Sabtu, 06 Jun 2026 19:20 WIB

Tolong! Anak 11 Tahun Penderita Gangguan Syaraf Otak di Jombang Butuh Bantuan

Ainur Syifa (11) anak asal Dusun Kemambang, Desa Tondowulan, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang yang menderita gangguan saraf sejak bayi (Foto: Elok Aprianto/jatimnow.com)
Ainur Syifa (11) anak asal Dusun Kemambang, Desa Tondowulan, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang yang menderita gangguan saraf sejak bayi (Foto: Elok Aprianto/jatimnow.com)

Jombang - Suryati, warga Dusun Kemambang, Desa Tondowulan, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang hanya bisa pasrah melihat penyakit anak semata wayangnya yang tak kunjung sembuh.

Janda satu anak ini mulai putus asa, lantaran tidak memiliki uang untuk mengobati anaknya bernama Ainur Syifa (11), yang menderita ganguan syaraf otak sejak bayi.

Baca Juga: Besut Mudik ke Jombang, Mencari Roh Dialektika di Tanah Para Pemikir

Suryati sehari-hari tinggal hanya berdua bersama putrinya di rumah peninggalan orangtuanya. Kondisi ini diperparah oleh pemandangan putri semata wayangnya hanya bisa berbaring di kasur yang digelar di atas lantai rumah.

Wanita 52 tahun itu menjelaskan, putrinya sejak kecil telah divonis dokter mengidap ganguan syaraf otak. Gejala penyakit itu sudah terlihat sejak awal lahir pada 11 tahun lalu.

Kala itu, bayi perempuannya terlahir dengan denyut jantung tidak normal. Juga mengalami kejang dan tidak menangis selama 11 hari sejak lahir.

"Pas mau lahiran itu awalnya saya pendarahan di rumah. Terus dibawa ke rumah sakit dan melahirkan normal. Lahir itu detak jantungnya satu dua tiga gitu. Di hari keempat itu muncul gejala kejang bayinya, terus diobati sembuh," ungkap Suryati saat ditemui di rumahnya, Senin (27/6/2022).

"Kemudian anak saya tidak nangis sampai hari ke-11. Malamnya itu mulai nangis, terus saya bawa pulang," terang Suryati sembari mengelus kepala Syifa.

Suryati mengatakan, pada saat anaknya berusia 4 bulan, ia menyadari ada keanehan. Pada usia itu, umumnya perkembangan bayi sudah terlihat. Namun Syifa tidak menunjukkan perkembangan normalnya bayi berusia 4 bulan.

Mendapati hal itu, Suryanti membawanya ke dokter spesialis anak di Jombang. Dari situ, ia mengetahui putrinya mengidap ganguan syaraf otak.

"Dari hasil USG terdapat lendir di otaknya. Katanya gangguan syaraf otak," paparnya.

Baca Juga: Potret Travesti Ludruk, Simbol Perlawanan yang Hadir di Pameran Foto Jombang

Sudah jatuh tertimpa tangga, kondisi perekonomian Suryati kian memburuk. Lantaran sang suami menceraikannya saat usia Syifa 1 tahun.

Kini dia terpaksa harus berjuang sendiri untuk mencari uang demi kesembuhan putrinya. Dengan mengandalkan pendapatan yang tak menentu dari pembuatan gerabah secara tradisional di rumahnya.

Penghasilan yang hanya Rp 350 sampai 500 ribu sebulan hanya cukup untuk kebutuhan makan dia dan anaknya sehari-hari. Kondisi ini membuat Suryati harus mengubah cara pengobatan anaknya itu.

Semula Syifa berobat ke dokter. Namun kini ia terpaksa harus berobat ke alternatif, yang harganya jauh lebih murah dan terjangkau.

Ditanya sampai saat ini apakah Syifa masih berobat ke alternatif, Suryati mengaku tak lagi membawa Syifa untuk berobat. Pasalnya, ia kini tak memiliki biaya.

Baca Juga: Beban Utang dan Gurita Korupsi, Akar Masalah Kemiskinan Dua Dekade

"Akhir-akhir dia umur 9 tahun itu saya pasrah, karena tidak ada duit. Penghasilan membuat gerabah hanya Rp 350 ribu paling sedikit dan paling banyak Rp 500 ribu, itu sebulan. Cukup ndak cukup saya cukupin. Kalau sekarang upaya berobat saya nyerah, sudah pasrah," terang dia.

Dan kini kondisi Syifa saat ini hanya bisa berbaring di kasur. Tubuh Syifa terlihat kurus dan lemas. Sesekali ia berpindah tempat dengan cara mengesot untuk menghampiri ibunya yang membuat gerabah dari tanah liat di dalam rumah.

Meski tidak bisa duduk maupun berjalan, Syifa masih mampu diajak berkomunikasi. Namun untuk ngomong, Syifa tidak bisa bicara secara lancar seperti orang pada umumnya.

Keinginannya bersekolah dan menjadi dokter gigi sempat terlontar saat wartawan menemuinya. Ucapan Syifa sontak membuat Suryati menitihkan air mata.

"Pingin (jadi) dokter gigi," ucap Syifa terbata-bata.

Editor : Narendra Bakrie
Berita Terbaru

Kakak Beradik Terseret Ombak di Pantai Payangan Jember, Satu Ditemukan Tewas

Kedua korban dilaporkan hilang terseret ombak saat berwisata bersama keluarga.

Puncak Arus Balik Idul Adha 2026, Daop 8 Surabaya Layani 284 Ribu Penumpang

Puncak arus balik libur panjang Idul Adha 2026 bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila. KAI Daop 8 Surabaya catat lonjakan tembus 284 ribu penumpang. Simak data lengkapnya di sini.

Jambret iPhone Turis Jerman di Kota Lama Surabaya Ditembak Polisi

Polisi menangkap pelaku jambret iPhone milik wisatawan asal Jerman di Kota Lama Surabaya. Pelaku dilumpuhkan karena melawan saat ditangkap.

Kapolres dan Dandim 0820 Probolinggo Terima Gelar Warga Kehormatan Suku Tengger

Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat pada Malam Resepsi Yadnya Kasada di Pendopo Agung Desa Ngadisari.

Tabrak Pohon, Truk Pengangkut Ikan Asal Lamongan Terguling di JLS Tulungagung

Truk dalam perjalanan menuju Prigi Trenggalek, pengemudi dan penumpang alami luka serius.

Peringatan Hari Raya Waisak di Tulungagung, Ajak Umat Bersumbangsih Untuk Negeri

Puluhan umat Buddha mengikuti prosesi detik-detik peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak di Vihara Buddha Loka Tulungagung.