Sabtu, 06 Jun 2026 23:56 WIB

Pengakuan UNESCO atas Reog Ponorogo Terganjal Dua Hal, Begini Penjelasan Menko PMK

Pawai Budaya Reog Ponorogo di Jakarta (Kementerian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan for jatimnow.com)
Pawai Budaya Reog Ponorogo di Jakarta (Kementerian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan for jatimnow.com)

jatimnow.com - Upaya untuk memperoleh pengakuan dari UNESCO atas Reog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) akhirnya menemukan titik terang.

Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy, mengungkapkan bahwa berbagai kendala dalam proses ini telah diatasi, termasuk masalah penggunaan bulu burung merak dan kulit harimau dalam pertunjukan Reog.

Baca Juga: Tampilkan Reog Ponorogo, Prajurit KRI Bima Suci Sukses Pikat Warga Colombo

Menurut Muhadjir Effendy, Pemerintah Kabupaten Ponorogo telah memberikan klarifikasi mengenai dua hal tersebut. Bulu burung merak yang digunakan dalam pertunjukan Reog berasal dari bulu yang secara alami lepas dari peternakan burung merak yang dikelola oleh pemerintah daerah.

Sedangkan kulit kambing menjadi alternatif bagi kulit harimau yang telah diolah sedemikian rupa oleh pengrajin Reog.

"Penggunaan bulu burung merak dan kulit harimau, dua hal ini yang mengganjal," ujar Muhadjir Effendy.

Menurut Muhadjir Effendy, Pemkab Ponorogo telah menjelaskan kepada UNESCO mengenai klarifikasi tersebut. Dokumen pengajuan WBTB Reog Ponorogo telah diserahkan secara simbolis oleh Muhadjir Effendy, sebagai langkah awal dalam proses persidangan yang dijadwalkan akan dilakukan oleh UNESCO pada bulan Desember 2024 mendatang.

Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, menambahkan bahwa dalam upaya untuk menjaga keberlanjutan Reog Ponorogo sebagai budaya yang ramah lingkungan.

Baca Juga: Melacak Keberadaan Bupati Ponorogo Usai OTT KPK

“Pemerintah daerah saat ini menggunakan kulit sapi atau kambing yang diolah sedemikian rupa agar mirip dengan kulit harimau,” beber Kang Giri, sapaan akrab Sugiri Sancoko, Senin (28/8/2023).

Hal ini sejalan dengan harapan untuk menciptakan Reog yang tidak melibatkan penggunaan binatang. Sugiri Sancoko menjelaskan bahwa penggunaan bulu merak dalam Reog Ponorogo juga didukung oleh kenyataan bahwa bulu-bulu tersebut secara alami rontok setahun sekali

”Sehingga penggunaannya tidak merugikan burung merak itu sendiri,” tegasnya.

Baca Juga: Suasana Sepi di Rumah Dinas Bupati Ponorogo Usai Kabar OTT KPK

Dalam rangka mendukung upaya pengusulan Reog Ponorogo sebagai WBTB, Kementerian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan menginisiasi Pawai Budaya Reog Ponorogo yang bertujuan untuk memeriahkan HUT ke-78 Republik Indonesia serta Gerakan Nasional Revolusi Mental.

Pawai ini juga akan melibatkan berbagai jenis seni budaya lainnya yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO.

Dengan usaha gigih pemerintah dan melalui upaya menjawab berbagai tantangan, Reog Ponorogo terus bergerak menuju pengakuan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda dunia, yang akan menjadi kebanggaan bagi masyarakat Ponorogo dan Indonesia secara keseluruhan.

Editor : Endang Pergiwati
Berita Terbaru

Tuai Polemik, Komisi III DPRD Kota Probolinggo Sidak Proyek Swalayan Jalan Cokro

Komisi III telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi untuk memastikan kelengkapan izin proyek di atas lahan seluas 1,3 hektare tersebut.

Update Kepulangan Haji 2026: 7.581 Jemaah Tiba via Debarkasi Surabaya

Update kepulangan haji 2026 Debarkasi Surabaya: 7.581 jemaah dari 20 kloter tiba di Tanah Air. 2 jemaah asal Malang wafat, 3 lainnya dirawat di RS Arab Saudi.

Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional di Jember, Lansia Tangguh Indonesia Tumbuh

Pengalaman dan kebijaksanaan yang dimiliki para lansia merupakan fondasi penting dalam pembangunan bangsa.

Plt Bupati Tulungagung Ajak Masyarakat Lakukan Pemilahan Sampah Dari Sumber

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026, Pemkab Tulungagung gelar deklarasi gerakan pemilahan dan pengolahan sampah dari sumber.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Pakar Ingatkan Ancaman Krisis Energi

Pakar lingkungan soroti krisis energi, penumpukan sampah, hingga bahaya mikropolutan di momen Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.

Peringati Hari Pers Nasional, PWI Tulungagung Siapkan Literasi Media

Pemerintah Kabupaten Tulungagung menyampaikan apresiasi atas dedikasi insan pers yang selama ini menjadi mitra strategis dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.