jatimnow.com - Ribuan pasang mata terpukau menyaksikan kemegahan Darussalam All Star Show (DASS) dalam rangka peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Sabtu (27/6/2026) malam. Lebih dari 1.200 santri dan guru menampilkan pertunjukan kolosal yang berhasil memecah riuh tepuk tangan penonton di Lapangan Sepak Bola Pondok Modern Darussalam Gontor, Kecamatan Mlarak, Ponorogo.
Pertunjukan dibuka dengan penampilan dua santri yang membawakan lagu tema DASS, disusul kemunculan ribuan santri dan guru di atas panggung yang diiringi pesta kembang api. Sejak awal acara, sorak dan tepuk tangan penonton terus mengiringi setiap penampilan.
Baca juga: Serunya Santri Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo Ngabuburit
Beragam pertunjukan seni disajikan secara megah, mulai dari teater, reog, tari-tarian nusantara, tari mancanegara seperti Jepang dan India, hingga konser musik. Seluruh penampilan dibawakan santri dan guru dari Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus 1 dan Kampus 2.
DASS menjadi salah satu agenda istimewa yang hanya digelar setiap 10 tahun sekali. Berbeda dengan Drama Arena maupun Panggung Gembira, pagelaran ini melibatkan guru bersama para santri dalam satu panggung kolosal.
Yang menarik, seluruh proses persiapan dilakukan secara mandiri oleh warga pondok tanpa melibatkan sponsor maupun tenaga profesional dari luar. Mulai dari konsep acara, penampilan, properti, hingga sarana pendukung dikerjakan sendiri sebagai bagian dari proses pendidikan karakter.
Ketua DASS, Al-Ustadz Hasan Mutaqin mengatakan, sebanyak lebih dari 1.200 santri dan guru terlibat dalam penyelenggaraan acara tersebut. Mereka mempersiapkan seluruh rangkaian pertunjukan selama kurang lebih tiga pekan.
“Gabungan dari Pondok Gontor 1 dan 2. Jumlahnya lebih dari 1.200 guru dan santri. Mereka telah mempersiapkan acara kurang lebih tiga minggu,” ujarnya.
Ia menjelaskan, keterlibatan para santri tidak hanya sebagai penampil, tetapi juga mengerjakan berbagai kebutuhan teknis, mulai dari pembuatan properti hingga pengelolaan sarana prasarana.
“Kami meyakini bahwa setiap gerak, setiap nada, setiap karya dan setiap tetes keringat jerih payah santri dan guru adalah sebuah proses pendidikan yang membentuk karakter, kepribadian, kedisiplinan, dan keikhlasan,” tegasnya.
Baca juga: Suasana Salat Idul Adha di Pondok Gontor Ponorogo
Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, K.H. Hasan Abdullah Sahal, saat membuka acara menegaskan bahwa hampir seluruh penyelenggaraan DASS merupakan hasil karya warga pondok sendiri.
“Saya sama Pak Akrim cuma lima persen. Lainnya anak-anakku semua,” ucapnya.
Hasan Abdullah Sahal juga mengenang perjalanan panjang Gontor sejak dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar hingga kini memasuki usia satu abad.
Menurutnya, DASS bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi menjadi bukti regenerasi yang sedang dipersiapkan Gontor untuk menghadapi abad kedua pengabdiannya.
“Acara ini saya dan Pak Akrim hanya sekitar lima persen ikut dalam kepanitiaan. Anak-anak inilah generasi untuk 200 tahun yang akan datang,” katanya.
Baca juga: 10 Ribu Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor Serbu Monas
Ia menegaskan, hampir seluruh kebutuhan penyelenggaraan berasal dari dalam pondok.
“Dari penyelenggaraannya, penampilan, sampai fasilitas semuanya insyaallah 95 sampai 99 persen dari dalam Pondok Modern Darussalam Gontor,” ujarnya.
Melalui DASS, Gontor ingin menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui proses berkarya, berorganisasi, bekerja sama, berkorban, serta mengasah kreativitas dan kepemimpinan.
Pagelaran tersebut sekaligus menjadi puncak rasa syukur atas perjalanan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor serta penegasan komitmen pesantren dalam menyiapkan generasi penerus yang siap menghadapi tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.
Editor : Yanuar D