Sabtu, 06 Jun 2026 19:49 WIB

Buat Buku, Owner Namira Ecoprint Ajak Ibu-ibu Berkarya di Masa Pandemi

Didik Edi Susilo, suami Yayuk Eko Agustin membuat ecoprint
Didik Edi Susilo, suami Yayuk Eko Agustin membuat ecoprint

jatimnow.com - Sukses merintis pembuatan batik dengan mencetak menggunakan bahan-bahan yang terdapat di alam sekitar sebagai kain, pewarna, maupun pembuat pola motif dan terjual hingga mancanegara tak membuat Yayuk Eko Agustin terlena.

Ketua PKK di Perumahan Wisma Kedung Asem, Kecamatan Rungkut, Surabaya itu membuat sebuah buku dengan judul 'Ecoprint, Keinginan Menjadi Kenyataan' pada September 2020 lalu.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Berawan

"Saya ingin berbagi dan mengajak kepada ibu-ibu dengan membuat sebuah buku tentang tutorial membuat ecoprint," kata Yayuk Eko Agustin kepada jatimnow.com, Senin (22/2/2021).

Pemilik (owner) Namira Ecoprint yang berdiri sejak tahun 2019 itu menyebut dirinya membuat buku agar dapat menularkan semangat kepada para ibu-ibu terutama pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) agar tetap berkarya di tengah Pandemi Covid-19.

Ia mengaku berhasrat dengan membagikan pengetahuan tentang ecoprint agar makin banyak orang yang bisa merawat kekayaan warisan budaya Indonesia.

"Buku ini sejak saya luncurkan mendapat respon dari ibu-ibu. Saya jual melalui media sosial (medsos) dan banyak yang membelinya. Mulai dari Indonesia yaitu Bontang, Semarang, Jakarta dan juga merambah ke luar negeri seperti Singapura, Malaysia dan Brunei," ujarnya.

Sebelum membuat buku, Yayuk yang dinas di Pemkot Surabaya itu bercerita jika dirinya lebih memilih usaha ecoprint karena proses pembuatannya cukup mudah dan produknya pasti diminati.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Berawan

Bersama dengan suaminya yang bernama Didik Edi Susilo, Yayuk mulai membuat ecoprint.

"Bapak itu telaten dan mempunyai jiwa seni. Beliau menggunakan berbagai bahan alam seperti daun pisang dan ternyata hasilnya bagus," ujar Yayuk.

Selain mudah mendapatkan bahan bakunya seperti kain, daun-daunan, serta pewarna alam, juga proses produksi tidak diperlukan pemodalan yang mahal.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Berawan

"Tidak membutuhkan teknologi yang sulit. Kalau produksinya bagus dan berkualitas bisa dijual," ujar dia.

Perempuan berkerudung ini menyebut pasar terluas untuk penjualan ecoprint dan bukunya lebih banyak melalui online dan mengikuti berbagai pameran yang digelar di Indonesia.

"Saya kian bersemangat. Dari satu lembar, dua lembar, sampai puluhan lembar terjual. Yang dari Brunei Darussalam itu, tidak tahu ya kenal saya darimana. Saya tahunya beliau mempunyai masjid di Jawa Timur ini. Beliau membeli satu lembar kain ecoprint dari saya dengan ukuruan 3,5 meter seharga Rp 3 juta 500 ribu. Itu kan tergantung dari bahannya," tandas Yayuk.

Editor : Budi Sugiharto
Berita Terbaru

Kakak Beradik Terseret Ombak di Pantai Payangan Jember, Satu Ditemukan Tewas

Kedua korban dilaporkan hilang terseret ombak saat berwisata bersama keluarga.

Puncak Arus Balik Idul Adha 2026, Daop 8 Surabaya Layani 284 Ribu Penumpang

Puncak arus balik libur panjang Idul Adha 2026 bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila. KAI Daop 8 Surabaya catat lonjakan tembus 284 ribu penumpang. Simak data lengkapnya di sini.

Jambret iPhone Turis Jerman di Kota Lama Surabaya Ditembak Polisi

Polisi menangkap pelaku jambret iPhone milik wisatawan asal Jerman di Kota Lama Surabaya. Pelaku dilumpuhkan karena melawan saat ditangkap.

Kapolres dan Dandim 0820 Probolinggo Terima Gelar Warga Kehormatan Suku Tengger

Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat pada Malam Resepsi Yadnya Kasada di Pendopo Agung Desa Ngadisari.

Tabrak Pohon, Truk Pengangkut Ikan Asal Lamongan Terguling di JLS Tulungagung

Truk dalam perjalanan menuju Prigi Trenggalek, pengemudi dan penumpang alami luka serius.

Peringatan Hari Raya Waisak di Tulungagung, Ajak Umat Bersumbangsih Untuk Negeri

Puluhan umat Buddha mengikuti prosesi detik-detik peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak di Vihara Buddha Loka Tulungagung.