jatimnow.com - Kepastian jatuhnya 1 Syawal 1447 Hijriah mulai menemui titik terang. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur secara resmi melaporkan bahwa pemantauan bulan sabit muda atau hilal di seluruh wilayah Jawa Timur tidak membuahkan hasil, Kamis (19/3/2026).
Lembaga Falakiyah PWNU Jawa Timur telah menyebar tim ahli ke 42 lokasi strategis dari ujung barat hingga timur provinsi.
Baca juga: NBI Usulkan Duet Kiai dan Intelektual Muda Pimpin PBNU 2026-2031
Namun, hingga matahari terbenam pada 29 Ramadan ini, tidak ada satu pun titik yang berhasil menangkap visual hilal di cakrawala.
Ketua PWNU Jawa Timur, KH. Kikin A. Hakim, menjelaskan bahwa data dari lapangan menunjukkan hasil yang seragam. Kondisi ini membuat penentuan awal bulan Lebaran 2026 kini bergantung sepenuhnya pada keputusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jakarta.
"Kami sampaikan hasil observasi dari 42 titik di Jawa Timur sebagai bahan pertimbangan. Mengenai kesimpulan akhir dan keputusan (kapan Idul Fitri), kami serahkan sepenuhnya kepada PBNU," ungkap KH. Kikin A. Hakim dalam laporan resminya.
Baca juga: Gus Salam Sowan ke Kiai Imjaz Jelang Muktamar NU ke-35
Secara teknis, jika hilal tidak terlihat (istikmal), maka bulan Ramadan berpeluang besar digenapkan menjadi 30 hari. Hal ini berarti Idul Fitri kemungkinan besar akan jatuh pada lusa setelah pemantauan dilakukan.
Meski demikian, masyarakat diminta tetap tenang menunggu pengumuman resmi dari otoritas tertinggi organisasi.
Baca juga: Muktamar NU, Menjaga Sang Pendiri NKRI dari Intervensi
Sekretaris PWNU Jawa Timur, Ir. H. M. Faqih, menambahkan bahwa laporan ini telah dikirimkan secara digital dan tersertifikasi untuk menjamin validitas data dari tiap daerah pantauan.
Kini, bola berada di tangan PBNU untuk mengintegrasikan data Jatim dengan hasil pemantauan dari provinsi lain di seluruh Indonesia.
Editor : Ali Masduki