FAH UINSA Bahas Masa Depan Peradaban Islam di ICONITIES 2026
- Penulis : Yanuar D
- | Rabu, 20 Mei 2026 16:30 WIB
jatimnow.com - Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Sunan Ampel Surabaya kembali menggelar konferensi internasional The 4th ICONITIES (International Conference on Islamic Civilization and Humanities), di Surabaya, Rabu (20/5/2026). Kegiatan yang berlangsung di Amphitheatre Lantai 9 FAH UINSA itu menghadirkan akademisi, peneliti, dosen, hingga mahasiswa dari berbagai negara untuk mendiskusikan perkembangan kajian peradaban Islam melalui perspektif bahasa dan sastra.
Mengusung tema “Exploring Islamic Civilization through Language and Literature: Tracing History and Shaping the Future”, konferensi ini menjadi ruang dialog akademik yang membahas sejarah, bahasa, sastra, hingga humaniora Islam dalam membaca dinamika masa lalu sekaligus merumuskan arah masa depan peradaban Islam di tengah perubahan global yang semakin cepat.
Baca Juga: Pengurus FKMB UINSA Resmi Dilantik
Sejumlah pembicara internasional hadir dalam konferensi tersebut, di antaranya akademisi dari Al-Azhar University Mesir, National Chung Cheng University Taiwan, Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA) Brunei Darussalam, Universitas Negeri Malang, hingga dosen dari UIN Sunan Ampel Surabaya.
Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya Prof. Akh. Muzakki yang diwakili Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, Prof. Dr. Abdul Muhid, menegaskan bahwa kajian sejarah, sastra, dan humaniora memiliki posisi penting yang tidak akan tergantikan di tengah perkembangan teknologi dan transformasi digital.
“Sejarah dan sastra bukan hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi menjadi fondasi penting dalam membangun identitas, karakter, dan peradaban manusia,” ujarnya saat membuka konferensi.
Menurutnya, bidang adab dan humaniora memiliki kontribusi besar dalam menjaga nilai-nilai kemanusiaan, memperkuat dialog lintas budaya, serta membangun peradaban yang lebih inklusif dan berkeadaban.
“Humaniora harus tetap menjadi ruh dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi agar peradaban manusia tidak kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya,” tambahnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Dr. Achmad Zaini, menyampaikan bahwa ICONITIES merupakan bagian dari komitmen fakultas dalam memperkuat jejaring akademik internasional sekaligus meningkatkan kontribusi kajian humaniora Islam dalam menjawab tantangan global.
“Konferensi ini bukan hanya forum ilmiah, tetapi juga ruang kolaborasi untuk mempertemukan gagasan dan memperkuat kerja sama akademik lintas negara,” katanya.
Ia berharap forum tersebut mampu memperluas kontribusi akademik FAH UINSA dalam percaturan internasional.
“Melalui ICONITIES, kami ingin memperkuat posisi kajian Islamic Civilization and Humanities agar semakin diperhitungkan di tingkat global,” imbuhnya.
Ketua Panitia ICONITIES 2026, Abdul Wahab Naf’an, menambahkan bahwa konferensi tersebut diharapkan menjadi ruang akademik yang produktif, kolaboratif, dan berkelanjutan.
“ICONITIES 2026 kami hadirkan sebagai momentum untuk mempertemukan gagasan dan memperluas jejaring akademik internasional dalam kajian bahasa, sastra, dan peradaban Islam,” ujarnya.
Ia juga menyebut antusiasme peserta tahun ini menunjukkan tingginya perhatian akademisi terhadap isu peradaban Islam dan humaniora.
“Kami berharap forum ini melahirkan banyak kolaborasi riset dan pengembangan keilmuan lintas negara,” katanya.
Dalam sesi presentasi, sejumlah isu strategis menjadi perhatian para narasumber internasional. Akademisi asal Al-Azhar University Mesir, Dr. Fadwa Ali El-Sayed Mohamed, membahas tantangan pengajaran bahasa Arab di tengah masyarakat multibahasa.
Ia menyoroti fenomena interferensi bahasa ibu yang kerap memengaruhi penggunaan bahasa Arab oleh mahasiswa Indonesia, mulai dari kesalahan fonetik hingga tata bahasa.
“Kemajuan sejati adalah menguasai bahasa asing tanpa melepaskan identitas bahasa Arab sebagai pilar agama dan budaya,” tuturnya.
Menurutnya, penggunaan bahasa Arab fusha dalam kehidupan sehari-hari menjadi langkah penting untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa.
“Mahasiswa harus membiasakan diri menggunakan bahasa Arab standar dan memperluas literasi melalui teks asli agar kemampuan linguistik semakin kuat,” jelasnya.
