Selasa, 21 Jul 2026 23:29 WIB

Retorika Kabur Saja dan Krisis Etika Kepemimpinan

Retorika “kabur saja” dinilai mencerminkan krisis etika kepemimpinan dan berpotensi memicu brain drain di Indonesia. (Foto ilustrasi: Gemini/jatimnow.com)
Retorika “kabur saja” dinilai mencerminkan krisis etika kepemimpinan dan berpotensi memicu brain drain di Indonesia. (Foto ilustrasi: Gemini/jatimnow.com)

jatimnow.com - Pernyataan Prabowo Subianto yang mempersilakan “orang pintar” untuk “kabur saja, mungkin ke Yaman” bukan sekadar seloroh politik. Ucapan tersebut mencerminkan retorika kekuasaan yang mengalami distorsi: dari merangkul menjadi menyindir, dari memotivasi menjadi mengusir secara simbolik.

Dalam politik, kata-kata bukan sekadar bunyi, melainkan penentu arah. Arah yang tersirat dari pernyataan itu terasa problematik.

Baca Juga: Santuni Yatim Piatu dan Dhuafa, Anggota DPRD Jatim Sampaikan Pesan Prabowo

Pertama, pernyataan tersebut menunjukkan kegagalan memahami psikologi generasi produktif. Fenomena “kabur aja dulu” bukan bentuk pengkhianatan terhadap bangsa, melainkan ekspresi kegelisahan atas stagnasi struktural ditandai lapangan kerja yang tidak sebanding dengan kualitas pendidikan, meritokrasi yang tersendat, serta ketidakpastian masa depan.

Alih-alih dibaca sebagai kritik sosial, fenomena tersebut justru dipelintir menjadi sikap tidak nasionalis.

Kedua, retorika “silakan kabur” memperlihatkan pergeseran etika kepemimpinan. Seorang presiden semestinya menjadi pusat harapan, bukan produsen sinisme.

Kepemimpinan modern dituntut membangun sense of belonging, bukan menciptakan jarak psikologis antara negara dan warga, terutama kelompok terdidik yang menjadi modal utama pembangunan.

Ketiga, dalam perspektif kebijakan publik, pernyataan tersebut berpotensi memperkuat fenomena brain drain. Ketika negara tidak memberi rasa dihargai, talenta terbaik akan mencari ekosistem yang lebih apresiatif.

Sejarah global menunjukkan migrasi intelektual kerap dipicu bukan semata faktor ekonomi, tetapi juga minimnya pengakuan dan ruang untuk berkembang.

Negara seperti India dan Tiongkok belajar dari pengalaman tersebut. Indonesia justru berisiko mengulang kesalahan yang sama jika abai.

Baca Juga: Ustazah AI TikTok Viral, ICMI Jatim Buka Suara

Keempat, penyebutan negara tujuan seperti “Yaman” sebagai simbol ironi juga menimbulkan persoalan. Cara itu mereduksi kompleksitas geopolitik menjadi bahan retorika.

Dalam komunikasi publik, simplifikasi semacam ini tidak sensitif dan berpotensi menurunkan kualitas diskursus kebangsaan.

Pada titik ini, perlu ditegaskan: kritik terhadap pesimisme publik memang penting. Namun kritik yang baik tidak menafikan kegelisahan, melainkan mengolahnya menjadi energi perubahan. Retorika yang meremehkan justru memperlebar jurang ketidakpercayaan.

Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Yang belum tersedia adalah ekosistem yang membuat mereka ingin tinggal, berkarya, dan berkontribusi. Persoalannya bukan pada mereka yang ingin “kabur”, melainkan pada kondisi yang membuat pilihan tersebut terasa lebih rasional daripada bertahan.

Baca Juga: Soal MBG, Tiyo Eks Ketua BEM UGM Beri Ultimatum Pemerintah

Kepemimpinan sejati tidak mengatakan “silakan pergi”, tetapi bertanya: mengapa mereka ingin pergi, dan apa yang harus diperbaiki agar mereka tetap tinggal?

Jika pertanyaan itu tidak dijawab dengan serius, suatu saat kita tidak perlu lagi mempersilakan siapa pun untuk pergi. Mereka akan melangkah dengan sendirinya.

Dan ketika hal itu terjadi, penyesalan tak lagi berguna. Bayangkan talenta terbaik memilih pergi ke luar negeri, sementara yang tersisa adalah mereka yang, meski cerdas, kehilangan arah dan jati diri.

Penulis: Ulul Albab
Akademisi Unitomo Surabaya

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Target 100 GW dan Bottleneck Energi Surya Indonesia

Hingga hari ini, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia baru sedikit melampaui 1 gigawatt (GW).

5 Fakta Anak Angkat dan Pacarnya Bunuh Ayah di Nganjuk, Ada Cinta Tak Direstui

Penyidikan juga mengungkap pembunuhan pria oleh anak angkatnya itu diduga telah dirancang beberapa hari sebelumnya.

Oknum Polisi di Blitar Ditangkap Saat Pesta Narkoba

Polisi masih melakukan pendalaman terkait kasus ini, oknum anggota Polres Blitar Kota sudah dilakukan penahanan.

Wabup Lamongan Harapkan MPLS Jadi Pijakan Menuju Pendidikan Inklusif

MPLS Ramah merupakan pondasi awal bagi peserta didik dalam membangun karakter, semangat belajar, dan kesiapan menghadapi proses pendidikan.

Prabowo Hadiri Panen Raya Tebu di Malang, Ratusan Petugas Jaga Ketat Rute VVIP

Panen raya dipusatkan di lahan tebu kawasan Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh, Dusun Krajan, Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis.

Beraksi di 20 TKP, Pasangan Jambret Asal Malang Ditangkap Polisi Tulungagung

Sasar pedagang yang hendak pergi ke pasar, salah satu korban meninggal dunia usai dijambret tersangka.