Kamis, 11 Jun 2026 10:04 WIB

Kisah Cinta di Bukit Tono dan Misteri Hantu Gundul Pecengis

  • Penulis :
  • | Rabu, 11 Jul 2018 20:44 WIB
Buton atau Bukit Tono/foto-foto: Budi Sugiharto
Buton atau Bukit Tono/foto-foto: Budi Sugiharto

jatimnow.com - Warga Desa Sambongrejo di Kecamatan Gondang, Bojonegoro sudah tak asing lagi dengan bukit kecil yang sering disebut Puthuk (bukit) Tono. Nama Bukit Tono makin populer setelah menjadi tempat wisata rintisan.

Kunjungan wisatawan  sempat membludak, tiap hari tak pernah sepi pengunjung. Popularitas Bukit Tono atau disingkat Buton menanjak karena lokasi wisata rintisan ini menawarkan spot selfie yang unik di atas bukit dan pemandangan yang menyegarkan mata.

Baca Juga: Menelusuri Jejak Legenda di Balik Danau Ronggojalu Probolinggo

Namun saat ini kondisi Buton memprihatinkan. Kering kerontang dan tidak lagi hijau, tak lagi menarik dijadikan untuk swafoto. Saat jatimnow.com mengunjungi pada Senin (9/7/2018) bersama Bupati Bojonegoro terpilih, Anna Mu'awanah menyaksikan Buton gundul dan tidak ada satupun wisatawan di lokasi. Panas menyegat.

Popularitas Buton yang sempar viral di media sosial sebenarnya menyimpan kisah cinta yang tak banyak orang tahu. Kisah cinta yang tak biasa ini juga pernah ditulis di blog penulis. Kisah cinta semirip kegilaan Qois dan Laila atau lebih dikenal Laila Majnun versi sastrawan Persia Nizami Ganjavi.

 

 

Laila Majnun juga ditulis oleh sastrawan Al-Ashmu’I (w. 215 H) Arab, Nizam al-Din, (w. 599 H) Persia, Sa’d al-Syirazi (w. 1291 M) Persia, Abd al-Rahman al-Jami (w. 1492 M) Persia , Amir Khasru al-Dihlawi (w. 1325 M) asal Turki kemudian pindah ke Delhi, Ahmad Syauqi (1932 M) Mesir. Kisah cinta abadi Qois Laila inilah yang menginspirasi kisah cinta Romeo-Juliet karya William Shakespeare.

Lalu bagaimana kisah cinta di Bukit Tono yang legendaris dan masih direkam beberapa orang tua warga desa Sambongrejo? Dari namanya Bukit Tono, pembaca sudah bisa menebak bahwa kisah cinta tersebut ada kaitannya dengan sosok bernama "Tono".

Keberadaan sosok bernama Tono ini lumayan misterius sebab sampai saat ini masih simpang siur antara masih hidup dan sudah meninggal dunia. Beberapa orang menyebutnya sudah meninggal dunia, tapi beberapa orang lainnya pernah melihat sosok bernama Tono bersepeda di jalan-jalan.

Penyebab simpang siurnya keberadaan dan kabar sosok Tono ini karena hidupnya berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Bisa jadi sosok Tono ini sedang mengejar cintanya yang absurd.

Pada tahun 80-an, Bukit Tono belum dikenal tapi beberapa orang menyebutnya sebagai Bukit Tempuran karena berdekatan dengan pertemuan Sungai Pacal dan Sungai Bobol. Bukit ini tanpa tuan, tapi warga menyebutnya sering melihat penampakan di bukit ini. Biasanya penampakan berupa ayam tapi akan berubah menjadi kepala manusia yang menggelinding lalu tertawa, orang menyebutnya gundul pecengis.

Baca Juga: Sarangan-Jatim Park Hujan, Cuaca KBS dan Taman Safari Cerah Hari Ini

Ada juga warga desa yang pernah melihat sosok hantu legendaris yakni Banaspati, hantu ganas yang sering menyerang manusia. Bukit tanpa tuan yang hanya dihuni oleh mahluk halus. Tapi anehnya bukit itu perlahan kehilangan keangkeran setelah dihuni oleh sosok orang yang bernama Tono.


Bupati Bojonegoro terpilih Anna Mu'awanah saat melihat Buton

Selama bertahun-tahun bukit itu tak berpenghuni dan lahannya dibiarkan mangkrak. Pada tahun 80-an itulah datang seseorang bernama Tono yang diketahui oleh beberapa warga berasal dari Nganjuk. Tono datang membawa kegilaan di bukit tersebut. Ia layaknya orang gila tapi beberapa orang mengaku masih bisa mengajak berkomunikasi, hanya saja jika Tono diganggu akan menyerang balik orang-orang yang mengganggunya.

Tono dengan "kegilaannya" akhirnya menetap selama bertahun-tahun di bukit tersebut. Jika dia kelaparan kebiasaannya mencari bekicot di sekitar lokasi dan di desa-desa terdekat. Bekicot yang didapat selalu banyak tak mengenal musim penghujan maupun musim kemarau. Bekicot itu hanya direbus dalam wadah bekas kaleng bekas lalu setelah matang dimakan tanpa bumbu. Warga desa hanya mengetahui Tono tiap harinya hanya mengonsumsi bekicot untuk makan.

