Kamis, 23 Jul 2026 14:10 WIB

Affan, DPR dan Cermin Retak Negeri Ini

  • Penulis :
  • | Sabtu, 30 Agu 2025 15:29 WIB
Iringan pemakaman Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang tewas dilindas oda rantis Brimob. (Foto/Tangkapan Layar Media Sosial).
Iringan pemakaman Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang tewas dilindas oda rantis Brimob. (Foto/Tangkapan Layar Media Sosial).

jatimnow.com - Affan Kurniawan, 21 tahun, bukan siapa-siapa di mata negara. Ia hanyalah seorang pengemudi ojek online yang saban hari berjuang mencari nafkah.

Namun, kematiannya di bawah roda rantis Brimob telah mengubah dirinya menjadi simbol: simbol bahwa di republik ini, nyawa rakyat kecil bisa begitu murah, sementara kursi kekuasaan begitu mahal.

Baca Juga: Lita Machfud Arifin Beri Kursi Roda Elektrik dan Jamin Pendidikan Nabil hingga Dewasa

Kematian Affan bukan sekadar kecelakaan tragis. Peristiwa itu adalah cermin retak yang menampakkan wajah asli bangsa ini: aparat yang gagap, elite politik yang arogan, dan rakyat yang kian putus asa.

Mari kita bicarakan sedikit tentang DPR. Dari 41 RUU yang ditargetkan, hanya tiga yang disahkan. Itu pun penuh kontroversi. Lalu apa kabar di Senayan?

Alih-alih memperbaiki kinerja, mereka justru sibuk mengutak-atik tunjangan. Gaji mereka sudah di atas Rp100 juta per bulan. Tunjangan rumah Rp50 juta per bulan. Belum fasilitas lain yang membuat hidup serba nyaman.

Pertanyaan sederhananya adalah: pantaskah mereka menambah kemewahan, sementara rakyat di luar gedung DPR harus berdesak-desakan mencari rezeki, bahkan sampai ada yang meregang nyawa di tengah demonstrasi?

Bandingkan dengan Affan. Untuk menutup kontrakan Rp700 ribu saja, ia harus menarik order siang malam. Bandingkan dengan buruh yang minta kenaikan gaji 8,5 persen saja sudah ditolak mentah-mentah. Sementara wakil rakyat dengan enteng menambah 35 kali lipat dari rata-rata gaji buruh. Jika ini bukan arogansi, lalu apa namanya?

Aksi unjuk rasa besar pun pecah. Awalnya damai. Tapi ketika gas air mata ditembakkan hingga ke perkampungan, amarah berubah jadi bara. Hingga lahirlah tragedi Affan.

Apa kata aparat? “Saya hantam saja.” Kalimat dingin yang memperlihatkan betapa rapuhnya komitmen negara melindungi rakyatnya. Nyawa manusia direduksi menjadi sekadar hambatan operasi.

Baca Juga: Pemerintah Tempatkan Lagi Rp281 T di Bank demi Jaga Likuiditas dan Pertumbuhan Kredit

JK, mantan Wapres, sudah mengingatkan DPR: jangan asal bicara, jangan menghina rakyat. Tapi apakah mereka mau mendengar? Atau suara rakyat kembali ditelan ruang sidang ber-AC, kursi empuk, dan tunjangan mewah yang membius nurani?

Presiden Prabowo menyeru agar rakyat tenang dan percaya. Tetapi kepercayaan bukan sesuatu yang bisa diminta. Kepercayaan hanya tumbuh jika negara berani mengakui kesalahan, berani meminta maaf, dan berani memperbaiki diri. Sayangnya, yang terdengar masih narasi stabilitas rapuh, artifisial, dan tidak menyentuh akar masalah.

Tragedi Affan seharusnya jadi pelajaran untuk semua pihak. Bagi aparat: bahwa senjata, gas air mata, dan rantis tidak boleh menggantikan nurani. Bagi pendemo: bahwa aspirasi harus tetap damai dan terarah.

Bagi DPR: bahwa setiap rupiah tunjangan yang mereka nikmati berasal dari keringat rakyat, dari jerih payah buruh, dari perjalanan ojol seperti Affan. Janganlah fasilitas itu menjadi pemicu kemarahan baru.

Dan bagi pemerintah: jangan pernah lupa, legitimasi tidak dibangun dengan retorika. Legitimasi hanya lahir dari keberpihakan nyata, dari empati, dari kesediaan untuk hidup sederhana di tengah rakyat yang hidup serba susah.

Baca Juga: Adela Kanasya Adies Jaga Soliditas Jaringan Relawan Surabaya

Affan sudah pergi. Tapi namanya abadi sebagai pengingat: bahwa republik ini bisa jatuh, bukan karena kurangnya undang-undang, melainkan karena hilangnya keadilan.

Pertanyaannya, beranikah kita, pemerintah, DPR RI, aparat, dan rakyat, menjadikan tragedi Affan sebagai titik balik? Atau kita biarkan ia hanya jadi satu catatan hitam yang segera dilupakan, sementara arogansi elite kembali berpesta?

 

Penulis: Ulul Albab (Akademisi FIA UNITOMO Surabaya)

Editor : Ali Masduki
Berita Terbaru

Target 100 GW dan Bottleneck Energi Surya Indonesia

Hingga hari ini, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia baru sedikit melampaui 1 gigawatt (GW).

5 Fakta Anak Angkat dan Pacarnya Bunuh Ayah di Nganjuk, Ada Cinta Tak Direstui

Penyidikan juga mengungkap pembunuhan pria oleh anak angkatnya itu diduga telah dirancang beberapa hari sebelumnya.

Oknum Polisi di Blitar Ditangkap Saat Pesta Narkoba

Polisi masih melakukan pendalaman terkait kasus ini, oknum anggota Polres Blitar Kota sudah dilakukan penahanan.

Wabup Lamongan Harapkan MPLS Jadi Pijakan Menuju Pendidikan Inklusif

MPLS Ramah merupakan pondasi awal bagi peserta didik dalam membangun karakter, semangat belajar, dan kesiapan menghadapi proses pendidikan.

Prabowo Hadiri Panen Raya Tebu di Malang, Ratusan Petugas Jaga Ketat Rute VVIP

Panen raya dipusatkan di lahan tebu kawasan Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh, Dusun Krajan, Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis.

Beraksi di 20 TKP, Pasangan Jambret Asal Malang Ditangkap Polisi Tulungagung

Sasar pedagang yang hendak pergi ke pasar, salah satu korban meninggal dunia usai dijambret tersangka.