Nyepi dan Idulfitri 2026 Beriringan, Bukti Kuatnya DNA Toleransi Indonesia
- Penulis : Ni'am Kurniawan
- | Kamis, 19 Mar 2026 19:31 WIB
jatimnow.com - Momen perayaan Hari Raya Nyepi dan Idulfitri 2026 menghadirkan fenomena yang terbilang istimewa, karena pelaksanaannya yang berlangsung secara beriringan. Momen ini jadi cerminan nyata betapa kuatnya akar toleransi dan keberagaman yang dipegang teguh oleh masyarakat Indonesia.
Pakar budaya Universitas Airlangga (Unair), Listiyono Santoso, menilai bahwa pertemuan perayaan hari besar dua agama yang berbeda dalam waktu berdekatan ini bukanlah hal baru atau mengkhawatirkan bagi bangsa ini.
Baca Juga: Update Arus Balik: 1,15 Juta Kendaraan Lintasi Tol Pandaan-Malang
“Adanya perayaan Hari Raya Nyepi dan Idulfitri secara berdekatan di antara umat beragama Indonesia merupakan hal yang sudah terbiasa terjadi. Hal ini sudah lama mendapat sambutan baik di kalangan masyarakat yang memang sejak awal sudah hidup dengan beragam perbedaan,” ungkap Listiyono.
Menurutnya, pertemuan-pertemuan dalam konteks kebudayaan inilah yang menjadi faktor utama mengapa perbedaan keyakinan tidak pernah menjadi masalah serius dalam bingkai negara Bhinneka Tunggal Ika.
Lebih lanjut, akademisi yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Provinsi Jawa Timur ini mengajak publik untuk kembali meresapi makna sejati dari toleransi.
Berakar dari kata tolerare yang berarti sabar dan menahan diri, toleransi di era modern dimaknai sebagai pemberian ruang aman dan setara bagi individu berlatar belakang berbeda untuk merayakan keyakinannya masing-masing.
Baca Juga: Tol Gempol-Pandaan Mulai Landai, Jasa Marga Tetap Siagakan Skenario Antrean
Wakil Dekan II FIB Unair tersebut menegaskan bahwa perlindungan ini bersifat absolut karena dijamin oleh konstitusi.
"Maka, negara menjamin setiap masing-masing warganya untuk beribadah dengan aman, dan setiap orang tidak boleh mengganggu proses ibadah masing-masing agama tersebut," tegasnya.
Secara sosiologis, bangsa Indonesia secara alamiah telah tumbuh dan besar dalam perbedaan, sebuah keistimewaan yang membedakan Indonesia dengan negara-negara di benua Eropa.
Baca Juga: KAI Daop 8 Surabaya Selamatkan Barang Penumpang Senilai Rp138 Juta
Meski Listiyono tak menampik sesekali muncul anasir-anasir yang mencoba mengganggu kerukunan, nilainya dinilai tidak cukup signifikan untuk merusak tradisi rukun yang telah mengakar ratusan tahun.
Menyikapi tantangan ke depan, Listiyono menitipkan pesan krusial kepada generasi muda, khususnya Gen-Z, agar tradisi toleransi ini tidak terputus.
"Generasi muda harus siap untuk hidup dalam ruang-ruang perbedaan. Biasakan diri untuk terlibat dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat heterogenitas agar penerimaan perbedaan terasa lebih mudah,” pungkasnya.
Editor : Dadang Kurnia