Minggu, 26 Jul 2026 13:33 WIB

Gaduh di Kandang Banteng, Pengamat: Tidak Lazim

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini

jatimnow.com - Polemik gaji ke 13 hingga isu pembatasan peliputan membuat Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mendapat tekanan. Namun tekanan datang bukan dari luar partainya, justru politisi PDI Perjuangan seniorlah yang paling vokal.

Perseteruan politik antar kader yang dipertontonkan di media dikhawatirkan akan memiliki dampak bagi masa depan partai, terutama di Kota Pahlawan  yang merupakan basis PDI Perjuangan atau kandang Banteng ini.

Baca Juga: Pemkot Surabaya Beri Bantuan Pendidikan untuk 7.380 Siswa SMA/SMK/MA Sederajat

"Menurut saya kok nggak lazim ya. Sesama kader utama saling serang dan sindir, itu bisa kontraproduktif tidak hanya untuk kedua kader, tetapi juga bagi PDIP di Surabaya,"  tegas Pengamat politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surokim Abdussalam, Sabtu (13/10/2018).

Ia menduga, terjadinya perseteruan sesama kader itu menunjukkan adanya kebuntuan komunikasi di antara mereka.

Media-media mengulas Ketua Bappilu DPP PDI Perjuangan Bambang DH mempertanyakan gaji ke 13 bagi pegawai Pemkot Surabaya yang belum dibayar. Risma pun memberi jawaban.

Baca Juga:

 

Sumber: SBOTV Surabaya

Baca Juga: Surabaya Jadi Percontohan Program Indonesia - UEA Cegah Sampah Plastik ke Laut

"Jika dicermati memang ada kesan motif men-downgrade Risma lebih nampak, kendati isu yang ditanyakan Pak Bambang juga masuk akal, tetapi sebagai sesama kader utama itu tidak lazim," tuturnya.

Surokim mengatakan, harus diakui tren Risma sebagai pemimpin perempuan relatif bergaung di internal PDI Perjuangan. Juga publik telah melihat kemampuan Risma mengubah Surabaya.

"Efek The Power of Emak-emak perempuan juga bisa berdampak pada peluang kader-kader senior untuk bersaing semakin sengit dan juga menjadi ancaman," katanya.

"Menurut saya, selalu ada motif dan sebab yang tidak tunggal. Apalagi faksi-faksi PDIP juga mulai terlihat untuk merebut panggung sejak awal baik terkait Wali Kota Surabaya maupun kepemimpinan DPD PDIP Jatim," ujarnya.

Baca Juga: Tiga Rumah Pompa Baru Perkuat Ikhtiar Surabaya Menuju Kota Bebas Banjir

Peneliti senior Surabaya Survey Center (SSC) ini melihat faksi Risma memang tidak kuat di PDI Perjuangan. Tetapi k, kata dia, sebagai sesama pemimpin perempuan, Mega dan Risma memiliki kemiripan dan chemistry.

"Khususnya menyangkut keteguhan prinsip yang diyakini dan gaya memimpin tentu itu diwaspadai banyak pihak yang menganggap Bu Risma sebagai rival dan pesaing potensial," terangnya.

Ia berharap, polemik antara Risma dan Bambang DH itu tidak semakin vulgar dipertontonkan ke publik karena dikhawatirkan bisa mempengaruhi citra PDI Perjuangan pada Pemilu 2019.

"Karena akan memberi insentif negatif tidak hanya bagi keduanya, tetapi juga bagi PDIP menghadapi pileg (pemilu legislatif) 2019," jelasnya.

Editor : Arif Ardianto
Berita Terbaru

Target 100 GW dan Bottleneck Energi Surya Indonesia

Hingga hari ini, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia baru sedikit melampaui 1 gigawatt (GW).

5 Fakta Anak Angkat dan Pacarnya Bunuh Ayah di Nganjuk, Ada Cinta Tak Direstui

Penyidikan juga mengungkap pembunuhan pria oleh anak angkatnya itu diduga telah dirancang beberapa hari sebelumnya.

Oknum Polisi di Blitar Ditangkap Saat Pesta Narkoba

Polisi masih melakukan pendalaman terkait kasus ini, oknum anggota Polres Blitar Kota sudah dilakukan penahanan.

Wabup Lamongan Harapkan MPLS Jadi Pijakan Menuju Pendidikan Inklusif

MPLS Ramah merupakan pondasi awal bagi peserta didik dalam membangun karakter, semangat belajar, dan kesiapan menghadapi proses pendidikan.

Prabowo Hadiri Panen Raya Tebu di Malang, Ratusan Petugas Jaga Ketat Rute VVIP

Panen raya dipusatkan di lahan tebu kawasan Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh, Dusun Krajan, Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis.

Beraksi di 20 TKP, Pasangan Jambret Asal Malang Ditangkap Polisi Tulungagung

Sasar pedagang yang hendak pergi ke pasar, salah satu korban meninggal dunia usai dijambret tersangka.