jatimnow.com - Pembukaan gerai kedua Common Grounds di Surabaya langsung menyedot perhatian penikmat kopi. Program Behind The Bar yang menghadirkan barista berprestasi dunia membuat pengunjung memadati outlet di Jalan Kombes Pol M Duryat, Selasa (21/4/2026).
Nama Bayu Prawiro menjadi magnet utama. Juara Indonesia Brewers Cup 2025 sekaligus runner-up World Brewers Cup 2025 itu meracik kopi langsung di hadapan pengunjung. Aksi tersebut memberi pengalaman langka bagi coffee addict yang ingin mencicipi standar racikan kelas dunia tanpa harus keluar negeri.
Baca juga: Puluhan Barista di Blitar Ikuti Lomba Menyeduh Kopi Manual
Selama dua hari, Bayu membawa dua biji kopi asal Ecuador dengan karakter berbeda. Keduanya berasal dari spesies Arabika, tetapi varietas Typica Majorado dan Sidra menghadirkan profil rasa kontras.
“Typica Majorado punya karakter elegan dan floral, ringan seperti teh bunga. Sementara Sidra lebih fruity dengan keasaman yang lebih terasa, lebih bright, dan proses roasting-nya sedikit lebih tinggi,” ujar Bayu.
Keunikan lain datang dari asal kopi yang masih satu keluarga. Typica Majorado diolah oleh Jose Jijon dan Francisco Vintimilla, sedangkan Sidra diproses oleh ayah mereka, Pepe Jijon.
“Dari satu negara, bahkan satu keluarga, hasilnya bisa sangat berbeda. Itu yang saya ingin tunjukkan ke pengunjung,” katanya.
Antusiasme terlihat sejak pagi. Puluhan pengunjung mengikuti sesi private profiling sebelum sesi utama berlangsung pukul 11.00 hingga 15.00 WIB. Banyak yang baru pertama kali mencoba filter coffee tanpa campuran susu.
Baca juga: Synchroma Fest 2026 di Surabaya, Ruang Temu Kopi, Musik, dan Edukasi
Bayu ingin memperluas cara menikmati kopi hitam, terutama bagi pemula. “Filter coffee bisa jadi pintu masuk. Teksturnya ringan, tidak terlalu kuat, jadi lebih mudah dinikmati,” ujarnya.
Di balik panggung, Bayu sebenarnya bukan barista penuh waktu. Ia menjabat Head of Creative di Common Grounds dan menangani produksi visual serta konten. Dunia kopi ia tekuni sebagai passion hingga mengantarkannya ke panggung internasional.
Owner Common Grounds, Samuel Lie, menyebut program Behind The Bar sebagai cara menghadirkan pengalaman langsung kepada pelanggan sekaligus membuka akses edukasi kopi.
“Acara pembuka kami memang ingin kembali ke kopi. Kami tampilkan orang-orang dengan prestasi agar pengunjung bisa merasakan kualitas yang biasa ada di kompetisi dunia,” kata Samuel.
Baca juga: Arek Suroboyo Taklukkan Bali, Fendik Kiswanto Juara MILKLAB Barista Battle 2025
Kehadiran gerai di pusat kota juga menyasar kebutuhan ruang produktif. Kawasan tersebut dinilai cocok bagi pekerja, pelaku bisnis, hingga komunitas yang membutuhkan tempat bertemu.
Common Grounds membawa kombinasi biji kopi lokal dan internasional untuk memperkuat posisinya di pasar Surabaya. Dengan sejumlah barista berprestasi di level global, mereka membidik segmen penikmat kopi yang mencari pengalaman lebih dari sekadar minuman.
Samuel yakin pasar Surabaya siap menyerap konsep tersebut. “Kami ingin tempat ini jadi tujuan bagi siapa saja, dari anak muda sampai profesional, yang ingin menikmati kopi dengan standar dunia,” ujarnya.
Editor : Ali Masduki