Sabtu, 25 Jul 2026 17:26 WIB

Mantan Pramugari Cantik Ini Banting Setir Jualan Plafon

Realita Ika Prastika memilih menekuni berjualan plafon. (Foto: Mita Kusuma/jatimnow.com)
Realita Ika Prastika memilih menekuni berjualan plafon. (Foto: Mita Kusuma/jatimnow.com)

Ponorogo - Menjadi pramugari menjadi impian sejumlah orang. Selain gaji yang terbilang lumayan, pekerjaan tersebut memungkinkan seseorang untuk terbang gratis ke sejumlah tempat. Seperti pernah dijalani Realita Ika Prastika. Sebelum akhirnya, perempuan cantik kelahiran 29 tahun silam itu memilih pensiun dan menekuni pekerjaan lainnya.

Realita menjadi pramugari setelah lamarannya diterima salah satu maskapai penerbangan pada 2012. Kala itu, ia sempat melamar hingga dua kali.

Baca Juga: Ratusan Prajurit TNI Turun Gunung Bangun Infrastruktur Desa di Ponorogo

Rere, sapaan akrab Realita Ika Prastika, sudah merasakan terbang dari Sabang sampai Merauke. Paling suka saat terbang ke Papua, apalagi jika menginap. Menurutnya, warga Papua sangat friendly. Dia pun bisa jalan-jalan menikmati pantai di Papua.

Tapi kini, Rere memilih banting setir berjualan plafon. Perempuan berpawakan tinggi itupun tak ragu mengangkat plafon.

"Ya gimana, mbak. Ini pilihan hidup sih. Saya jadi pramugari setelah lulus SMA pada 2012 hingga 2017," ujar lulusan SMAN 2 Ponorogo itu.

Setelah tak lagi menjadi pramugari, Rere sempat membuka laundry. Usahanya bertahan selama 2 tahun. Kemudian memilih membuka usaha plafon bersama sang suami pada 2019. Awalnya, Rere berjuang berdua dengan sang suami. Tidak ada karyawan yang membantu. Jadi setiap ada pembeli, dia yang melayani.

"Termasuk angkut-angkut ke truk. Juga menghafalkan jenis plafon yang saya jual. Jadi ya biar tahu. Nggak malu kalau ada pembeli tanya," bebernya.

Baca Juga: Sambut 100 Tahun, Gontor Siapkan Buku Rekam Jejak dan Kontribusi Bagi Bangsa

Menurutnya, ada beberapa perbedaan antara menjadi pramugari dan tukang plafon. Seorang pramugari harus bekerja sendiri dan ontime serta dislpin. Saat terbang juga harus menguasai situasi. Melayani penumpang pesawat dengan berbagai karakter.

"Tanggung jawabnya besar. Siap jadi dokter, satu untuk semua. Semua harus ready, saat emergency harus tetap senyum. Seperti ke Ambon, pesawat sempat trouble, " terangnya.

Sementara usaha sendiri lebih fleksibel. Sebab bisa mengatur sesuai keinginan sendiri. Dia mengaku melakoni saja. Memulai usaha dari nol tanpa ada karyawan. Dia juga belajar tentang ilmu perplafonan.

Baca Juga: Vulcan Flow Ponorogo, Tawarkan Konsep Industrial Raw dan Ragam Menu Murah

"Saat ini alhamdulillah sudah ada dua karyawan. Bulan depan setelah Lebaran ada buka cabang di Madiun," tegasnya

Bicara penghasilan, Rere mengaku jadi pramugari ada gaji bulanan yang dipegang. Namun menjadi tukang plafon hasilnya juga besar.

"Usaha ini dua kali lipat. Tapi bisa turun, tergantung pasar," pungkas ibu satu anak ini.

Editor : Sofyan Cahyono
Berita Terbaru

Target 100 GW dan Bottleneck Energi Surya Indonesia

Hingga hari ini, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia baru sedikit melampaui 1 gigawatt (GW).

5 Fakta Anak Angkat dan Pacarnya Bunuh Ayah di Nganjuk, Ada Cinta Tak Direstui

Penyidikan juga mengungkap pembunuhan pria oleh anak angkatnya itu diduga telah dirancang beberapa hari sebelumnya.

Oknum Polisi di Blitar Ditangkap Saat Pesta Narkoba

Polisi masih melakukan pendalaman terkait kasus ini, oknum anggota Polres Blitar Kota sudah dilakukan penahanan.

Wabup Lamongan Harapkan MPLS Jadi Pijakan Menuju Pendidikan Inklusif

MPLS Ramah merupakan pondasi awal bagi peserta didik dalam membangun karakter, semangat belajar, dan kesiapan menghadapi proses pendidikan.

Prabowo Hadiri Panen Raya Tebu di Malang, Ratusan Petugas Jaga Ketat Rute VVIP

Panen raya dipusatkan di lahan tebu kawasan Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh, Dusun Krajan, Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis.

Beraksi di 20 TKP, Pasangan Jambret Asal Malang Ditangkap Polisi Tulungagung

Sasar pedagang yang hendak pergi ke pasar, salah satu korban meninggal dunia usai dijambret tersangka.