Jejak Literasi ke Aksi, Refleksi Kepemimpinan Perempuan Dini Rahmania

Reporter : Ali Masduki
Anggota DPR RI dari Fraksi NasDem, Dini Rahmania, ketika menerima penghargaan dari Forkom Jurnalis Nahdliyim (FJN). (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

jatimnow.com - Angka 21 April seringkali terjebak dalam riuh perayaan lahirnya R.A. Kartini. Namun bagi Dini Rahmania, momen ini seharusnya menjadi cermin untuk melihat sejauh mana perempuan telah melangkah, bukan sekadar mengenang masa lalu.

Anggota DPR RI dari Fraksi NasDem tersebut mengajak publik melihat emansipasi sebagai kedaulatan atas kesempatan.

Baca juga: Hak 255 Guru Madrasah Probolinggo Cair Usai Mengendap 8 Tahun

Menurut Dini, esensi perjuangan perempuan hari ini telah bergeser dari sekadar menuntut kesetaraan menjadi pembuktian kapasitas. Perempuan tidak lagi hanya butuh diakui, tetapi butuh ruang untuk berdampak dan berperan tanpa dibayangi stigma.

"Inti emansipasi itu sederhana: saat perempuan punya kesempatan yang sama untuk tumbuh dan melahirkan manfaat bagi sesama," ungkap Dini saat berbincang mengenai makna perjuangan gender.

Dalam refleksinya, Dini membedah dua kutub kekuatan perempuan Indonesia. Kartini adalah simbol kekuatan gagasan sang pembuka gerbang yang berani berpikir melampaui zamannya. Tanpa keberanian literasi Kartini, akses pendidikan dan kepemimpinan perempuan hari ini mungkin masih menjadi angan-angan.

Namun, gagasan saja tidak cukup. Dini menoleh pada sosok Laksamana Malahayati sebagai penyeimbang. Jika Kartini adalah strategi, Malahayati adalah eksekusi.

Baca juga: Khofifah Lepas Kloter Pertama Jemaah Haji Embarkasi Surabaya 2026

"Malahayati mengajarkan bahwa perempuan tidak hanya kuat secara batin, tapi juga tangguh dalam tindakan nyata. Dia membuktikan bahwa garis depan bukan tempat yang asing bagi kita," tambah alumnus FISIP Unair tersebut.

Refleksi ini menemukan bentuknya yang paling mutakhir pada sosok Khofifah Indar Parawansa. Di mata Ketua DPD NasDem Kabupaten Probolinggo ini, Khofifah adalah bukti hidup bahwa kepemimpinan perempuan memiliki keunikan tersendiri.

Ada perpaduan antara ketegasan manajerial dan kelembutan empati yang membuat kebijakan seringkali lebih menyentuh akar rumput.

Baca juga: Kiswah Syekh Abdul Qadir Jailani Dipamerkan di Masjid Al Akbar Surabaya

Bagi Dini, tugas generasi sekarang bukan lagi merintis jalan setapak yang dulu dibuka oleh para pendahulu. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana mengisi ruang yang sudah terbuka itu dengan integritas.

Refleksi ini menjadi pengingat bahwa menjadi perempuan berdaya adalah tentang keberanian untuk tampil, mengambil keputusan, dan tetap mengedepankan sisi kemanusiaan dalam setiap langkah politik maupun sosial. Tanpa itu, emansipasi hanya akan menjadi jargon yang kehilangan ruhnya.

Editor : Ali Masduki

Tretan JatimNow
Berita Terpopuler
Berita Terbaru