Rabu, 22 Jul 2026 13:40 WIB

Asal-Usul dan Pamor Nasi Boranan Lamongan yang Melegenda

Proses pembuatan nasi boranan di dapur salah satu pedagang di Dusun Kaotan. (foto : Adyad Ammy Iffansah/jatimnow.com)
Proses pembuatan nasi boranan di dapur salah satu pedagang di Dusun Kaotan. (foto : Adyad Ammy Iffansah/jatimnow.com)

jatimnow.com - Nasi boranan bukan sekadar kuliner khas Lamongan semata. Ada banyak kisah yang menyertai perjalanan makanan legendaris ini.

Misalnya, tentang pengambilan nama dan metode penjualan yang tergolong unik. Bahkan jarang dilakukan warga dari luar daerah Lamongan sekalipun.

Baca Juga: Wabup Lamongan Harapkan MPLS Jadi Pijakan Menuju Pendidikan Inklusif

Muncul pertama kali di Dusun Kaotan, Desa Sumberejo, Kecamatan/Kabupaten Lamongan. Nama boranan dicomot dari kalimat boran yang berarti 'wakul' sebagai wadah atau tempat nasi.

Boran sendiri terbuat dari anyaman bambu yang dibentuk sedemikian rupa agar lebih praktis dan memudahkan sebagai wadah nasi secara tradisional.

"Kalau penamaan boranan, dari cerita turun temurun diambil dari wadah boran," kata Bu Toni, salah satu penjual nasi boranan, Kamis (19/1/2023).

Tapi apakah sesederhana itu? Sulit untuk mengidentifikasi dan menelusurinya.

Baca Juga: Diduga Karena Korsleting Listrik, Kantor LSM di Lamongan Terbakar

Menurut Bu Toni dari wadah boran, orang-orang dulu menjajakan makanan layaknya tukang jamu. Tentu saja dengan cara dipikul, dan berkeliling dari satu tempat ke tempat lainya.

"Jadi sejarahnya, memang dulu dipikul dan dijajakan dengan berjalan kaki," tuturnya.

Dari penelusuran jatimnow.com, kebanyakan dari pedagang nasi boran malah tidak mengetahui pencetus metode berdagang sengan cara berkeliling. Kendati demikian, cerita bertutur tersebut diyakini dan dipercaya warga Kaotan.

Baca Juga: Stok Ketersediaan Sapi di Lamongan Menurun, Harga Daging Mengalami Kenaikan

"Warga di sini yaa.... tahunya sekelumit cerita itu. Cerita bertutur saja. Kalau figur atau sosok pencetusnya saya malah nggak tahu, dan mungkin tidak banyak yang tahu," imbuhnya.

Meski begitu, warga di Dusun Kaotan sebagai sentra nasi boranan tetap melestarikan usaha kuliner secara turun temurun.

"Sekarang kebanyakan dijual mangkal pada satu tempat, penjualnya pun makin banyak," pungkasnya.

 
Editor : Rochman Arief
Berita Terbaru

Target 100 GW dan Bottleneck Energi Surya Indonesia

Hingga hari ini, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia baru sedikit melampaui 1 gigawatt (GW).

5 Fakta Anak Angkat dan Pacarnya Bunuh Ayah di Nganjuk, Ada Cinta Tak Direstui

Penyidikan juga mengungkap pembunuhan pria oleh anak angkatnya itu diduga telah dirancang beberapa hari sebelumnya.

Oknum Polisi di Blitar Ditangkap Saat Pesta Narkoba

Polisi masih melakukan pendalaman terkait kasus ini, oknum anggota Polres Blitar Kota sudah dilakukan penahanan.

Prabowo Hadiri Panen Raya Tebu di Malang, Ratusan Petugas Jaga Ketat Rute VVIP

Panen raya dipusatkan di lahan tebu kawasan Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh, Dusun Krajan, Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis.

Beraksi di 20 TKP, Pasangan Jambret Asal Malang Ditangkap Polisi Tulungagung

Sasar pedagang yang hendak pergi ke pasar, salah satu korban meninggal dunia usai dijambret tersangka.

Panitia Muktamar NU Mulai Susun Cetak Biru Persiapan di Tambakberas Jombang

Panitia Muktamar Ke-35 NU mulai menyusun blueprint persiapan dari akomodasi, lokasi sidang hingga pengamanan di Tambakberas, Jombang.