Minggu, 07 Jun 2026 17:39 WIB

Petani Banyuwangi Manfaatkan Burung Hantu Basmi Hama Tikus

Petani membuat rumah burung hantu untuk memberantas tikus. (Foto: Poktan Karya Manunggal for jatimnow.com)
Petani membuat rumah burung hantu untuk memberantas tikus. (Foto: Poktan Karya Manunggal for jatimnow.com)

jatimnow.com - Tikus jadi salah satu hama perusak tanaman padi petani. Hal ini dirasakan petani di Desa Tambakrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi. Saat jengah dengan ulah tikus, ide untuk memanfaatkan burung hantu kemudian muncul.

Burung hantu jenis Tyto Alba menjadi pembasmi hama tikus alami andalan petani setempat. Tak rumit, petani cukup menyediakan rumah tinggal dari kotak kayu disebut pagupon.

Baca Juga: Penyelundupan Ratusan Burung Tanpa Dokumen Digagalkan di Ketapang

“Pagupon itu kami buat sendiri dan dipasang di ketinggian lebih dari delapan meter dari permukaan tanah dengan bambu atau ditaruh di atas pohon,” kata Ponidi (60) Ketua Subblok Jogo Tirto, Jumat (17/3/2023).

Ponidi mengatakan, pemanfaatan Tyto Alba sebagai pengendali alami hama tikus di desanya sudah berlangsung lebih dari sepuluh tahun.

Ide tersebut, jelas Ponidi, berawal dari dari mantan penyuluh pertanian lapang (PPL).

“Dulu yang mengajak Pak Pitoyo, salah satu mantan PPL. Yang dipelajari ketika berada di Jombang. Dan diterapkan di wilayah kami,” katanya.

Untuk memuluskan ide itu, lanjut Pitoyo, mereka bersama-sama membeli indukan Tyto Alba. Harganya bekisar antara R 2,5 juta hingga Rp3,5 juta.

"Kami belinya satu ekor dulu, kemudian saat ada uang, beli lagi satu ekor," katanya.

Lambat laun populasi indukan berkembang hingga enam ekor. Dari enam ekor burung, lanjut Ponidi, dapat melindungi lahan sawah seluas 20 hektare lebih.

"Satu ekornya juga dapat memangsa sampai 20 ekor tikus dalam semalam,” ungkapnya.

Kini, sudah ada sekitar seribu ekor burung hantu lumbung yang tersebar di wilayah Desa Tambakrejo, Kecamatan Muncar.

Baca Juga: Rakyat Desa Memang Tidak Memegang Dollar, Tetapi Tetap Menanggung Dampaknya

“Itu kami biarkan makan dan berkembang biak sendiri selama hampir 13 tahun, sehingga jumlahnya sudah banyak,” tuturnya.

Terpisah, Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi, Ilham Juanda mengatakan, pemanfaatan Tyto Alba untuk memerangi hama tikus dinilai efektif secara alami.

Terlebih, musuh alami tikus saat ini mulai berkurang sedangkan tingkat reproduksinya sangat tinggi.

"Sehingga pengembangan dan pemanfaatan burung hantu sebagai predator alami cukup efektif," ujarnya.

Pemafaatan burung hantu, kata Ilham, dianggap jauh lebih aman ketimbang penggunaan bahan kimia dalam hal ini racun tikus. Karena sifat kimianya yang bisa merusak semua.

"Karena racun itu kan tidak spesifik yang justru bisa merusak serangga lain yang sifatnya menguntungkan. Sedangkan burung hantu sifatnya lebih spesifik yakni memburu timur sebagai mangsanya," jelasnya.

Baca Juga: Warga Banyuwangi Keluhkan Langkanya LPG 3 Kg Jelang Lebaran

Di Banyuwangi sendiri, jelas Ilham, pemanfaatan rubuha atau rumah burung hantu (Rubuha) masih sangatlah kecil. Dari luas area persawahan di Banyuwangi yang mencapai 65.000 hektare.

"Jadi masih sangatlah kecil ya dari luas area persawahan di Banyuwangi. Mungkin masih 1000 sampai 2000 hektare yang tercover (Rubuha). Dan akan terus kita tingkatkan minimal 10 persen populasi tanaman padi," terangnya.

Ilham mengatakan, pihaknya gencar melakukan sosialisasi terkait pemanfaatan rubuha kepada petani. Melalui, petugas penyuluh pertanian yang ada di setiap kecamatan.

"Disamping sosialisasi kita juga memberikan bimtek bagaimana cara memelihara dan mengembangkan Rubuha kepada petani melalui petugas di lapangan," pungkasnya.



Editor : Zaki Zubaidi
Berita Terbaru

Melihat Jejak Soekarno di Surabaya Melalui Pameran "Aku Arek Suroboyo"

Tema "Aku Arek Suroboyo" dipilih untuk menegaskan identitas Bung Karno sebagai putra daerah yang tumbuh dan ditempa di Surabaya sebelum menjadi tokoh besar Indonesia.

1.232 Atlet Taekwondo Bertarung di Ksatria Nusantara PBTI Series Kediri

Para atlet diharapkan dapat menjadi bibit-bibit terbaik Indonesia yang akan mewakili bangsa pada berbagai ajang internasional.

Menkop Bantah Isu Jual Beli Titik Koperasi Merah Putih, Sempat Viral di Kediri

Menkop Ferry menargetkan seluruh bangunan Koperasi Merah Putih, gerai usaha, serta fasilitas pendukung koperasi desa dapat selesai pada Agustus mendatang.

Turnamen Gerindra Cup U17 di Kediri Dimulai, Wadah Pembinaan Pesepakbola Muda

“Saya berharap dari stadion (Brawijaya) ini akan lahir pemain-pemain handal yang nantinya bisa memperkuat Indonesia," kata Anwar Sadad.

Menkop Dukung Kemitraan Petani-Koperasi di Kediri, Kejar Swasembada Gula 2028

Kolaborasi ini merupakan bentuk sinergi nyata antara koperasi, petani, dan pelaku industri.

Akhir Pekan Cuaca di Surabaya Cerah, tapi Waspada Panas yang Menyengat

Tidak terlihat adanya potensi hujan yang signifikan sepanjang hari. Cuaca mendukung berbagai aktivitas masyarakat, khususnya aktivitas di luar ruangan.