Selasa, 09 Jun 2026 15:58 WIB

Mantan Pramugari Cantik Ini Banting Setir Jualan Plafon

Realita Ika Prastika memilih menekuni berjualan plafon. (Foto: Mita Kusuma/jatimnow.com)
Realita Ika Prastika memilih menekuni berjualan plafon. (Foto: Mita Kusuma/jatimnow.com)

Ponorogo - Menjadi pramugari menjadi impian sejumlah orang. Selain gaji yang terbilang lumayan, pekerjaan tersebut memungkinkan seseorang untuk terbang gratis ke sejumlah tempat. Seperti pernah dijalani Realita Ika Prastika. Sebelum akhirnya, perempuan cantik kelahiran 29 tahun silam itu memilih pensiun dan menekuni pekerjaan lainnya.

Realita menjadi pramugari setelah lamarannya diterima salah satu maskapai penerbangan pada 2012. Kala itu, ia sempat melamar hingga dua kali.

Baca Juga: Muscab X PPP Ponorogo, Empat Nama Mencuat Pimpin Partai

Rere, sapaan akrab Realita Ika Prastika, sudah merasakan terbang dari Sabang sampai Merauke. Paling suka saat terbang ke Papua, apalagi jika menginap. Menurutnya, warga Papua sangat friendly. Dia pun bisa jalan-jalan menikmati pantai di Papua.

Tapi kini, Rere memilih banting setir berjualan plafon. Perempuan berpawakan tinggi itupun tak ragu mengangkat plafon.

"Ya gimana, mbak. Ini pilihan hidup sih. Saya jadi pramugari setelah lulus SMA pada 2012 hingga 2017," ujar lulusan SMAN 2 Ponorogo itu.

Setelah tak lagi menjadi pramugari, Rere sempat membuka laundry. Usahanya bertahan selama 2 tahun. Kemudian memilih membuka usaha plafon bersama sang suami pada 2019. Awalnya, Rere berjuang berdua dengan sang suami. Tidak ada karyawan yang membantu. Jadi setiap ada pembeli, dia yang melayani.

"Termasuk angkut-angkut ke truk. Juga menghafalkan jenis plafon yang saya jual. Jadi ya biar tahu. Nggak malu kalau ada pembeli tanya," bebernya.

Baca Juga: ASLI Jatim Dorong Perempuan Berdaya Melalui Bisnis Laundry

Menurutnya, ada beberapa perbedaan antara menjadi pramugari dan tukang plafon. Seorang pramugari harus bekerja sendiri dan ontime serta dislpin. Saat terbang juga harus menguasai situasi. Melayani penumpang pesawat dengan berbagai karakter.

"Tanggung jawabnya besar. Siap jadi dokter, satu untuk semua. Semua harus ready, saat emergency harus tetap senyum. Seperti ke Ambon, pesawat sempat trouble, " terangnya.

Sementara usaha sendiri lebih fleksibel. Sebab bisa mengatur sesuai keinginan sendiri. Dia mengaku melakoni saja. Memulai usaha dari nol tanpa ada karyawan. Dia juga belajar tentang ilmu perplafonan.

Baca Juga: Jelang Ramadan Harga Bapokting di Ponorogo Terpantau Stabil

"Saat ini alhamdulillah sudah ada dua karyawan. Bulan depan setelah Lebaran ada buka cabang di Madiun," tegasnya

Bicara penghasilan, Rere mengaku jadi pramugari ada gaji bulanan yang dipegang. Namun menjadi tukang plafon hasilnya juga besar.

"Usaha ini dua kali lipat. Tapi bisa turun, tergantung pasar," pungkas ibu satu anak ini.

Editor : Sofyan Cahyono
Berita Terbaru

Optimalkan Produksi Pertanian, Bupati Jember Dorong Petani Muda Masuk Kepengurusan Poktan

Bupati Jember meminta Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) segera berkoordinasi dengan para camat, Gapoktan, dan Poktan untuk menambah keterlibatan generasi muda dalam organisasi petani.

AstraPay Perkuat Digitalisasi UMKM, Dukung Percepatan QRIS Nasional

AstraPay memperkuat digitalisasi UMKM melalui edukasi, QRIS, dan literasi keuangan. Hingga kini telah melayani 17,5 juta pengguna di Indonesia

Savyavasa Mulai Serah Terima Unit, Tandai Babak Baru Hunian Premium Jakarta

Savyavasa mulai serah terima unit kepada penghuni. Apartemen premium di Dharmawangsa ini mencatat penjualan kuat dan minat sewa yang tinggi

MRAN 2026, Bentuk Kepedulian dan Solidaritas Bagi ODHA di Tulungagung

Renungan ini menjadi momen menumbuhkan harapan menghapus stigma dan mengenang ODHA yang sudah meninggal.

BRI Unit Benowo Surabaya Pindah Kantor Mulai 15 Juni, Cek Lokasi Barunya

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk memindahkan operasional BRI Unit Benowo Surabaya ke Jalan Raya Pakal per 15 Juni 2026. Cek detail lokasinya.

Menelusuri Jejak Legenda di Balik Danau Ronggojalu Probolinggo

Danau Ronggojalu dapat diakses dengan mudah, hanya memerlukan waktu tempuh sekitar 30 menit dari pusat Kota Probolinggo.