Sabtu, 06 Jun 2026 13:15 WIB

ICMI Jatim: Sekolah Harus Jadi Rumah Kedua, Stop Kekerasan!

Sekolah yang dulu menjadi tempat anak merasa diterima, kini sering berubah menjadi ruang kompetisi yang dingin dan penuh tekanan. (Foto: Ilustrasi/Ulul Albab)
Sekolah yang dulu menjadi tempat anak merasa diterima, kini sering berubah menjadi ruang kompetisi yang dingin dan penuh tekanan. (Foto: Ilustrasi/Ulul Albab)

jatimnow.com - Tragedi yang menimpa Angga Bagus Perwira, siswa SMPN 1 Geyer Grobogan, akibat dugaan kekerasan, menggugah keprihatinan mendalam Ketua ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia) Orwil Jawa Timur, Ulul Albab. Ia menilai kejadian ini sebagai cermin lunturnya nilai kemanusiaan dalam dunia pendidikan.

Ulul Albab menegaskan perlunya penataan ulang sistem perlindungan anak di sekolah. Bukan sekadar slogan pendidikan karakter, tapi implementasi nyata dalam kebijakan dan budaya sekolah.

Baca Juga: Dispendukcapil Kota Kediri Perkuat Perlindungan Adminduk Perempuan dan Anak

"Kematian Angga adalah tamparan keras. Sekolah harusnya jadi ruang aman dan bahagia, bukan tempat yang ditakuti," tegasnya, Rabu (15/10/2025).

Ulul Albab melihat kasus kekerasan di sekolah bukan sekadar kenakalan remaja. Ada masalah sosial yang lebih dalam: lemahnya pendidikan karakter, minimnya pengawasan, dan menurunnya kepekaan terhadap nilai kemanusiaan.

"Kekerasan dianggap biasa, baik di media sosial maupun lingkungan sekitar. Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat, ini berbahaya," jelasnya.

Sebagai akademisi, Ulul Albab menyerukan reorientasi pendidikan nasional. Fokus tak hanya pada hasil akademik, tapi juga membangun empati, kasih sayang, dan tanggung jawab sosial.

"Guru bukan hanya pengajar, tapi penjaga kehidupan. Jika pengawasan lemah, perundungan dianggap kecil, pendidikan kehilangan ruhnya," imbuhnya.

Untuk itu, ICMI Jatim mendorong sistem perlindungan anak yang lebih konkret dan operasional di sekolah. Ulul Albab menyarankan agar pemerintah daerah memastikan setiap sekolah memiliki satuan tugas pencegahan kekerasan yang aktif.

"Sekolah harus punya mekanisme pengaduan cepat dan aman. Guru perlu dilatih mendeteksi dini tanda-tanda perundungan. Jangan tunggu ada korban baru bertindak," tegasnya.

Komunikasi intensif antara guru dan orang tua juga penting. Kolaborasi ini adalah benteng utama pencegahan kekerasan.

Baca Juga: Benteng Digital PP TUNAS, ICMI Jatim: Jangan Biarkan Anak Diasuh Gadget

"Orang tua sering tahu anaknya jadi korban atau pelaku setelah kejadian. Ini harus diubah. Sekolah dan keluarga harus sejalan, karena mereka sama-sama rumah bagi anak," jelas Ulul Albab.

Menurut Ulul Albab, hilangnya rasa kekeluargaan adalah akar masalah di sekolah. Tempat yang seharusnya menjadi ruang penerimaan, kini berubah jadi arena kompetisi yang dingin.

"Pendidikan itu memanusiakan manusia. Jika anak merasa tidak aman, tidak diterima, atau disakiti, pendidikan kehilangan makna terdalamnya," kata Ulul Albab.

Ia menyerukan gerakan moral nasional untuk menegaskan kembali bahwa pendidikan adalah pembentukan akhlak dan kemanusiaan. ICMI berkomitmen menjadi bagian dari solusi.
Penegakan Hukum yang Edukatif

Menanggapi proses hukum, Ulul Albab meminta agar dilakukan secara transparan dan menyeluruh. Proses hukum bukan hanya mencari siapa yang salah, tapi menggali akar persoalan agar menjadi pembelajaran kolektif.

Baca Juga: Esensi Silaturrahmi, Melampaui Ego demi Keberkahan Hidup

"Kita berharap pelaku bertanggung jawab. Tapi yang lebih penting adalah bagaimana kita belajar dari tragedi ini. Jangan berhenti di vonis, jadikan ini titik balik perbaikan," tegasnya.

Ulul Albab juga meminta media massa untuk bijak dalam pemberitaan, mendorong empati dan kesadaran publik, bukan sekadar mengejar sensasi.

"Anak-anak kita bukan objek pemberitaan, mereka adalah generasi masa depan. Media punya tanggung jawab moral untuk mengedukasi," tambahnya.

Akademisi di bidang kebijakan publik dan Good Governance ini berharap agar tragedi Angga menjadi momentum refleksi nasional. Ia menyerukan agar seluruh pihak meneguhkan komitmen bahwa sekolah adalah rumah kedua bagi setiap anak.

"Sekolah harus kembali hangat, ramah, dan penuh cinta. Di sanalah masa depan bangsa disemai. Jika sekolah kehilangan kemanusiaannya, maka kita sedang kehilangan arah sebagai bangsa," pungkasnya.

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Kakak Beradik Terseret Ombak di Pantai Payangan Jember, Satu Ditemukan Tewas

Kedua korban dilaporkan hilang terseret ombak saat berwisata bersama keluarga.

Puncak Arus Balik Idul Adha 2026, Daop 8 Surabaya Layani 284 Ribu Penumpang

Puncak arus balik libur panjang Idul Adha 2026 bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila. KAI Daop 8 Surabaya catat lonjakan tembus 284 ribu penumpang. Simak data lengkapnya di sini.

Jambret iPhone Turis Jerman di Kota Lama Surabaya Ditembak Polisi

Polisi menangkap pelaku jambret iPhone milik wisatawan asal Jerman di Kota Lama Surabaya. Pelaku dilumpuhkan karena melawan saat ditangkap.

Kapolres dan Dandim 0820 Probolinggo Terima Gelar Warga Kehormatan Suku Tengger

Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat pada Malam Resepsi Yadnya Kasada di Pendopo Agung Desa Ngadisari.

Tabrak Pohon, Truk Pengangkut Ikan Asal Lamongan Terguling di JLS Tulungagung

Truk dalam perjalanan menuju Prigi Trenggalek, pengemudi dan penumpang alami luka serius.

Peringatan Hari Raya Waisak di Tulungagung, Ajak Umat Bersumbangsih Untuk Negeri

Puluhan umat Buddha mengikuti prosesi detik-detik peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak di Vihara Buddha Loka Tulungagung.