Pembicara dari UNISSA Brunei Darussalam, Dr. Zulamali, menegaskan pentingnya penguasaan bahasa Arab bagi para mualaf agar mampu memahami Al-Qur’an secara mandiri.
Baca Juga: Muktamar Nasional Ilmu Mantiq, UINSA Dorong Literasi Nalar Umat di Era Digital
Menurutnya, para mualaf masih menghadapi berbagai tantangan dalam proses pembelajaran, mulai faktor usia, latar belakang pendidikan, hingga rendahnya rasa percaya diri.
“Bahasa Arab bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga pintu untuk memahami ajaran Islam secara lebih mendalam,” katanya.
Ia juga menilai pendekatan pembelajaran perlu disesuaikan dengan kebutuhan mualaf dewasa.
“Metode pembelajaran yang praktis, interaktif, dan berbasis digital sangat diperlukan agar proses belajar menjadi lebih efektif dan nyaman,” tambahnya.
Sementara itu, akademisi Universitas Negeri Malang, Gatut Susanto, memaparkan pentingnya integrasi nilai-nilai peradaban Islam Indonesia dalam pedagogi BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing).
Menurutnya, banyak kosakata bahasa Indonesia seperti iman, ibadah, berkah, dan ikhlas yang mencerminkan nilai-nilai Islam yang telah menyatu dengan budaya lokal.
“Bahasa Indonesia memiliki jejak peradaban Islam yang sangat kuat dan itu dapat menjadi materi otentik dalam pengajaran BIPA,” ujarnya.
Ia mengusulkan penggunaan metode pembelajaran kontekstual seperti wisata masjid, video budaya, hingga project-based learning untuk memperkenalkan wajah Islam Indonesia yang moderat dan toleran kepada dunia internasional.
“Melalui pendekatan budaya, mahasiswa asing tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga memahami nilai toleransi dan keberagaman di Indonesia,” katanya.
Akademisi National Chung Cheng University Taiwan, Hastowo Hadi, mengungkapkan berbagai tantangan yang dihadapi mahasiswa Indonesia di Taiwan, mulai dari kendala bahasa, sistem akademik, hingga adaptasi sosial budaya.
Ia menyebut mahasiswa Indonesia banyak melakukan adaptasi mandiri seperti belajar bahasa Mandarin melalui podcast, memasak sendiri untuk menjaga kehalalan makanan, hingga bekerja sambilan demi memenuhi kebutuhan studi.
Baca Juga: Warung Makan Mak Ti di Belakang UINSA Surabaya Terbakar
“Mahasiswa Indonesia dituntut mandiri dan mampu beradaptasi cepat dengan lingkungan akademik maupun sosial di luar negeri,” jelasnya.
Menurutnya, kampus internasional perlu lebih terbuka terhadap mahasiswa asing dari negara berkembang.
“Universitas di luar negeri perlu lebih inklusif dan aktif memfasilitasi interaksi antara mahasiswa lokal dan internasional,” tambahnya.
Sedangkan dosen UIN Sunan Ampel Surabaya, Dr. Nasaruddin Idris Jauhar, menegaskan bahwa keberagaman bahasa merupakan bagian dari tanda kebesaran Allah sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an.
Ia menjelaskan bahwa belajar bahasa asing tidak boleh hanya bersifat instrumental untuk kepentingan akademik semata, tetapi juga harus menjadi bagian dari misi kemanusiaan untuk membangun komunikasi dan pemahaman lintas budaya.
“Belajar bahasa adalah bagian dari misi lita’arafu, saling mengenal antarbangsa dan budaya,” katanya.
Menurutnya, kemampuan bahasa harus mampu membangun komunikasi dua arah yang efektif.
“Keberhasilan belajar bahasa tidak hanya diukur dari kemampuan memahami, tetapi juga kemampuan menyampaikan gagasan dan membangun hubungan antarmanusia,” tandasnya.
Selain seminar utama dan sesi pleno, ICONITIES 2026 juga menghadirkan parallel presentation session yang diikuti presenter dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga riset. Beragam tema dibahas dalam konferensi tersebut, mulai linguistik, sastra klasik dan modern, filologi, sejarah peradaban Islam, digital humanities, hingga isu gender dan transformasi sosial masyarakat Muslim kontemporer.
Melalui penyelenggaraan konferensi internasional ini, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya berharap dapat terus memperkuat budaya akademik internasional, memperluas kolaborasi lintas negara, serta memperkokoh posisi kajian Islamic Civilization and Humanities dalam percaturan akademik global.
Editor : Yanuar DURL : https://jatimnow.id/baca-84680-fah-uinsa-bahas-masa-depan-peradaban-islam-di-iconities-2026