jatimnow.com - Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026 resmi dibuka di Aula Utama Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, Sabtu (20/6/2026) malam. Forum permusyawaratan tertinggi NU di bawah muktamar ini menjadi momentum strategis bagi jam’iyah untuk merumuskan berbagai keputusan keagamaan, organisasi, dan kebangsaan menjelang Muktamar ke-35 NU.
Pembukaan berlangsung khidmat dan dihadiri para ulama, masyayikh, tokoh nasional, pejabat pemerintah, serta jajaran pengurus NU dari seluruh Indonesia. Di antara yang hadir tampak Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Wakil Presiden ke-13 RI KH Ma’ruf Amin, Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar, Menteri Agama Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, KH Said Aqil Siradj, KH Ahmad Mustofa Bisri, KH Anwar Manshur, serta jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU, PWNU, dan PCNU se-Indonesia.
Baca juga: Ketum PBNU Paparkan Capaian di Munas Konbes, Ini Hasilnya
Mewakili keluarga besar Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Agus Hasbi Munif menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada pesantrennya sebagai tuan rumah penyelenggaraan Munas dan Konbes NU 2026.
“Ploso merasa sangat terhormat karena dipercaya menjadi tuan rumah forum besar Nahdlatul Ulama ini. Atas nama keluarga besar Pondok Pesantren Al Falah, kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pesantren dan NU merupakan dua entitas yang tidak dapat dipisahkan. Menurutnya, pesantren menjadi fondasi utama lahir dan berkembangnya Nahdlatul Ulama. Hubungan historis tersebut juga tercermin dalam perjalanan keilmuan pendiri Pondok Pesantren Al Falah, KH Jazuli Utsman, yang pernah menimba ilmu kepada Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, khususnya dalam pengkajian Kitab Al-Hikam.
Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, KH Nurul Huda Djazuli atau yang akrab disapa Mbah Yai Nurul, turut mengungkapkan rasa syukur atas kehadiran para masyayikh, tokoh bangsa, pejabat pemerintah, dan pengurus NU di pesantrennya. Menurutnya, kehadiran para tokoh tersebut menghadirkan suasana yang berbeda dan semakin semarak di lingkungan pesantren.
Secara khusus, ia mengaku tersanjung atas kehadiran Menteri Agama Nasaruddin Umar yang datang ke Pesantren Ploso.
“Banyak kiai yang hadir, banyak pejabat yang hadir. Bahkan Menteri Agama hadir. Yang dihatur-haturi ga tau rawuh, kok ini malah rawuh. Alhamdulillah luar biasa,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Mbah Yai Nurul berharap Nahdlatul Ulama tetap berjalan sesuai asas dan khittahnya sehingga seluruh warga merasa memiliki dan terlindungi di dalamnya. Di tengah perubahan zaman yang terus berlangsung, ia mendoakan agar NU senantiasa berada dalam keadaan qoiman daiman (berdiri tegak selamanya) berkat keberkahan perjuangan para ulama pendiri.
Baca juga: Bahtsul Masail Waqi’iyah Munas-Konbes NU Bahas Penghapusan Jejak Aib di Internet
Ia juga menegaskan eratnya hubungan antara NU dan pesantren.
“Kalau NU hidup, insyaallah pondok pesantren akan hidup. Tapi kalau NU mati, semua mati,” tegasnya.
Karena itu, ia mendoakan agar seluruh perjuangan para ulama dan pemimpin yang membesarkan NU dicatat sebagai amalan sholihan maqbulan serta diberi kekuatan untuk terus berkhidmah dengan tulus dan ikhlas.
“Insyaallah dengan niat kholishotan mukhlishotan lillah, Allah tetap memberikan balasan-balasan yang sama sekali di luar dugaan,” pungkasnya.
Baca juga: Ponpes Lirboyo Kediri dan Tambakberas Jombang Jadi Kandidat Lokasi Muktamar NU
Sementara itu, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf mengajak seluruh warga NU, baik kultural maupun struktural, untuk memusatkan energi dan kekuatan organisasi pada khidmah demi kemaslahatan umat dan bangsa. Menurut Gus Yahya, menjelang berakhirnya masa khidmah kepengurusan saat ini, seluruh elemen NU perlu menjaga persatuan dan menghindari berbagai hal yang berpotensi menimbulkan kontroversi.
Ia mengingatkan bahwa Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari melalui Qanun Asasi telah meletakkan landasan kebersamaan NU di atas prinsip mahabbah atau cinta. Karena itu, seluruh warga NU harus mengedepankan semangat persaudaraan dan menempatkan kepentingan jam’iyah di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
“NU berada dalam pemeliharaan Allah SWT, maka siapa pun yang menanam benih kerusakan di dalam tubuh NU tidak akan memanen apa yang menjadi maksud dan tujuannya,” tegasnya.
Gus Yahya berharap Munas dan Konbes NU 2026 mampu melahirkan keputusan-keputusan yang konstruktif, inklusif, dan membawa kemaslahatan bagi warga Nahdlatul Ulama serta masyarakat luas. Harapan tersebut sejalan dengan tema yang diusung dalam forum tahun ini, yakni “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa.” Tema itu diharapkan menjadi arah perjuangan NU dalam memperkuat peran keagamaan, sosial, dan kebangsaan di tengah berbagai tantangan zaman.
Editor : Yanuar D