Selasa, 21 Jul 2026 19:20 WIB

Jangan Terlambat, Pakar Ungkap Tanda Awal Stunting yang Sering Diabaikan

Wujudkan Indonesia bebas stunting (ilustrasi). (Foto: Gemini AI)
Wujudkan Indonesia bebas stunting (ilustrasi). (Foto: Gemini AI)

jatimnow.com – Sebagian besar orang tua baru menyadari anaknya mengalami stunting ketika tubuh sang anak tampak lebih pendek dibandingkan teman-teman sebayanya. Padahal, tanda bahaya stunting sebenarnya sudah bisa dideteksi jauh sebelum pertumbuhan tinggi badan itu melambat.

Fakta medis tersebut diungkapkan Pakar kesehatan anak Universitas Airlangga (Unair), Prof. Irwanto. Ia meluruskan miskonsepsi yang kerap terjadi di tengah masyarakat mengenai ciri fisik anak stunting.

Baca Juga: Kabar Baik! BRI Bangun Sumur Bor Gratis di Probolinggo

"Berat badan adalah tanda awal stunting yang sangat jarang disadari orang tua. Proses terjadinya stunting itu bertahap. Pada usia dua hingga empat bulan, jika berat badan anak tidak naik atau mandek, itu harus langsung diwaspadai sebagai risiko stunting," jelas Prof. Irwanto.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa perawakan anak yang pendek tidak selalu diakibatkan oleh stunting. Ada berbagai faktor lain yang bisa memicu tubuh pendek, mulai dari faktor keturunan (genetik), kelainan metabolik, penyakit kronis, hingga kelainan kromosom.

Sebaliknya, stunting secara spesifik adalah kondisi perawakan pendek yang diakibatkan oleh malnutrisi kronis dalam jangka waktu lama. "Pendek belum tentu stunting, tetapi anak stunting sudah pasti pendek," tegasnya.

Baca Juga: BKKBN dan LDII Teken MoU Cegah Stunting di Ponpes Wali Barokah Kediri

Karena itu, para orang tua diimbau untuk disiplin memantau grafik pertumbuhan anak melalui Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), dan segera merujuk ke fasilitas kesehatan jika menemukan penyimpangan pada kurva berat badan.

Prof. Irwanto juga mengingatkan bahwa intervensi dan pencegahan stunting paling efektif hanya bisa dilakukan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni rentang waktu sejak janin berada dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun.

Baca Juga: 30 Orang Tua di Probolinggo Lulus Program SOTH, Apa Itu?

Untuk memaksimalkan pencegahan pada masa emas tersebut, ada beberapa langkah krusial yang ditekankan. Pertama, gunakan buku KIA sebagai instrumen wajib pemantau pertumbuhan anak dari masa kehamilan hingga usia lima tahun.

Kemudian, menjaga asupan gizi ibu sejak hamil hingga masa menyusui guna memastikan produksi ASI yang berkualitas tinggi. Terakhir, memberikan intervensi nutrisi yang tepat sasaran, karena dampak stunting tidak hanya merusak fisik, tetapi juga menurunkan kemampuan kognitif, perkembangan emosi, dan kecerdasan anak saat dewasa.

Editor : Dadang Kurnia
Berita Terbaru

Target 100 GW dan Bottleneck Energi Surya Indonesia

Hingga hari ini, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia baru sedikit melampaui 1 gigawatt (GW).

5 Fakta Anak Angkat dan Pacarnya Bunuh Ayah di Nganjuk, Ada Cinta Tak Direstui

Penyidikan juga mengungkap pembunuhan pria oleh anak angkatnya itu diduga telah dirancang beberapa hari sebelumnya.

Oknum Polisi di Blitar Ditangkap Saat Pesta Narkoba

Polisi masih melakukan pendalaman terkait kasus ini, oknum anggota Polres Blitar Kota sudah dilakukan penahanan.

Wabup Lamongan Harapkan MPLS Jadi Pijakan Menuju Pendidikan Inklusif

MPLS Ramah merupakan pondasi awal bagi peserta didik dalam membangun karakter, semangat belajar, dan kesiapan menghadapi proses pendidikan.

Prabowo Hadiri Panen Raya Tebu di Malang, Ratusan Petugas Jaga Ketat Rute VVIP

Panen raya dipusatkan di lahan tebu kawasan Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh, Dusun Krajan, Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis.

Beraksi di 20 TKP, Pasangan Jambret Asal Malang Ditangkap Polisi Tulungagung

Sasar pedagang yang hendak pergi ke pasar, salah satu korban meninggal dunia usai dijambret tersangka.