jatimnow.com - Unjuk rasa para massa aksi dalam menyampaikan aspirasi biasa membawa poster sebagai tuntutan mereka dalam tulisan.
Namun hal tersebut berbeda saat polisi yang bertugas menjaga demo buruh di DPRD Jawa Timur membawa poster unik.
Baca juga: Polda Jatim Bongkar Sindikat Jual Beli OTP Ilegal, Untung Hingga Rp1,2 Miliar
Pantauan di lokasi, para polisi wanita (polwan) dan polisi laki-laki (polki) membentangkan berbagai poster di hadapan para demonstran. Berbagai kata-kata unik dibubuhkan dalam poster tersebut.
Poster-poster unik itu bertuliskan ajakan agar saat menyampaikan aspirasi tidak berbuat rusuh. Seperti 'Buruhku anti kisruh', 'Wong sabar rejekine jembar, demo ayem urip tentrem' (Orang sabar rezekinya dimudahkan, demo damai hidup tentram).
Ada juga poster mendoakan rezeki lancar hingga ajakan selfie dengan polwan. 'Sing tenang engkok oleh selfi karo aku' (Yang tenang nanti bisa selfie sama aku).
Hal menarik lainnya berupa tulisan lain bergaya pantun hingga doakan untuk cepat berjodoh.
Baca juga: Polda Jatim Ringkus 11 Tersangka Sindikat Penipuan Segitiga Jual Beli Mobil
'Onok trisno nang njero dodo, iki suroboyo ayo dijogo' (Ada cinta di dalam dada, ini Surabaya ayo di jaga), 'Sing jomlo, tak dungakno cepet oleh jodo' (Yang jomblo, tak doakan cepat dapat jodoh).
Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera mengatakan bahwa polwan sengaja diletakkan di garda paling depan untuk memberikan kesejukan dalam pengamanan unjuk rasa buruh di DPRD Jatim.
Baca juga: Tim Gabungan Polda Jatim Periksa Senpi Dinas di Polres Tulungagung
"Itu adalah upaya kami memberikan kesejukkan dalam rangka memberikan pengamanam unjuk rasa. Faktor psikologi itu penting dalam rangka memberi kesejukan," katanya saat ditemui di lokasi.
Barung menyebut jika model pengamanan seperti ini sengaja dilakukan dan pertama kali ada di Surabaya dalam naungan Polda Jatim.
"Ini pertama kali dan itu inisiatif Kapolda Jatim. Ini pasukan polwan ada 40, Asmaul Husna ada 80. Mereka akan memberikan rasa humanis, psikologis dan pelayanan yang berbeda," jelasnya.
Editor : Sandhi Nurhartanto