Kamis, 23 Jul 2026 06:38 WIB

Kisah Kereta Api Terakhir Surabaya di Stasiun Gubeng

Aksi teatrikal Kereta Api Terakhir Surabaya di Stasiun Gubeng. (Foto: KAI/jatimnow.com)
Aksi teatrikal Kereta Api Terakhir Surabaya di Stasiun Gubeng. (Foto: KAI/jatimnow.com)

jatimnow.com - Stasiun Surabaya Gubeng menjadi saksi kunci pertempuran besar 79 tahun silam, yang terjadi di Kota Surabaya pada Bulan November 1945. 

KAI Daop 8 Surabaya menggandeng komunitas Begandring Surabaya menyuguhkan teatrikal yang menceritakan sejarah 'Kereta Api Terakhir Surabaya' di Stasiun Surabaya Gubeng sisi barat, Minggu (17/11/2024).

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Cerah

Executive Vice President KAI Daop 8 Surabaya, Wisnu Pramudyo, mengatakan teatrikal ini melibatkan 100 peserta dari komunitas Begandring, serta 200 peserta yang merupakan pekerja Daop 8 Surabaya. 

Teatrikal ini juga bertujuan untuk mengenalkan nilai-nilai perjuangan dan patriotisme warga Surabaya pada saat terjadinya perang di Surabaya, yang terjadi pada tanggal 17 - 20 November 1945.

"Teatrikal ini menceritakan dalam aksi penyelamatan sekitar 3.000 korban dan pasien RS Simpang ke luar Kota Surabaya, dan menjadikan Stasiun Surabaya Gubeng sebagai titik tolak keberangkatan,” ucap Wisnu.

KAI Daop 8 Surabaya berharap, teatrikal 'Kereta Api Terakhir Surabaya' ini bisa menjadi membawa pesan moral kepahlawanan para pejuang Surabaya, kepada calon pelanggan yang saat ini didominasi oleh Generasi Milenial maupun Gen-Z.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Cerah

"Kereta Api Terakhir Surabaya bukan hanya sekedar drama sejarah, tetapi juga sebuah refleksi tentang keberanian, solidaritas, dan perjalanan para Pejuang dari Kota Surabaya dalam menghadapi ketidakpastian dan kesulitan," terangnya.

Reka ulang Kereta Api Terakhir Surabaya dilakukan untuk menghormati jasa besar jawatan kereta api dan tenaga kesehatan yang melakukan evakuasi pada 3.000 korban pertempuran Surabaya, dari Rumah Sakit Simpang ke Stasiun Gubeng, untuk selanjutnya menuju ke daerah aman.

Evakuasi dilakukan selama 3 malam, mulai dari jam 19.00 sampai dengan 02.00 dari tanggal 17 sampai dengan 20 November 1945.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Cerah

Evakuasi kali ini dilakukan ditengah bayang-bayang tembakan mortir dan meriam Inggris. Serta dalam keadaan gelap gulita, hanya nyala temaran lilin didalam Stasiun Gubeng yang menjadi penerang utama.

Tandu-tandu berisi korban, perlengkapan Chirug dan alat-alat kesehatan, diangkut menuju Stasiun Gubeng, berjejas-jejas Kereta Api Revolusi silih berganti keluar masuk Stasiun.

"Pada hari ini, Minggu, 17 November 2024, kita melakukan reka ulang peristiwa yang benar-benar terjadi di Surabaya, ditanggal yang sama 79 tahun lalu," pungkasnya.

Editor : Yanuar D
Berita Terbaru

Target 100 GW dan Bottleneck Energi Surya Indonesia

Hingga hari ini, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia baru sedikit melampaui 1 gigawatt (GW).

5 Fakta Anak Angkat dan Pacarnya Bunuh Ayah di Nganjuk, Ada Cinta Tak Direstui

Penyidikan juga mengungkap pembunuhan pria oleh anak angkatnya itu diduga telah dirancang beberapa hari sebelumnya.

Oknum Polisi di Blitar Ditangkap Saat Pesta Narkoba

Polisi masih melakukan pendalaman terkait kasus ini, oknum anggota Polres Blitar Kota sudah dilakukan penahanan.

Wabup Lamongan Harapkan MPLS Jadi Pijakan Menuju Pendidikan Inklusif

MPLS Ramah merupakan pondasi awal bagi peserta didik dalam membangun karakter, semangat belajar, dan kesiapan menghadapi proses pendidikan.

Prabowo Hadiri Panen Raya Tebu di Malang, Ratusan Petugas Jaga Ketat Rute VVIP

Panen raya dipusatkan di lahan tebu kawasan Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh, Dusun Krajan, Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis.

Beraksi di 20 TKP, Pasangan Jambret Asal Malang Ditangkap Polisi Tulungagung

Sasar pedagang yang hendak pergi ke pasar, salah satu korban meninggal dunia usai dijambret tersangka.