Kamis, 11 Jun 2026 23:07 WIB

Kisah Pengrajin Batok Kelapa Pasarkan Karyanya hingga Luar Negeri

jatimnow.com - Pito Cahyono, asal Desa Carat, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo memanfaatkan batok kelapa menjadi perabot rumah tangga.

Berbagai karya dihasilkan dari keahliannya membentuk batok kelapa menjadi mangkok, cangkir, lepek, sendok, dan berbagai hiasan rumah tangga lainnya.

Baca Juga: Indowood Expo 2026 Dibuka di Surabaya, Jatim Bidik Pasar Ekspor Global

"Sekarang saya jadikan pot hias gantung sebagai wadah tanaman hias seperti skulen dan tanaman hias lainnya," kata pria yang akrab dipanggil Yono itu, Sabtu (2/1/2021).

Ia menyebut, batok kelapa diambil dari kelapa yang utuh agar dapat diketahui kondisinya yang masih bagus dan dapat dibentuk menjadi alat rumah tangga.

Selain produksi hiasan rumah tangga, untuk daging kelapanya diambil untuk diolah lagi menjadi minyak kelapa. Sedangkan sabut kelapanya dijadikan kayu bakar untuk mengolah minyak.

"Tidak ada yang terbuang dari kelapa," jelasnya.

Untuk membuat kerajinan dari batok kelapa ini menurutnya tidaklah sulit. Hanya perlu ketelatenan dan kreatifitas.

Di saat booming batu akik, ia pernah diminta untuk membuat 'emban' (cincin) batu akik dari batok kelapa.

"Kalau saat ini yang lagi ramai adalah pot bunga dan cangkir dari batok," sebutnya.

Baca Juga: Muscab X PPP Ponorogo, Empat Nama Mencuat Pimpin Partai

Selain membuat kreasi untuk barang kebutuhan rumah tangga, ia juga mengaku menerima pesanan apapun dari batok kelapa yang akan dijadikan sebagai hadiah.

Disebutkannya, pesanan tidak hanya dari Indonesia namun kerajinan batok kelapa miliknya telah merambah luar negeri seperti Taiwan dan Hongkong.

"Awalnya ada teman buruh migran membawa untuk oleh-oleh majikannya. Selanjutnya majikannya meminta untuk dibuatkan lagi," ujar Yono.

Menurutnya pesanan dari luar negeri itu membuat produknya terjual hingga dua kali lipat. Untuk satu set mangkok yang ia jual hanya Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu dan satu set cangkir dengan lepeknya dan tutupnya seharga Rp 40 ribu semakin laris di pasaran.

Baca Juga: Jelang Ramadan Harga Bapokting di Ponorogo Terpantau Stabil

"Mereka berani bayar lebih. Yang Rp 10 ribu dibeli Rp 20 ribu," terang dia.

Ia juga banyak menerima pesanan dari pedagang makanan untuk dibuatkan mangkok dari batok kelapa, seperti pedagang soto dan dawet.

"Kalau saat ini yang booming pot gantung dengan motif batik, saya hargai Rp 30 ribu dengan talinya," pungkas Yono.

Editor : Sandhi Nurhartanto
Berita Terbaru

Optimalkan Produksi Pertanian, Bupati Jember Dorong Petani Muda Masuk Kepengurusan Poktan

Bupati Jember meminta Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) segera berkoordinasi dengan para camat, Gapoktan, dan Poktan untuk menambah keterlibatan generasi muda dalam organisasi petani.

AstraPay Perkuat Digitalisasi UMKM, Dukung Percepatan QRIS Nasional

AstraPay memperkuat digitalisasi UMKM melalui edukasi, QRIS, dan literasi keuangan. Hingga kini telah melayani 17,5 juta pengguna di Indonesia

Savyavasa Mulai Serah Terima Unit, Tandai Babak Baru Hunian Premium Jakarta

Savyavasa mulai serah terima unit kepada penghuni. Apartemen premium di Dharmawangsa ini mencatat penjualan kuat dan minat sewa yang tinggi

MRAN 2026, Bentuk Kepedulian dan Solidaritas Bagi ODHA di Tulungagung

Renungan ini menjadi momen menumbuhkan harapan menghapus stigma dan mengenang ODHA yang sudah meninggal.

BRI Unit Benowo Surabaya Pindah Kantor Mulai 15 Juni, Cek Lokasi Barunya

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk memindahkan operasional BRI Unit Benowo Surabaya ke Jalan Raya Pakal per 15 Juni 2026. Cek detail lokasinya.

Menelusuri Jejak Legenda di Balik Danau Ronggojalu Probolinggo

Danau Ronggojalu dapat diakses dengan mudah, hanya memerlukan waktu tempuh sekitar 30 menit dari pusat Kota Probolinggo.