus tanah dan berasap," lanjutnya.

Dari sinar yang diyakini sebagai petunjuk adanya sumber air, letak jatuhnya cahaya tersebut digali dan mengeluarkan sumber air.

Baca Juga: Selama Libur Panjang, Stasiun Lamongan Layani 3 Ribu Penumpang

"Sumur tersebut sampai sekarang masih dipakai, dan dipertahankan bentuk aslinya," ujarnya.

Lebih lanjut, Irvan menyampikan penamaan Giling dalam sumur tersebut diambil dari cara pengambilan air yang menggunakan alat menyerupai penggilingan padi kuno yang dikaitkan dengan tali dan ember.

"Tidak banyak yang diubah dan direnovasi, kami mempertahankan orisinalitasnya," pungkasnya.

Editor : Zaki Zubaidi
Berita Terbaru

Kakak Beradik Terseret Ombak di Pantai Payangan Jember, Satu Ditemukan Tewas

Kedua korban dilaporkan hilang terseret ombak saat berwisata bersama keluarga.

Puncak Arus Balik Idul Adha 2026, Daop 8 Surabaya Layani 284 Ribu Penumpang

Puncak arus balik libur panjang Idul Adha 2026 bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila. KAI Daop 8 Surabaya catat lonjakan tembus 284 ribu penumpang. Simak data lengkapnya di sini.

Jambret iPhone Turis Jerman di Kota Lama Surabaya Ditembak Polisi

Polisi menangkap pelaku jambret iPhone milik wisatawan asal Jerman di Kota Lama Surabaya. Pelaku dilumpuhkan karena melawan saat ditangkap.

Kapolres dan Dandim 0820 Probolinggo Terima Gelar Warga Kehormatan Suku Tengger

Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat pada Malam Resepsi Yadnya Kasada di Pendopo Agung Desa Ngadisari.

Tabrak Pohon, Truk Pengangkut Ikan Asal Lamongan Terguling di JLS Tulungagung

Truk dalam perjalanan menuju Prigi Trenggalek, pengemudi dan penumpang alami luka serius.

Peringatan Hari Raya Waisak di Tulungagung, Ajak Umat Bersumbangsih Untuk Negeri

Puluhan umat Buddha mengikuti prosesi detik-detik peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak di Vihara Buddha Loka Tulungagung.