Setelah beberapa tahun Tono tinggal di bukit tersebut muncul sosok perempuan bernama Kasiyem asal Desa Krondonan, Kecamatan Gondang. Kasiyem juga mengidap kegilaaan. Ke mana-mana selalu menggendong sampah yang banyak dengan pakaian kumuh. Suatu ketika Kasiyem mendatangi bukit tersebut dan bertemu Tono. Dari pertemuan itulah tumbuh cinta di hati keduanya yang sama-sama mengidap kegilaan (warga sekitar menyebutnya keduanya gila).

Cinta Tono dan Kasiyem tumbuh subur di bukit tersebut. Cinta yang tak akan dipahami dengan mudah oleh orang-orang waras pada umumnya. Tapi cinta keduanya membuktikan bahwa tak hanya orang waras yang bisa merasakan cinta, orang-orang gila pun bisa merasakan cinta dengan dunianya sendiri.

Dunia cinta yang hanya dipahami oleh mereka berdua. Cinta yang begitu rahasia dengan bahasa kegilaan mereka berdua, bahkan para bijak bestari berpendapat hanya dengan kegilaan orang akan memahami apa itu cinta sebenarnya.

Baca Juga: Hari ke 4 Lebaran, Jalur Babat–Bojonegoro Macet di Simpul Tugu Wingko



Hubungan cinta Tono dan Kasiyem berlangsung lama. Warga desa sekitar sering melihat keduanya duduk berdua dan mungkin saling berbicara dari hati ke hati. Keduanya layaknya anak muda yang sedang dimabuk asmara, cinta yang hadir saat keduanya mengalami kegilaan. Entah oleh sebab apa hubungan cinta antara Tono dan Kasiyem berakhir.

Tak ada orang yang tahu penyebab putusnya jalinan asmara keduanya, beberapa warga desa hanya tahu keduanya kini tak saling bertemu lagi. Tapi anehnya setelah putusnya jalinan asmara, ada perubahan dalam diri Kasiyem dan Tono yakni kegilaan yang diidap keduanya berangsur-angsur sembuh. Orang desa menyebutnya kini sudah setengah waras, tak lagi gila sepenuhnya.

Kabarnya Kasiyem kembali ke desa Krondonan dan hidup normal, sementara Tono tak jelas keberadaannya karena sering berpindah-pindah tempat. Karena tak jelas kabarnya sebagian orang menyebut sudah meninggal, tapi sebagian lainnya menyebut masih hidup dan berpindah tempat dengan naik sepeda tua.

Tapi yang pasti karena pernah hidup dan tinggal bertahun-tahun di bukit tersebut warga desa memberi nama Bukit Tono. Sebuah nama untuk mengenang seseorang yang misterius yang tidak jelas asal usulnya dan keberadaannya. Sebuah nama yang pernah dimabuk cinta di bukit tersebut hingga memberikan penyembuhan dari kegilaan yang pernah diidapnya. Sebuah nama yang kini diabadikan menjadi tempat wisata baru yang terancam hilang karena tidak terawat, Bukit Tono atau Buton!

Reporter: Rois Jajeli dan Didik Wahyudi

Editor: Budi Sugiharto

Editor : Budi Sugiharto
Berita Terbaru

Optimalkan Produksi Pertanian, Bupati Jember Dorong Petani Muda Masuk Kepengurusan Poktan

Bupati Jember meminta Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) segera berkoordinasi dengan para camat, Gapoktan, dan Poktan untuk menambah keterlibatan generasi muda dalam organisasi petani.

AstraPay Perkuat Digitalisasi UMKM, Dukung Percepatan QRIS Nasional

AstraPay memperkuat digitalisasi UMKM melalui edukasi, QRIS, dan literasi keuangan. Hingga kini telah melayani 17,5 juta pengguna di Indonesia

Savyavasa Mulai Serah Terima Unit, Tandai Babak Baru Hunian Premium Jakarta

Savyavasa mulai serah terima unit kepada penghuni. Apartemen premium di Dharmawangsa ini mencatat penjualan kuat dan minat sewa yang tinggi

MRAN 2026, Bentuk Kepedulian dan Solidaritas Bagi ODHA di Tulungagung

Renungan ini menjadi momen menumbuhkan harapan menghapus stigma dan mengenang ODHA yang sudah meninggal.

BRI Unit Benowo Surabaya Pindah Kantor Mulai 15 Juni, Cek Lokasi Barunya

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk memindahkan operasional BRI Unit Benowo Surabaya ke Jalan Raya Pakal per 15 Juni 2026. Cek detail lokasinya.

Umat Buddha di Tulungagung Ikuti Ritual Atthami Puja di Candi Sanggrahan

Ritual tersebut merupakan perayaan penting dalam agama Buddha yang menghormati kelahiran, pencerahan, dan parinirvana Sang Buddha Gautama.