jatimnow.com - Raksasa bahan bangunan pelat merah, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG), mulai memetik hasil dari pergeseran model bisnis menuju ekonomi sirkular. Tidak lagi sekadar memproduksi semen, emiten berkode SMGR ini sukses mengonversi ratusan ribu ton limbah menjadi energi panas, sekaligus memangkas ketergantungan pada batu bara secara signifikan.
Langkah ini bukan sekadar upaya menjaga ekosistem, melainkan strategi menjaga stabilitas operasional di tengah fluktuasi harga energi fosil.
Baca juga: Proyek Rp1,4 T SIG Tuntas, Kapasitas Ekspor Tembus 1 Juta Ton
Sepanjang tahun 2025, SIG mencatat lonjakan pemanfaatan bahan bakar alternatif sebesar 24 persen atau setara 681 ribu ton. Material ini berasal dari limbah industri, biomassa, hingga sampah perkotaan yang diproses menjadi refuse-derived fuel (RDF).
Dampaknya terasa langsung pada struktur biaya energi. Penggunaan limbah tersebut berhasil menggantikan peran 467 ribu ton batu bara dalam proses produksi. Angka ini mendorong rasio substitusi energi panas (thermal substitution rate) perusahaan naik menjadi 9,77 persen.
Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, mengungkapkan bahwa penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) kini menjadi mesin inovasi baru bagi perusahaan. Menurutnya, keberlanjutan bukan lagi beban biaya, melainkan keunggulan bersaing untuk memperkuat ketahanan bisnis.
"Kami membuktikan bahwa kinerja lingkungan yang baik berbanding lurus dengan ketangguhan operasional. Inisiatif ini tidak hanya mengurangi emisi, tetapi juga menghadirkan nilai ekonomi baru bagi masyarakat, seperti petani yang memasok biomassa," tutur Vita.
Baca juga: Penjualan Naik, SIG Raup Pendapatan Rp8,29 Triliun
Selain mengolah sampah menjadi api, SIG memperluas bauran energi bersih melalui instalasi panel surya dan teknologi Waste-Heat Recovery Power Generation (WHRPG). Teknologi ini bekerja dengan menangkap panas buang dari proses pabrik untuk kemudian diubah menjadi energi listrik.
Hasilnya, intensitas emisi gas rumah kaca (GRK) lingkup 1 menyusut 21 persen dibandingkan basis data tahun 2010. Sementara pada emisi lingkup 2, penurunan mencapai 15 persen dari posisi tahun 2019.
Di sisi lain, tanggung jawab pascatambang juga menjadi sorotan. Hingga pengujung 2025, SIG telah merestorasi 628 hektare lahan bekas tambang di berbagai wilayah operasionalnya. Langkah pemulihan ekosistem ini mengantarkan perusahaan menyabet enam penghargaan PROPER Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup.
Baca juga: Inovasi Mobil Dodit Bawa Tim Spektronics ITS Rajai Podium Malaysia
Transformasi ini menandai ambisi SIG untuk memimpin pasar bahan bangunan di kawasan regional dengan cara yang lebih efisien.
Sebagai pemegang 51 persen saham oleh Pemerintah RI, SIG kini mengonsolidasikan kekuatan enam anak usahanya, termasuk Semen Padang, Semen Gresik, hingga Thang Long Cement di Vietnam untuk menyeragamkan standar industri hijau yang bertanggung jawab.
Editor : Ali Masduki