Minggu, 07 Jun 2026 04:38 WIB

Asal-Usul dan Pamor Nasi Boranan Lamongan yang Melegenda

Proses pembuatan nasi boranan di dapur salah satu pedagang di Dusun Kaotan. (foto : Adyad Ammy Iffansah/jatimnow.com)
Proses pembuatan nasi boranan di dapur salah satu pedagang di Dusun Kaotan. (foto : Adyad Ammy Iffansah/jatimnow.com)

jatimnow.com - Nasi boranan bukan sekadar kuliner khas Lamongan semata. Ada banyak kisah yang menyertai perjalanan makanan legendaris ini.

Misalnya, tentang pengambilan nama dan metode penjualan yang tergolong unik. Bahkan jarang dilakukan warga dari luar daerah Lamongan sekalipun.

Baca Juga: Venue Kejurprov X Biliar Jatim di Lamongan Dipindah, Ini Alasannya

Muncul pertama kali di Dusun Kaotan, Desa Sumberejo, Kecamatan/Kabupaten Lamongan. Nama boranan dicomot dari kalimat boran yang berarti 'wakul' sebagai wadah atau tempat nasi.

Boran sendiri terbuat dari anyaman bambu yang dibentuk sedemikian rupa agar lebih praktis dan memudahkan sebagai wadah nasi secara tradisional.

"Kalau penamaan boranan, dari cerita turun temurun diambil dari wadah boran," kata Bu Toni, salah satu penjual nasi boranan, Kamis (19/1/2023).

Tapi apakah sesederhana itu? Sulit untuk mengidentifikasi dan menelusurinya.

Baca Juga: Diminati Karena Kualitas, Selada Hidroponik Lapas Lamongan Suplai Dapur MBG

Menurut Bu Toni dari wadah boran, orang-orang dulu menjajakan makanan layaknya tukang jamu. Tentu saja dengan cara dipikul, dan berkeliling dari satu tempat ke tempat lainya.

"Jadi sejarahnya, memang dulu dipikul dan dijajakan dengan berjalan kaki," tuturnya.

Dari penelusuran jatimnow.com, kebanyakan dari pedagang nasi boran malah tidak mengetahui pencetus metode berdagang sengan cara berkeliling. Kendati demikian, cerita bertutur tersebut diyakini dan dipercaya warga Kaotan.

Baca Juga: Pastikan Kesehatan Hewan Kurban, Disnakeswan Lamongan Sidak Lapak di Pinggir Jalan

"Warga di sini yaa.... tahunya sekelumit cerita itu. Cerita bertutur saja. Kalau figur atau sosok pencetusnya saya malah nggak tahu, dan mungkin tidak banyak yang tahu," imbuhnya.

Meski begitu, warga di Dusun Kaotan sebagai sentra nasi boranan tetap melestarikan usaha kuliner secara turun temurun.

"Sekarang kebanyakan dijual mangkal pada satu tempat, penjualnya pun makin banyak," pungkasnya.

 
Editor : Rochman Arief
Berita Terbaru

Tuai Polemik, Komisi III DPRD Kota Probolinggo Sidak Proyek Swalayan Jalan Cokro

Komisi III telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi untuk memastikan kelengkapan izin proyek di atas lahan seluas 1,3 hektare tersebut.

Update Kepulangan Haji 2026: 7.581 Jemaah Tiba via Debarkasi Surabaya

Update kepulangan haji 2026 Debarkasi Surabaya: 7.581 jemaah dari 20 kloter tiba di Tanah Air. 2 jemaah asal Malang wafat, 3 lainnya dirawat di RS Arab Saudi.

Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional di Jember, Lansia Tangguh Indonesia Tumbuh

Pengalaman dan kebijaksanaan yang dimiliki para lansia merupakan fondasi penting dalam pembangunan bangsa.

Plt Bupati Tulungagung Ajak Masyarakat Lakukan Pemilahan Sampah Dari Sumber

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026, Pemkab Tulungagung gelar deklarasi gerakan pemilahan dan pengolahan sampah dari sumber.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Pakar Ingatkan Ancaman Krisis Energi

Pakar lingkungan soroti krisis energi, penumpukan sampah, hingga bahaya mikropolutan di momen Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.

Peringati Hari Pers Nasional, PWI Tulungagung Siapkan Literasi Media

Pemerintah Kabupaten Tulungagung menyampaikan apresiasi atas dedikasi insan pers yang selama ini menjadi mitra strategis dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.