Kamis, 11 Jun 2026 09:29 WIB

Mengenal Siklus dan Gejala Erupsi Semeru

Pakar Geologi ITS Amien Widodo (Foto: Rama Indra/jatimnow.com)
Pakar Geologi ITS Amien Widodo (Foto: Rama Indra/jatimnow.com)

jatimnow.com - Pakar Geologi Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Amien Widodo mengungkap siklus dan gejala erupsi Gunung Semeru.

"Siklus erupsi gunung api aktif bermacam-macam. Bisa satu tahun sekali, setiap bulan, bahkan setiap hari," ujar Amien saat ditemui jatimnow.com, Selasa (6/12/22).

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Cerah

Sedangkan, lanjut Amien, perbedaan rentang erupsi dipengaruhi oleh kecepatan sumber magma dan daya tampung waduk magma di dalam gunung api aktif tersebut.

Katanya, Gunung Semeru berbeda dengan Sinabung yang dengan rentang waktunya 600 tahun baru erupsi atau meletus.

Menurut Amien, jika dicermati lebih dalam, erupsi Semeru ini tidak hanya terjadi di akhir tahun saja, melainkan hampir setiap hari.

"Longsoran tanah basah akibat hujan memiliki kemungkinan penyebab erupsinya Semeru, meski hal itu belum diketahui secara pasti," jelas dia.

Karena saat longsoran itu berbenturan dengan lava panas, sehingga dapat dipastikan muncul reaksi awan panas guguran (APG), timbul kepulan asap dikenal dengan sebutan wedus gembel.

Replika erupsi Gunung Semeru (Foto: Amien Widodo for jatimnow.com)Replika erupsi Gunung Semeru (Foto: Amien Widodo for jatimnow.com)

Baca Juga: Pendaki Ilegal Gunung Semeru Berhasil Dievakuasi, Pengelola Jatuhi Sanksi

Akan tetapi, untuk gejala erupsi dari setiap gunung akan sama, yaitu ketika waduk magma telah terisi penuh.

Waduk magma tersebut memiliki fungsi untuk tempat penampungan magma. Ketika penuh, maka gejala kontraksi akan muncul, hingga dimuntahkan keluar menjadi erupsi.

"Magma penuh bercampur energi gas alam akan terdorong keluar bertekanan, sampai meluap-luap terjadi erupsi," tambah Amien.

Sehingga dikenal ada dua jenis erupsi, yaitu eksplosif atau letusan dan efusif atau berupa aliran lava.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Cerah Berawan

"Erupsi Semeru sering didapati efusif hanya berupa rambatan aliran lava, sehingga tidak jarang malam hari terlihat lidah api di Semeru," ungkapnya.

Dari fenomena kemarin saja, lanjut Amien, juga didapati hanya ada letusan kecil atau eksplosif.

"Erupsi Semeru kemaren juga ada eksplosif, akan tetapi radiusnya tidak terlalu besar, dan yang sering muncul adalah gejala erupsi efusif," pungkasnya.

Editor : Narendra Bakrie
Berita Terbaru

Optimalkan Produksi Pertanian, Bupati Jember Dorong Petani Muda Masuk Kepengurusan Poktan

Bupati Jember meminta Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) segera berkoordinasi dengan para camat, Gapoktan, dan Poktan untuk menambah keterlibatan generasi muda dalam organisasi petani.

AstraPay Perkuat Digitalisasi UMKM, Dukung Percepatan QRIS Nasional

AstraPay memperkuat digitalisasi UMKM melalui edukasi, QRIS, dan literasi keuangan. Hingga kini telah melayani 17,5 juta pengguna di Indonesia

Savyavasa Mulai Serah Terima Unit, Tandai Babak Baru Hunian Premium Jakarta

Savyavasa mulai serah terima unit kepada penghuni. Apartemen premium di Dharmawangsa ini mencatat penjualan kuat dan minat sewa yang tinggi

MRAN 2026, Bentuk Kepedulian dan Solidaritas Bagi ODHA di Tulungagung

Renungan ini menjadi momen menumbuhkan harapan menghapus stigma dan mengenang ODHA yang sudah meninggal.

BRI Unit Benowo Surabaya Pindah Kantor Mulai 15 Juni, Cek Lokasi Barunya

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk memindahkan operasional BRI Unit Benowo Surabaya ke Jalan Raya Pakal per 15 Juni 2026. Cek detail lokasinya.

Menelusuri Jejak Legenda di Balik Danau Ronggojalu Probolinggo

Danau Ronggojalu dapat diakses dengan mudah, hanya memerlukan waktu tempuh sekitar 30 menit dari pusat Kota Probolinggo.