jatimnow.com – Menjelang perayaan Hari Raya Iduladha, isu keamanan pangan dalam proses penanganan dan distribusi daging kurban kembali menjadi sorotan tajam. Pasalnya, mayoritas penyembelihan hewan kurban di Indonesia masih dilakukan secara tradisional di permukiman warga.
Jika tidak dibarengi dengan standar sanitasi yang ketat, praktik ini menyimpan ancaman serius berupa kontaminasi bakteri pada daging. Peringatan tegas ini disampaikan pakar kedokteran hewan Universitas Airlangga (Unait), Prof. Mustofa Helmi Effendi. Ia menyoroti tingginya risiko pencemaran silang akibat banyaknya masyarakat awam yang ikut serta memotong daging tanpa dibekali keahlian khusus.
Baca juga: PTPN I Regional 5 Salurkan 101 Hewan Kurban di Jatim
“Kita harus menyadari bahwa perundang-undangan di Indonesia masih memungkinkan penyembelihan dilakukan di luar Rumah Potong Hewan (RPH). Akibatnya, banyak orang yang tidak mengerti teknik pemotongan, teknik pencacahan, dan teknik pengulitan ikut ambil bagian, yang mana ini sangat rawan kontaminasi,” ungkap Prof. Mustofa.
Salah satu fase paling kritis dalam rantai kurban adalah saat pembagian daging. Prof. Mustofa menyoroti kebiasaan panitia kurban di masyarakat yang sering kali membagikan daging menggunakan wadah seadanya, khususnya kantong plastik daur ulang berwarna hitam.
Praktik ini sangat berbahaya karena plastik daur ulang tidak dirancang untuk bersentuhan langsung dengan makanan siap konsumsi dan kaya akan bahan kimia beracun.
“Sebaiknya menggunakan wadah yang tidak mengontaminasi. Jangan menggunakan plastik hasil daur ulang dan plastik berwarna hitam. Pakailah kantong plastik yang food grade (khusus makanan), yang potensi kontaminannya sangat sedikit,” tegasnya.
Baca juga: TPS Salurkan 2.000 Paket Daging Kurban untuk Warga dan Mitra
Selain masalah pengemasan, Prof. Mustofa juga mengingatkan pentingnya pemisahan secara ketat antara daging bersih dan jeroan (organ dalam). Panitia juga dilarang keras meletakkan daging di atas tanah atau alas yang tidak terjamin kebersihannya.
Untuk skala rumah tangga, ia memberikan tips khusus agar kualitas daging tetap terjaga awet. Sebelum dimasukkan ke dalam freezer, daging harus dipotong-potong menjadi bagian yang lebih kecil agar proses pembekuan merata dan mencegah penurunan kualitas gizi.
Lebih jauh, pakar kesehatan hewan ini menegaskan bahwa standar keamanan pangan hewan kurban di Indonesia wajib mengacu pada prinsip ASUH. Yakni aman, sehat, utuh, dan halal.
Baca juga: Kampung SIBA KLASIK Gresik Terapkan Kurban Minim Sampah
“Di sini, yang utama itu adalah kehalalan dulu. Jangan bicara keamanan pangan dulu jika proses penyembelihannya tidak sesuai syariat. Keduanya harus berjalan beriringan,” urai Mustofa.
Sebagai langkah preventif maksimal, kehadiran dokter hewan di setiap lokasi penyembelihan sangat diharapkan. Pemeriksaan klinis antemortem (sebelum disembelih) dan postmortem (setelah disembelih) dinilai krusial guna memastikan kelayakan konsumsi.
“Jika konsep (ASUH dan pemeriksaan medis) ini sudah menjadi bagian dari proses penyelenggaraan ibadah kurban, maka Insya Allah daging yang dihasilkan dan dikonsumsi masyarakat adalah daging yang benar-benar berkualitas dan aman,” pungkasnya.
Editor : Dadang Kurnia