jatimnow.com - Tradisi saling mengunjungi dan bermaaf-maafan di bulan Syawal kerap terjebak dalam rutinitas tahunan yang hambar.
Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Timur, Ulul Albab, mengingatkan masyarakat bahwa silaturrahmi memiliki bobot spiritual yang jauh lebih besar daripada sekadar jabatan tangan formal.
Baca juga: Stikes Maharani Malang Edukasi Pelajar Lawan Cyberbullying
Menurutnya, tindakan ini merupakan ibadah hati yang menjadi penentu apakah seseorang benar-benar berhasil meraih cahaya Ramadan atau justru merugi.
Ulul Albab menuturkan bahwa tantangan terbesar dalam menyambung tali persaudaraan saat ini bukan lagi soal jarak geografis, melainkan hambatan ego dan gengsi.
"Bukanlah penyambung silaturrahmi sejati mereka yang hanya membalas kebaikan, tetapi mereka yang berani merajut kembali hubungan yang sempat terputus," ujarnya merujuk pada hadits riwayat Bukhari.
Di tengah dinamika kehidupan modern yang serba cepat, banyak orang merasa hampa meski secara materi tercukupi. Ulul menilai silaturrahmi adalah solusi atas kelangkaan keberkahan tersebut.
Melalui hubungan yang harmonis, seseorang tidak hanya dijanjikan kelapangan rezeki, tetapi juga ketenangan batin yang tidak dapat dibeli.
"Kita sering memiliki banyak hal, namun jarang merasa cukup. Silaturrahmi hadir untuk menghadirkan ketenangan yang melampaui ukuran materi," ungkap Ulul.
Baca juga: Dimanakah Ibukota Indonesia yang Sebenarnya?
Ketua ICMI Jatim ini juga menyoroti fenomena media sosial yang kini justru sering memicu perpecahan.
Ia menyayangkan betapa mudahnya kata-kata kasar dan prasangka tersebar di platform digital, yang seharusnya menjadi alat penyambung komunikasi.
Menurutnya, sangat ironis jika seseorang mampu menahan lapar selama sebulan penuh, namun gagal menjaga lisan dan empati setelah Ramadan usai.
Kedewasaan seseorang dalam beragama justru terlihat dari caranya memperlakukan sesama manusia.
Baca juga: Harga Tiket Umrah Meroket, AMPHURI Desak Pemerintah Turun Tangan
Memasuki bulan Syawal, Ulul mengajak masyarakat untuk menjadikan momen ini sebagai titik balik. Ia mendorong setiap individu untuk menyapa kembali kawan lama yang terdiam dan mendatangi kerabat yang menjauh.
"Tanda keberhasilan Ramadan adalah saat hati kita menjadi lebih lapang, lembut, dan mudah memaafkan. Silaturrahmi adalah cermin dari iman tersebut," pungkasnya.
Dengan merawat hubungan baik sepanjang usia, diharapkan cahaya Ramadan tetap menyala dalam kehidupan nyata, bukan sekadar menjadi kenangan musiman.
Editor : Ali Masduki