Audit Sampah Ungkap Sachet Kuasai Limbah Rumah Tangga Batu

Reporter : Ali Masduki
Relawan berpartisipasi dalam kegiatan brand audit sampah kemasan sachet di Kota Batu. (Foto: Toni for jatimnow.com)

jatimnow.com - Sampah kemasan sachet kian mendominasi limbah rumah tangga di Kota Batu. Hasil brand audit di TPS3R Jalibar Berseri, Desa Oro-Oro Ombo, menunjukkan sebagian besar timbulan berasal dari produk sekali pakai seperti sabun, sampo, deterjen, hingga minuman instan.

Kondisi tersebut mendorong perubahan ke pola isi ulang (refill system) agar beban sampah berkurang dari sumbernya.

Baca juga: Kampung SIBA KLASIK Gresik Terapkan Kurban Minim Sampah

Sebanyak 30 relawan dari TPS3R Jalibar Berseri, kader PKK Desa Oro-Oro Ombo, dan tim percepatan pengelolaan sampah DLH Kota Batu terlibat dalam pemilahan dan pencatatan sampah.

Mereka mengelompokkan kemasan berdasarkan jenis dan merek, lalu menghitung jumlahnya untuk memetakan sumber utama limbah.

Hasil pencatatan menunjukkan, Tanobel menjadi penyumbang terbesar dengan 774 kemasan. Di bawahnya, Mayora mencatat 300 kemasan, Wings 274, dan Danone 273.

Indofood menyusul dengan 212 kemasan, Santos Jaya Abadi 143, serta P&G 132. Kontribusi lain datang dari Unilever (63), Ultrajaya (61), dan Ajinomoto (51).

Temuan tersebut memperlihatkan kebiasaan konsumsi masyarakat masih bergantung pada kemasan kecil sekali pakai. Dampaknya, volume residu meningkat karena sachet sulit didaur ulang dan nyaris tak memiliki nilai jual.

Ony Dwi Setyowati, anggota Pokja 4 PKK Desa Oro-Oro Ombo, mengaku baru pertama kali mengikuti brand audit. Ia terkejut melihat jumlah sampah bermerek yang terkumpul.

“Ini pertama kali saya ikut brand audit. Saya jadi belajar mengenali dan mendata merek kemasan plastik sekali pakai. Ternyata jumlahnya sangat banyak,” ujarnya.

Ketua TPS3R Jalibar Berseri, Titik Setyowati, menyebut kegiatan tersebut memberi gambaran nyata pola konsumsi warga sekaligus menyumbang data penting untuk riset pengelolaan sampah.

Baca juga: Mahasiswa Jatim Kampanyekan Kali Tebu Bebas Sampah Popok

“Brand audit sangat bermanfaat. Kami jadi tahu produk apa yang paling banyak digunakan. Mayoritas berbentuk sachet yang sulit didaur ulang, tidak laku dijual, dan akhirnya jadi residu,” katanya.

Ia berharap penggunaan sachet dapat ditekan. “Kalau memungkinkan, kemasan sachet dikurangi. Bisa diganti dengan wadah yang dapat dipakai ulang atau didaur ulang, misalnya botol,” tambahnya.

Dari hasil audit, sejumlah langkah mulai didorong. Warga diarahkan beralih ke kemasan isi ulang atau ukuran besar yang lebih hemat dan ramah lingkungan.

Di tingkat desa, layanan refill diusulkan agar akses lebih dekat. Produsen juga didorong menghadirkan kemasan yang dapat digunakan kembali atau mudah diproses ulang.

DLH Kota Batu ikut mengingatkan pentingnya perubahan perilaku konsumsi. Eni Maulidiyah mengajak masyarakat mengurangi ketergantungan pada sachet.

Baca juga: Warga Surabaya Diminta Stop Buang Popok ke Kali Tebu, Ini Bahayanya

“Melalui kegiatan ini, masyarakat bisa melihat sendiri banyaknya sampah anorganik dari produk sehari-hari. Penggunaan sachet bisa ditekan dengan membeli dalam ukuran besar atau secara curah, sehingga sampah kemasan tidak menjadi residu,” ujarnya.

Dorongan kebijakan dari pemerintah daerah dinilai krusial, termasuk pembatasan bertahap produk sachet dan penguatan edukasi publik.

Kolaborasi antara warga, pelaku usaha, dan pemerintah menjadi kunci agar pengurangan sampah berjalan konsisten.

Data dari brand audit tersebut diharapkan tak berhenti sebagai arsip, melainkan menjadi pijakan perubahan menuju sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan di Kota Batu.

Editor : Ali Masduki

Tretan JatimNow
Berita Terpopuler
Berita Terbaru