jatimnow.com - Jika di belahan bumi lain suara ledakan identik dengan kepanikan, di Tanah Pasundan, khususnya saat Ramadan, suara dentuman menggelegar justru memicu tawa dan sorak-sorai. Suara dentuman biasanya muncul dari lodong atau meriam bambu yang dinyalakan bersahutan dalam tradisi Ngadu Lodong.
Bagi masyarakat Sunda, lodong atau meriam bambu bukan sekadar mainan penghasil suara bising, melainkan sebuah tradisi turun-temurun. Tradisi ini membawa semangat kebersamaan dan kegembiraan dalam menyambut bulan suci hingga Hari Raya Idulfitri.
Baca juga: Sekum PP Muhamadiyah di UMM: Jadikan Ramadan Momen Berkontribusi Sosial
Lodong terbuat dari batang bambu berukuran besar dengan panjang sekitar 1,5 hingga 2 meter. Bahan dasar biasanya menggunakan bambu jenis gombong.
"Ada juga yang pakai pohon jambe atau pohon aren biar suaranya lebih menggelegar. Tapi karbitnya memang lebih boros," kata Endang (74) kepada jatimnow.com, Jumat (20/3/2026).
Bagian dalam ruas bambu dilubangi agar menyatu, menyisakan bagian ujung sebagai alas. Untuk menghasilkan suara ledakan yang dahsyat, masyarakat tradisional zaman dahulu menggunakan minyak tanah dan garam. Namun di era modern, karbit (kalsium karbida) dan air lebih sering digunakan karena suaranya jauh lebih nyaring.
Istilah ngadu sendiri berarti mengadu atau bertanding. Antarkampung atau antarkelompok pemuda biasanya saling bersahutan menyalakan lodong. Pemenangnya tidak dinilai dari piala, melainkan dari siapa yang mampu menghasilkan suara paling keras, paling bulat, dan bambunya tidak pecah saat diledakkan.
Lebih dari sekadar permainan pengisi waktu luang (ngabuburit), tradisi Ngadu Lodong menyimpan nilai-nilai filosofis dan historis yang mendalam.
Baca juga: Video: Mbah Satimah dan Becak Tua
Membuat sebuah lodong yang bagus tidak bisa dilakukan sendiri. Mulai dari mencari bambu terbaik di kebun, menebang, memikulnya ke kampung, hingga meracik karbit membutuhkan kerja sama (gotong royong). Tradisi ini secara tidak langsung merekatkan tali persaudaraan antarwarga, khususnya para pemuda.
Dentuman lodong dianggap sebagai bentuk ekspresi suka cita menyambut Ramadan dan kemenangan lebaran Idulfitri. Suaranya yang menggema melambangkan semangat umat Islam yang membara dalam menjalankan ibadah.
Secara historis, sebelum menjadi tradisi Ramadan, bunyi-bunyian keras dari bambu ini digunakan oleh para petani Sunda untuk mengusir binatang buas atau hama babi hutan dari ladang mereka.
Dalam perkembangannya, mitos lokal juga sempat mengaitkan suara keras ini sebagai penolak bala atau pengusir roh jahat sebelum akhirnya berasimilasi sepenuhnya dengan perayaan Islam kultural.
Baca juga: Kisah Mbah Satimah dan Becak Tua Peninggalan Suami Tercinta
Saat ini, eksistensi Ngadu Lodong mulai tergeser oleh maraknya petasan pabrikan atau kembang api yang lebih praktis.
"Kan sekarang mah ada yang lebih mudah. Tinggal beli petasan, nyalakan, udah bisa dinikmati. Tapi tetep aja gak seseru ngadu lodong," ucap Endang.
Meski demikian, di wilayah perdesaan seperti di Garut, Tasikmalaya, Sumedang, hingga pinggiran Bandung, Ngadu Lodong masih dipertahankan. Tokoh masyarakat dan pemerintah desa setempat biasanya mengarahkan kegiatan ini agar dilakukan di area terbuka seperti area persawahan kering atau lapangan luas untuk memastikan keamanan bersama.
Editor : Dadang Kurnia