Senin, 27 Jul 2026 19:38 WIB

Punya Jam Kerja Panjang, Hati-hati Tekanan Darah Tinggi Lho

Ilustrasi kerja lembur/jatimnow.com
Ilustrasi kerja lembur/jatimnow.com

jatimnow.com - Melakukan lembur bisa membuat Anda mendapatkan promosi. Namun, kegiatan itu juga bisa menyebabkan dampak yang kurang diinginkan seperti tekanan darah tinggi.

Studi American Heart Association yang didanai oleh Canadian Institutes of Health Research menyebutkan bekerja selama 49 jam atau lebih per pekan dikaitkan dengan kemungkinan 66 persen lebih tinggi terkena hipertensi. Bahkan, ada kemungkinan terkena hipertensi bertopeng yakni suatu kondisi yang sering tidak terdeteksi selama kunjungan dokter rutin.

Baca Juga: HCML dan PMI Gelar Donor Darah, 71 Kantong Darah Terkumpul

Dilansir CBS News pada Sabtu (21/12), bekerja sedikitnya 41 jam sepekan atau hanya satu jam lebih lama dari jam kerja mingguan biasa, juga meningkatkan risiko tekanan darah tinggi. Dalam studi tersebut, para peneliti meneliti lebih dari 3.500 karyawan kerah putih di tiga lembaga publik di Quebec selama periode lima tahun.

Partisipan mengenakan alat pemantau tekanan darah yang melakukan pembacaan reguler. Para peneliti mengendalikan faktor-faktor seperti usia orang, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, status merokok, indeks massa tubuh, tingkat stres kerja, dan variabel lainnya.

Penulis utama penelitian Xavier Trudel mengatakan hipertensi biasa dan hipertensi bertopeng menempatkan pasien pada risiko yang lebih tinggi untuk penyakit kardiovaskular. Faktor-faktor lain di luar ruang lingkup penelitian seperti tugas keluarga juga bisa berperan dalam memengaruhi tekanan darah pekerja.

Baca Juga: Yayasan Amway Peduli dan UC Surabaya Gelar Edukasi Kesehatan Anak Muda

Trudel menyarankan pada pekerja yang bekerja berjam-jam mencoba mengenakan monitor jantung untuk memantau tekanan darah selama periode waktu tertentu, daripada memantaunya sesekali. “Orang-orang harus sadar bahwa jam kerja yang panjang dapat memengaruhi kesehatan jantung mereka. Jika mereka bekerja berjam-jam, mereka harus bertanya kepada dokter tentang tekanan darah dari waktu ke waktu dengan monitor yang dapat dikenakan,” kata Trudel.

Berdasarkan penelitian, satu dari lima orang dengan hipertensi bertopeng tidak pernah terdaftar memiliki tekanan darah tinggi dalam pemeriksaan klinis. Menunda diagnosis dan pengobatan dapat menempatkan pasien pada risiko yang lebih besar dari penyakit serius atau kematian. Tekanan darah tinggi memengaruhi hampir setengah dari orang dewasa AS dan berkontribusi terhadap lebih dari 82 ribu kematian per tahun.

 

Baca Juga: Upaya Dinkes Kota Kediri Kendalikan Penyakit Paru Obstruktif Kronik dan Asma

Lihat Artikel Asli

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama jatimnow.com dengan Republika.co.id. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab Republika.co.id

Editor : REPUBLIKA.co.id
Berita Terbaru

Target 100 GW dan Bottleneck Energi Surya Indonesia

Hingga hari ini, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia baru sedikit melampaui 1 gigawatt (GW).

5 Fakta Anak Angkat dan Pacarnya Bunuh Ayah di Nganjuk, Ada Cinta Tak Direstui

Penyidikan juga mengungkap pembunuhan pria oleh anak angkatnya itu diduga telah dirancang beberapa hari sebelumnya.

Oknum Polisi di Blitar Ditangkap Saat Pesta Narkoba

Polisi masih melakukan pendalaman terkait kasus ini, oknum anggota Polres Blitar Kota sudah dilakukan penahanan.

Wabup Lamongan Harapkan MPLS Jadi Pijakan Menuju Pendidikan Inklusif

MPLS Ramah merupakan pondasi awal bagi peserta didik dalam membangun karakter, semangat belajar, dan kesiapan menghadapi proses pendidikan.

Prabowo Hadiri Panen Raya Tebu di Malang, Ratusan Petugas Jaga Ketat Rute VVIP

Panen raya dipusatkan di lahan tebu kawasan Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh, Dusun Krajan, Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis.

Beraksi di 20 TKP, Pasangan Jambret Asal Malang Ditangkap Polisi Tulungagung

Sasar pedagang yang hendak pergi ke pasar, salah satu korban meninggal dunia usai dijambret tersangka.