jatimnow.com - Idul Fitri, atau Hari Raya Lebaran, merupakan salah satu momen paling penting dalam kehidupan umat Islam di Indonesia.
Pada saat ini, masyarakat Muslim merayakan berakhirnya bulan suci Ramadan melalui tradisi silaturahmi, saling mengunjungi, bermaaf-maafan, dan mempererat hubungan sosial.
Baca juga: Raperda Keolahragaan Jawa Timur dan Ujian Tata Kelola Olahraga yang Berkeadilan
Dalam perspektif sosiologi dan antropologi, Lebaran tidak hanya dipahami sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai mekanisme efektif untuk reintegrasi sosial dan rekonsiliasi.
Setelah satu tahun dipenuhi kesibukan pribadi maupun potensi konflik, Idul Fitri berfungsi sebagai “tombol reset” kultural-teologis, di mana sekat-sekat ego mencair dan digantikan oleh semangat saling memaafkan yang memperkuat ikatan antarindividu dan kelompok.
Penelitian kualitatif di Desa Pagar Gunung, Kaur, Bengkulu (2025) menunjukkan bahwa tradisi silaturahmi saat Idul Fitri berperan signifikan dalam menyelesaikan konflik serta membangun harmoni sosial.
Berlandaskan Q.S. Al-Hujurat:10, silaturahmi terbukti meningkatkan rasa kebersamaan dan memiliki peran penting dalam rekonsiliasi, meskipun di tengah arus modernisasi terdapat kecenderungan sebagian masyarakat merayakan Lebaran secara terbatas dalam lingkup keluarga inti.
Sejalan dengan itu, Fathorrahman Ghufron dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menegaskan bahwa Idul Fitri merupakan momentum strategis untuk rekonsiliasi sosial, di mana berbagai gesekan melebur dalam suasana kesatupaduan yang tenteram.
Makna “kembali suci” mendorong individu membersihkan diri dari egoisme dan polarisasi, termasuk yang dipicu oleh interaksi di media sosial.
Secara antropologis, Idul Fitri membentuk suatu “ritual kompleks” yang mengintegrasikan simbol, praktik sosial, dan nilai budaya.
Tradisi seperti mudik, halal bihalal, serta simbol ketupat sebagai lambang pemurnian dan pakaian baru sebagai tanda pembaruan moral, menunjukkan bahwa Lebaran merupakan institusi budaya yang menjaga kohesi sosial dan identitas keagamaan di tengah perubahan zaman.
Perspektif klasik dari para pemikir seperti Geertz, Turner, dan Durkheim menegaskan bahwa ritual kolektif mampu menciptakan collective effervescence, yaitu perasaan kebersamaan yang memperkuat solidaritas sosial.
Tradisi silaturahmi juga memiliki dimensi rekonsiliatif yang kuat. Interaksi sosial yang intens, seperti kunjungan keluarga dan tetangga, berperan dalam membangun kembali kepercayaan serta jaringan sosial yang mungkin melemah akibat konflik atau kesibukan sehari-hari.
Dalam konteks ini, Lebaran menjadi “ritual reset sosial” yang memungkinkan perbaikan hubungan tanpa tekanan stigma.
Mudik menjadi salah satu praktik penting yang memperkuat jaringan kekerabatan dan identitas asal-usul. Sementara itu, halal bihalal berfungsi sebagai mekanisme rekonsiliasi sosial yang khas.
Dari sudut pandang sosiologi agama, mudik merupakan habitus yang tidak tergantikan oleh interaksi digital.
Penelitian di Jurnal Sociologie Universitas Lampung (2023) menggambarkan mudik sebagai bentuk penyempurnaan ibadah yang mencerminkan religiusitas sekaligus solidaritas mekanik.
Baca juga: Transisi Kepemimpinan, Herald Ditunjuk sebagai Plt Ketua DPC GMNI Surabaya
Data Kementerian Perhubungan menunjukkan peningkatan jumlah pemudik dari sekitar 18 juta pada 2019 menjadi 123,8 juta pada 2023, menegaskan bahwa interaksi tatap muka tetap menjadi kebutuhan mendasar dalam membangun solidaritas sosial.
Interaksi sosial selama Lebaran berlangsung dalam dua ranah. Pada tingkat lokal, kegiatan seperti salat Id di masjid atau lapangan, sungkeman, salaman antargenerasi, serta tradisi open house menciptakan ruang inklusif yang mampu meruntuhkan sekat-sekat sosial.
Sungkeman, misalnya, mengandung nilai penghormatan, kepatuhan, rasa syukur, dan penguatan silaturahmi.
Pada tingkat nasional, mudik berkontribusi pada redistribusi perhatian, kasih sayang, dan ekonomi hingga ke pelosok daerah, sehingga menjaga keseimbangan sosial dan memperkuat identitas kebangsaan.
Atmosfer rekonsiliasi sebenarnya telah terbangun sejak akhir Ramadan melalui zakat fitrah dan sedekah.
Zakat fitrah memiliki dimensi ekonomi yang signifikan, karena berkontribusi dalam mengurangi ketimpangan sosial, meningkatkan daya beli masyarakat kurang mampu, serta menggerakkan ekonomi lokal.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa zakat berperan dalam pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan, sehingga memperkuat solidaritas sosial menjelang puncak perayaan Idul Fitri.
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak terlepas dari potensi konflik. Tanpa adanya momen seperti Lebaran, konflik kecil berpotensi berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Baca juga: Ikut Halalbihalal, Tiga Sivitas ITS Surabaya Dapat Hadiah Umroh
Idul Fitri menyediakan ruang kultural dan teologis untuk merendahkan hati, meminta maaf tanpa rasa malu dan memberi maaf tanpa merasa kalah.
Penelitian cross-sectional pada 512 responden Muslim (2026) menunjukkan bahwa kecerdasan emosional dan integrasi sosial berpengaruh signifikan terhadap praktik saling memaafkan dalam tradisi halal bihalal, sekaligus memperkuat kohesi sosial.
Dimensi lintas agama turut memperkaya makna Lebaran di Indonesia. Di berbagai daerah, masyarakat non-Muslim turut berpartisipasi dalam suasana perayaan, baik dengan berkunjung, membantu pengamanan, maupun menunjukkan sikap toleransi.
Hal ini mencerminkan semangat kebersamaan dalam keberagaman yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.
Dengan demikian, Idul Fitri bukan sekadar perayaan keagamaan atau tradisi pulang kampung. Ia merupakan “bengkel sosial tahunan” yang memperbaiki hubungan yang retak, mempererat kembali silaturahmi, dan menghapus residu konflik.
Lebaran menjadi fondasi penting bagi ketahanan sosial bangsa, menjaga keutuhan masyarakat dalam balutan empati, toleransi, dan solidaritas.
Oleh karena itu, nilai-nilai yang terkandung dalam Idul Fitri seharusnya tidak berhenti pada perayaan semata, melainkan terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari demi mewujudkan kemaslahatan bersama di tengah tantangan modernitas.
Oleh: Sulthoni Edgar Diponegoro.
Pemerhati Budaya Kewarganegaraan (Civic Culture) dan Alumni GMNI Surabaya
Editor : Ali Masduki