Selasa, 28 Jul 2026 02:47 WIB

Mengenal Siklus dan Gejala Erupsi Semeru

Pakar Geologi ITS Amien Widodo (Foto: Rama Indra/jatimnow.com)
Pakar Geologi ITS Amien Widodo (Foto: Rama Indra/jatimnow.com)

jatimnow.com - Pakar Geologi Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Amien Widodo mengungkap siklus dan gejala erupsi Gunung Semeru.

"Siklus erupsi gunung api aktif bermacam-macam. Bisa satu tahun sekali, setiap bulan, bahkan setiap hari," ujar Amien saat ditemui jatimnow.com, Selasa (6/12/22).

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Cerah

Sedangkan, lanjut Amien, perbedaan rentang erupsi dipengaruhi oleh kecepatan sumber magma dan daya tampung waduk magma di dalam gunung api aktif tersebut.

Katanya, Gunung Semeru berbeda dengan Sinabung yang dengan rentang waktunya 600 tahun baru erupsi atau meletus.

Menurut Amien, jika dicermati lebih dalam, erupsi Semeru ini tidak hanya terjadi di akhir tahun saja, melainkan hampir setiap hari.

"Longsoran tanah basah akibat hujan memiliki kemungkinan penyebab erupsinya Semeru, meski hal itu belum diketahui secara pasti," jelas dia.

Karena saat longsoran itu berbenturan dengan lava panas, sehingga dapat dipastikan muncul reaksi awan panas guguran (APG), timbul kepulan asap dikenal dengan sebutan wedus gembel.

Replika erupsi Gunung Semeru (Foto: Amien Widodo for jatimnow.com)Replika erupsi Gunung Semeru (Foto: Amien Widodo for jatimnow.com)

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Cerah

Akan tetapi, untuk gejala erupsi dari setiap gunung akan sama, yaitu ketika waduk magma telah terisi penuh.

Waduk magma tersebut memiliki fungsi untuk tempat penampungan magma. Ketika penuh, maka gejala kontraksi akan muncul, hingga dimuntahkan keluar menjadi erupsi.

"Magma penuh bercampur energi gas alam akan terdorong keluar bertekanan, sampai meluap-luap terjadi erupsi," tambah Amien.

Sehingga dikenal ada dua jenis erupsi, yaitu eksplosif atau letusan dan efusif atau berupa aliran lava.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Cerah

"Erupsi Semeru sering didapati efusif hanya berupa rambatan aliran lava, sehingga tidak jarang malam hari terlihat lidah api di Semeru," ungkapnya.

Dari fenomena kemarin saja, lanjut Amien, juga didapati hanya ada letusan kecil atau eksplosif.

"Erupsi Semeru kemaren juga ada eksplosif, akan tetapi radiusnya tidak terlalu besar, dan yang sering muncul adalah gejala erupsi efusif," pungkasnya.

Editor : Narendra Bakrie
Berita Terbaru

Target 100 GW dan Bottleneck Energi Surya Indonesia

Hingga hari ini, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia baru sedikit melampaui 1 gigawatt (GW).

5 Fakta Anak Angkat dan Pacarnya Bunuh Ayah di Nganjuk, Ada Cinta Tak Direstui

Penyidikan juga mengungkap pembunuhan pria oleh anak angkatnya itu diduga telah dirancang beberapa hari sebelumnya.

Oknum Polisi di Blitar Ditangkap Saat Pesta Narkoba

Polisi masih melakukan pendalaman terkait kasus ini, oknum anggota Polres Blitar Kota sudah dilakukan penahanan.

Wabup Lamongan Harapkan MPLS Jadi Pijakan Menuju Pendidikan Inklusif

MPLS Ramah merupakan pondasi awal bagi peserta didik dalam membangun karakter, semangat belajar, dan kesiapan menghadapi proses pendidikan.

Prabowo Hadiri Panen Raya Tebu di Malang, Ratusan Petugas Jaga Ketat Rute VVIP

Panen raya dipusatkan di lahan tebu kawasan Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh, Dusun Krajan, Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis.

Beraksi di 20 TKP, Pasangan Jambret Asal Malang Ditangkap Polisi Tulungagung

Sasar pedagang yang hendak pergi ke pasar, salah satu korban meninggal dunia usai dijambret tersangka.