Senin, 27 Jul 2026 15:58 WIB

39,17 Persen Anak di Surabaya Menderita Refraksi Mata

Para dokter mata Eyelink Group kampanye jaga kesehatan mata. (Foto: Eyelink for jatimnow.com)
Para dokter mata Eyelink Group kampanye jaga kesehatan mata. (Foto: Eyelink for jatimnow.com)

jatimnow.com - Gangguan pengelihatan pada anak kini menjadi permasalahan yang sangat serius. Sedikitnya 39,17 persen anak di Surabaya telah menderita keluhan refraksi seperti mata minus dan silinder.

Melihat hal itu para tenaga medis dari Eyelink Group turun ke jalan untuk kampanye pentingnya menjaga kesehatan mata.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Cerah

Di momen ini, Eyelink berinisiatif mengadakan tes kesehatan mata secara online melalui https://melihatlebihjelas.id/

Mereka juga memampang poster ajakan untuk menyadarkan para orang tua menjaga kesehatan mata sang anak.

"Jarang periksa karena merasa sehat, ternyata setelah tes online masih sehat. Tapi walaupun hasilnya normal tetap perlu periksa ke dokter untuk memastikan. Nanti tesnya saya share ke cucu, biar dia bisa tes juga, soalnya sering pake gadget," tutur Ni Ketut, salah satu pengguna jalan yang melintas, Kamis (10/10/2024).

Sementara dokter spesialis mata National Eye Center (NEC) dr Diaz Alamsyah Sudiro, SpM menjelaskan, World Sight Day memang diperingati setiap Kamis kedua di bulan Oktober.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Cerah

Peringatan ini menjadi momen yang sangat tepat untuk menyadarkan para orang tua untuk lebih peduli pada kesehatan mata anak.

"Kasus kelainan refraksi pada anak saat ini memang cukup tinggi, dan di klinik mata kami juga menjadi salah satu keluhan tertinggi selain Katarak,” tutur dr Diaz.

Dikatakannya, dari beberapa kegiatan pemeriksaan NEC di sekolah & lembaga pendidikan selama 2024, tercatat 39,17% anak di Surabaya telah menderita keluhan refraksi seperti mata minus dan silinder.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Cerah

Kondisi ini bisa dikarenakan beberapa hal, dan salah satunya disebabkan oleh tingginya penggunaan gadget sejak dini.

"Pada catatan terakhir hasil pemeriksaan kita bersama sekolah, sebanyak 219 dari 559 anak-anak di Surabaya telah mengalami kelainan refraksi," tandasnya.

"Rata-rata di usia anak hingga remaja yang mana merupakan masa pertumbuhan. Ini merupakan kondisi yang sangat gawat karena jika tidak segera terdeteksi dan ditangani akan berpengaruh pada proses tumbuh kembang dan belajar,” pungkas dr Diaz.

Editor : Zaki Zubaidi
Berita Terbaru

Target 100 GW dan Bottleneck Energi Surya Indonesia

Hingga hari ini, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia baru sedikit melampaui 1 gigawatt (GW).

5 Fakta Anak Angkat dan Pacarnya Bunuh Ayah di Nganjuk, Ada Cinta Tak Direstui

Penyidikan juga mengungkap pembunuhan pria oleh anak angkatnya itu diduga telah dirancang beberapa hari sebelumnya.

Oknum Polisi di Blitar Ditangkap Saat Pesta Narkoba

Polisi masih melakukan pendalaman terkait kasus ini, oknum anggota Polres Blitar Kota sudah dilakukan penahanan.

Wabup Lamongan Harapkan MPLS Jadi Pijakan Menuju Pendidikan Inklusif

MPLS Ramah merupakan pondasi awal bagi peserta didik dalam membangun karakter, semangat belajar, dan kesiapan menghadapi proses pendidikan.

Prabowo Hadiri Panen Raya Tebu di Malang, Ratusan Petugas Jaga Ketat Rute VVIP

Panen raya dipusatkan di lahan tebu kawasan Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh, Dusun Krajan, Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis.

Beraksi di 20 TKP, Pasangan Jambret Asal Malang Ditangkap Polisi Tulungagung

Sasar pedagang yang hendak pergi ke pasar, salah satu korban meninggal dunia usai dijambret tersangka.