jatimnow.com - Mahasiswa Ubaya menghadirkan solusi fesyen ramah lingkungan lewat tas berbahan serabut kelapa. Produk tersebut tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga bisa terurai alami bahkan ditanam kembali, menjawab tantangan industri mode yang kerap membebani lingkungan.
Empat mahasiswa Program Desain Fashion dan Produk Lifestyle Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya mengembangkan tas berbasis serabut kelapa sebagai alternatif pengganti bahan kulit. Mereka adalah Emily Jocelyn, Johan Febriawan, Tutik Masruroh, dan Jibrail Fajar.
Baca juga: PGN Pasok Gas Bumi ke RSUP Sardjito, Dorong Green Hospital
Inovasi lahir dari keresahan terhadap dampak industri fesyen yang menghasilkan limbah besar dan mengonsumsi energi tinggi. Tim kemudian mencari bahan yang mudah didapat, kuat, sekaligus memiliki jejak lingkungan lebih rendah.
“Kami memilih serabut kelapa karena Indonesia termasuk produsen besar. Harganya murah, kuat, serta punya motif dan tekstur yang unik,” ujar Johan Febriawan.
Proses produksi tidak berhenti pada pemilihan bahan. Tim meracik perekat dari campuran tepung tapioka, air, dan gliserin untuk menjaga fleksibilitas material. Pendekatan tersebut menjaga seluruh komponen tetap ramah lingkungan.
Serabut kelapa diolah menjadi lembaran melalui proses pelapisan perekat di kedua sisi, lalu dikeringkan sebelum dijahit menjadi tas. Untuk menambah nilai guna, tas dilengkapi gantungan berisi lima jenis biji bunga, yakni matahari, celosia, anyelir, forget me not, dan baby’s breath.
Baca juga: Tren Kecantikan 2026, Rever Academy Surabaya Rilis Gaya Ikonik
Konsep tersebut membuka kemungkinan baru dalam siklus hidup produk fesyen. Saat tas tidak lagi digunakan, materialnya dapat terurai di tanah, sementara biji bunga yang tertanam berpotensi tumbuh.
“Kami memastikan bahan perekat tetap aman bagi lingkungan. Ketika tas sudah rusak, produk bisa ditanam dan terurai secara alami, lalu bibit bunganya dapat tumbuh,” kata Johan.
Dalam proses pengembangan, tim menghadapi kendala teknis. Pengeringan material masih bergantung pada sinar matahari, sehingga produksi melambat saat musim hujan. Selain itu, penyatuan lembaran masih dilakukan dengan jahit tangan, yang membutuhkan waktu dan ketelitian tinggi.
Baca juga: Mahasiswa FIK Ubaya Sabet Tiga Gelar di Asian Student Fashion Week 2026
Meski belum masuk tahap produksi massal, karya tersebut membuka peluang baru bagi industri kreatif. Pemanfaatan limbah serabut kelapa memberi alternatif bahan baku lokal yang selama ini belum dimaksimalkan.
Inisiatif mahasiswa Ubaya tersebut memberi pesan sederhana, bahan ramah lingkungan tersedia di sekitar, tinggal bagaimana keberanian untuk mengolahnya menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan.
Editor : Ali Masduki