Jangan Terjebak Klenik, Begini Cara Elegan Membaca Narasi Hidup Lewat Tarot

Reporter : Ali Masduki
Tarot Reader asal Surabaya, Deasy Arista atau Desta. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

jatimnow.com - Di tangan seorang praktisi yang tepat, 78 lembar kartu tarot bukan lagi sekadar alat ramal atau benda klenik.

Bagi Deasy Arista, atau yang akrab disapa Desta, puluhan kartu tersebut merupakan media untuk menceritakan kembali narasi hidup manusia yang sering kali carut-marut.

Baca juga: Psikolog Unair Ungkap Alasan Tarot Populer di Generasi Z

Selama dua dekade menyelami dunia tarot, Desta melihat pergeseran cara pandang masyarakat.

Jika dulu tarot identik dengan hal-hal mistis, kini metodenya berkembang menjadi instrumen untuk membaca energi dan pola kehidupan.

Menurut tarot reader 
Surabaya itu, kartu adalah cermin bagi mereka yang sedang mencari arah atau sekadar butuh penguatan mental.

"Bagi saya, kartu tarot adalah alat untuk membaca narasi kehidupan. Jika ada yang menyebutnya klenik, itu sah-sah saja. Namun, pengalaman saya membuktikan bahwa tarot lebih ke arah membaca pola hidup seseorang melalui instrumen energi tubuh yang dipadukan dengan tebaran kartu," ungkapnya saat berbagi perspektifnya di Surabaya, Minggu (12/4).

Antara Logika dan Ketajaman Intuisi

Banyak yang bertanya, apakah menjadi pembaca tarot harus memiliki indra keenam (sixth sense)? Desta membedahnya ke dalam dua pendekatan.

Pertama, pendekatan logika murni dengan menghafal simbol dari 22 kartu Major Arcana dan 56 kartu Minor Arcana.

Kedua, pendekatan intuisi yang diperkuat dengan "asupan gizi" berupa literasi dan pengalaman hidup.

Seorang pembaca yang hanya mengandalkan hafalan buku panduan mungkin akan kaku dalam bertutur.

Sebaliknya, pembaca yang menggunakan intuisi mampu menyentuh sisi emosional, terutama bagi klien yang memiliki jiwa yang sedang rapuh.

"Kita tidak bisa hanya menggunakan logika. Poin utamanya adalah mendengarkan suara batin dan membaca pola tebaran. Ada perbedaan besar saat kita menerangkan sesuatu kepada mereka yang butuh asupan semangat sesuai porsinya," tambahnya.

Ritual Kopi dan Kedalaman Menulis

Bagi Desta, proses membaca tarot tidak bisa instan. Belajar tarot bukan perkara kursus kilat 14 hari, melainkan perjalanan seumur hidup.

Untuk mendukung proses kreatif dan ketajaman batinnya, ia melibatkan dua elemen lain: kopi dan menulis.

Kopi baginya bukan sekadar minuman, melainkan ritual harian dengan filosofi mendalam.

Sebelum bertutur melalui kartu, seorang pembaca harus "haus" akan ilmu pengetahuan untuk menciptakan keunikan dalam setiap sesi konsultasi.

"Milikilah asupan gizi sesuai cita rasa dirimu. Rasakan kehausan akan ilmu, maka kamu akan memiliki keunikan yang dituangkan dalam secangkir kesadaran saat bertutur," jelas Desta.

Melalui tulisan, ia kemudian merangkai pesan-pesan dari simbol api (wand), air (cups), udara (swords), dan bumi (pentacles) menjadi sebuah karya.

Menulis menjadi ruang bagi Desta untuk mengabadikan kisah hidup manusia dalam perjalanannya menuju kualitas hidup yang lebih baik.

Bagi Desta, selama napas masih melekat, belajar memahami manusia lewat tarot adalah tugas yang tak kunjung usai.

Editor : Ali Masduki

Tretan JatimNow
Berita Terpopuler
Berita Terbaru